Jumat, 12 Desember 2014

Delonix Regia BAB IV



"Pagi Rere…"
"Pagi Lisa…" sapaku pada teman sebangkuku. Hari ini Kayla duduk di paling belakang. Maklum sekarang pelajaran Kimia, dan dia belum hapal tabel periodik golongan utama. Padahal tetap aja mau duduknya di luar juga pasti kena sama yang namanya Bu Irna yang terkenal galak ini.
Aku sendiri pun bukan karena sudah hapal betul dengan unsur kimia golongan utama ini lantas duduk di depan. Karena sudah tak ada lagi bangku kosong, jadi terpaksa nerimo nasib.
Sambil komat kamit aku terus menghapal,"….Beli Mangga Cari Sisir Baru dan Rapi…." rumus kirata ini sangat membantu. Dikira-kira tapi nyata heheh…., arti kata-kata di atas tak lain adalah Be, Mg, Ca, Sr, Ba dan Ra, alias golongan IIA.
Belum juga selesai menghapal, sang Master sudah datang.
"Pagi anak-anak…" sambil masuk kelas Bu Irna menyapa kami.
"Pagi Buuuu…." koor anak-anak seakan mengeluarkan rasa gugup dan kesal mereka yang masih belum hapal juga.
Ketua kelas segera memberi komando untuk berdo'a. dalam do'a aku hanya berharap mudah-mudahan aku bisa hapal semua unsur di golongan A ini.
Selesai berdo'a Bu Irna langsung memulai tesnya. Tes lisan dengan menyebutkan unsur golongan utama atau golongan A secara acak tergantung Bu Irna yang menyuruh. Huft…., ini kelemahanku. Kalo diurut dari awal aku kemungkinan hapal, lha ini di acak aku selalu lupa di awal.
"Baik Ryan kamu maju…," giliran sang ketua kelas mendapat undian pertama.
"Semangat Ryan…," ucapku memberi semangat ketika Ryan melewati bangkuku.
Terlihat muka gugup Ryan ketika Bu Irna menyuruhnya untuk menyebutkan unsur golongan VIIIA. Dalam hati aku ikut menghapal unsur golongan VIIIA itu. Begitu seterusnya sampai aku dipanggil.
"Selanjutnya, Delonix Regia….," ini yang membuat semua siswa merasa jantung mau copot berharap nama mereka tidak dipanggil.

*****
Udara segar seakan menyambutku ketika aku keluar dari ruangan. Beban yang menggunung seakan terangkat dan menguap mengikuti hembusan angin.
"Hmmmmm…..," helaan nafasku terdengar mendesah mengeluarkan semua beban.
"Re…, makan yuk!" tanpa ba bi bu lagi Kayla menarik tanganku dan memaksaku mengiringi langkahnya menuju kantin.
 "Sabar dikit dong…"
"Perut gua udah gak bisa nahan sabar lagi. Ujian tadi memaksa cacing-cacing diperutku terus berkicau," langkahnya semakin cepat.
Bangku kantin hampir penuh terisi ketika kami datang ke sana. Untung ada sekelompok kakak kelas yang sudah selesai makannya dan hendak pergi. Segera kami menempati tempata duduk itu. Dan tinggal dua bangku kosong yang tersisa.
"Kay, lu yang pesen biar gua yang jagain nih bangku," padahal dalam hati 'males aja harus pesen' heheh.
"Huh lu mah kebiasaan,  ya udah deh berhubung gua yang maksa lu kesini jadi gua yang pesen. Tapi dengan catatn gua gak bayarin. OK?"
"Iya iya, gih cepetan!"
Daripada bete dengerin sekelompok kakak kelas yang ngomongin cowok  mulu, mendingan dengerin musik di MP3. Untung tadi nih MP3 aku masukin ke saku rok.
Alunan musik mampu menghilangkan penat seusai tes kimia tadi. Suara-suara kakak kelas tak lagi kuhiraukan. Kunikmati saja sejenak alunan lagu yang dinyanyikan suara merdunya Afghan-Terima Kasih Cinta. Lirik demi lirik berlalu hingga tak sadar seseorang duduk di sampingku. Hmmmm…., yup Kayla tampak bete yang mungkin dari tadi tak kuhiraukan. Aku melepas headshet dari telingaku.
"Ups…, kukira gak ada orang hehehe…," berusaha merayu Kayla yang bibirnya manyun hampir lima centi.
"Ini neng pesenannya…," si bibi kantin mengntarkan pesanan kami. Dua gelas jus jeruk  dan dua mangkuk mie ayam siap disantap. Kayla sepertinya tak sabar melihat makanan yang disajikan. "Silahkan Neng!" ujar si bibi sembari  menyodorkan makan itu.
"Makasih ya bi…," ujar kami berbarengan.
"Hmmm…, lazies…. Yuk buruan makan!" Kayla langsung menyantap makanannya.
Aku pun mengikutinya setelah berdo'a. Seger sekali, begitu kuseruput jus jeruknya. 
Kantin tak sepenuh tadi dan ternyata anak-anak kelas XII tak lagi duduk di sampingku. Mungkin mereka sudah selesai. Baguslah.
Aku masih menikmati makananku, dengan tiba-tiba seseorang duduk di sampingku.
"Hmmm…, ini kosong?" suara yang sedikit serak dan halus bertanya kepadaku.
Kepalaku menoleh ke samping dan dua orang kakak kelas berdiri di sampingku meminta dipersilahkan duduk. Yang bertanya padaku aku tak tahu persis namanya. Kulitnya putih, rambutnya agak sedikit berantakan, dengan baju seragam yang sedikit dikeluarkan. Tapi yang satunya aku tahu. Yup, Kak Yudhistira. Ia memilih duduk di samping Kayla. Lha posisi ini yang bikin aku gak nyaman. Membuatku gugup saja. Geer banget si  gua, emang dia bakalan liatin gua makan gitu?
Makanan yang masih ditenggorokan hampir saja tersedak begitu melihatnya. Untung Kayla tahu, ia segera menjawab pertanyaan kakak itu. "Oh, kosong Kak, silahkan!" sambil senyum-senyum gak jelas.
"Oh iya, kenalin gue Randy dan ini temenku Yudhistira," tangannya mengajak bersalaman. Aku pun tak enak dan menyambut perkenalnnya itu.
 "Delonix Regia…." Dari caranya ia memperkenalkan diri dan Kak Yudhistira, aku tahu mungkin ia bukan anak OSIS. Ya, kalo dia anak OSIS ngapain juga ia memperkenalkan Kak Yudhis. Kan tau yang bikin heboh di MOS itu salah satunya gue.
Belum juga merasa lega karena ternyata tidak semua orang tahu kejadian di MOS itu. Ia langsung menyambung perkataannya.
"Ohm…, jadi ini yang namanya Delonix Regia, Dhis?" selorohnya sambil menggoda Kak Yudhis. Jleb, dugaanku salah. Segitu hebohnya ya? Sampai-sampai yang tak ikut MOS juga tahu. Aku hanya tersenyum.
"….." kak Yudhis hanya diam tak menanggapi. Ia hanya tersenyum.
"By the way, namamu siapa?" tanya Kak Randy pada Kayla.
"Kayla…," sapanya ramah semanis mungkin. Huh dasar Kayla liat yang bening dikit aja ngiler.
Dan kami pun sibuk dengan makanan kami masing-masing setelah pesenan mereka datang. Aku dan Kayla selesai makan, ketika makanan mereka masih belum habis.
Sebagai adik kelas yang sopan atau lebih tepatnya berusaha sesopan mungkin karena masih ada rasa segan dan takut. Kami berpamitan.
"Kami duluan ya Kak?" ujar Kayla.
"Ok siip, " ujar Kak Randy. Kak Yudhis hanya tersenyum. Bete kenapa Kak Randy yang jawab. Dia hanya tersenyum mungkin dia masih malu dengan kejadian itu, tapi kenapa waktu dulu ia tak terlihat malu dan gugup, malah sepertinya gentle banget.
Beberapa meter setelah meninggalkan kantin.
"Ecie yang nervous…" goda Kayla. Tangannya menyikutku.
"Idih apaan? Siapa juga yang nervous. Lu tuh yang sok manis, apa-apaan sok senyam-senyum gitu," balasku.
"Itu menandakan kalo gue tuh ramah. Lu tuh yang jutek, gak baik tau. Ntar Kak Yudhis malah jadi ilfeel sama lu," Kayla masih menggodaku.
"Terus aja bahassss….," aku mempercepat langkahku.
Kayla mengejar langkahku dengan masih menggodaku, " Idih ngambek ni ye?"
Teeeeeeeet…, suara bel menjerit menyuruh kami segera masuk. Ini nih gara-gara kimia tadi yang telat istirahatnya. Untungnya udah selesai makan.
*****
Pelajaran seni menyambutku. Dan ini salah satu pelajaran yang tak begitu aku kuasai. Kalo kitanya udah menjudge gak suka pada satu pelajaran maka efeknya walaupun pelajaran itu mudah bahkan santai tetap aja akan memberikan tekanan. Dan buktinya sekarang terjadi padaku. Aku begitu tertekan dengan harus melukis sebuah vas bunga. Ottokie….
****
Hari panas dan kabar buruk kalo sekarang aku harus naik angkot. Lama nunggunya.
"Re gua pulang duluan ya…," Kayla pamitan. Rumahnya berlawanan arah denganku ia juga sama naik angkot.
Kami berdua memang mengenaskan kalo melihat orang lain yang pada dianterin sama pacarnya atau dijemput sama sopirnya. Dan kini aku menunggu mang sopir angkot di pinggir jalan yang panas. Beberapa angkot yang bukan ke arah rumahku tampak mengajakku. Aku hanya menolak dengan gelengan kepala. Udah lelah menunggu, pada kemana sih angkot? Demo? Perasaan gak ada wacana BBM sekarang mau naik.
Hampir 30 menit lebih aku masih menunggu. Memang angkot yang menuju ke arah rumahku terbilang langka kalo lewat jalur ini. Jadi wajib dilindungi. Dan kulihat sekolah sudah tak ramai lagi, sepertinya sudah pada pulang karena lelah dengan kegiatan hari ini.
Tak lama setelah aku menggerutu. Sebuah motor berhenti di depanku. Pengemudinya membuka kaca helmnya.
 "Pulang kemana?" suaranya sangat ku kenal. Aku masih terpaku bingung. Untung segera tersadar dengan suara klakson mobil yang berbunyi.
 "Hmmmm…., Cempaka Indah Kak," suaraku terdengar ragu.
 "Mau bareng? Kebetulan jalurnya sama," ajaknya.
"Gak apa-apa nih Kak? Ntar ada yang marah lagi," tanyaku sedikit bercanda mencairkan suasana.
"Hmmmm siapa? Tenanglah gak ada kok…, naiklah!" tanpa ba bi bu ia menyuruhku naik.
"Ok deh." Aku segera naik ke motornya. Selama perjalanan masih tak ada kata, ia sepertinya serius memperhatikan jalanan dan aku serius memikirkannya. Tadi di kantin ia sangat dingin bahkan tak menyapaku tapi sekarang ia sangat ramah dan perhatian.
Setelah masuk pertigaan ia menanyakan arah padaku. Kami masuk ke perumahan, aku masih mengarahkan jalan. Dan akhirnya kami berhenti di sebuah rumah yang penuh dengan pohon flamboyan yang bermekaran sampai daunnya pun tak terlihat. Memang sekarang musim kemarau dan waktunya flamboyan berbunga.
Aku turun, ia melepaskan helmnya.
"Makasih ya Kak, Kakak mau mampir dulu?" tanyaku walau aku ragu dengan pertanyaannku sendiri. Aku berharap ia tak mampir, aku sudah tak kuat menahan luapan emosi ini. Nervous, seneng, bingung, dan ragu bercampur aduk jadi satu.
"Lain kali aja, sekarang Kak duluan ya…, " nada bicaranya sangat ramah diiringi senyuman. Ia memasangkan kembali helmnya, sejenak ia terhenti. "Oh iya, salam buat orang rumah ya Re," ia pun menjalankan motornya dan menyalakan klakson dengan anggukan kepala menoleh ke arahku tanda ia berpamitan. Aku terpaku masih memandangnya menghilang di tikungan. Hari ini kesempatan itu muncul. Mudah-mudahan masih ada kesempatan lagi di lain hari.
Di rumah tak ada siapa-siapa, pantesan sepi banget.  Kuhampiri kulkas, segernya setelah kuteguk jus jeruk. Dan senyuman itu masih terbayang. J

Me and Math 2



Geometri oh geometri. Ternyata aku harus berurusan denganmu diakhir kuliahku. Aku tahu ini bukan salahmu. Ini resiko bagiku karena mnegambil matematika. Tapi tanpa sadar aku malah berjalan ke arahmu, jika tidak mengapa aku harus mengambil garis paralel sebagai materi dalam skripsiku. Ditengah kebingungan dalam dua pilihan aku lebih memilihnya, dan dari kedua pilihan judul yang kubuat semuanya berkaitan dengan geometri padahal aku membenci geometri. Mungkin ini yang namanya jarak benci dan cinta itu sangat tipis.
Di tengah munculnya rasa suka pada garis paralel dan aku pun sedikit demi sedikit mulai menguasainya. Nyatanya, takdir tak berpihak padaku, peraturan berganti dan materi itu tak ada dalam kurikulum lama. Aku pun berganti materi mulai melihat lagi materi apa yang akan kuambil. Semua rencana ditata ulang, beberapa janji terpaksa dibatalkan dan mungkin semua teman seangkatanku sama repotnya denganku. Berapa kali pun membuka dan meresapi semua materi tapi tetap selalu tertuju pada geometri. Akhirnya aku putuskan move on pada jenis dan besar sudut, okey masih geometri.
Sedikit demi sedikit aku harus mulai menyukai materi baru ini. Tapi, kenapa aku masih tak suka matakuliah geometri padahal tiga SKS. Seberapa besar berusaha tetap saja itu tak berhasil. Ditambah lagi, ada bahasan irisan bangun ruang. Huaaaa....., mimpi buruk kelas III SMA terulang. Dari dulu aku tak bisa menguasai ini, daya bayangku terlalu lemah bukan aku tak mau berusaha yah... Buktinya beberapa pertemuan kemarin aku berusaha konsentrasi ketika dosen menjelaskan mengenai irisan bangun ruang. Pada beberapa soal aku konsentrasi, oke aku bisa konsentrasi penuh dan diakhiri dengan helaan nafas panjang karena masih tak mengerti. Rasanya pengen menangis. Aku terlalu bodoh untuk ini.
Oh mata kuliah ini menambah dosaku..., karena sering tak fokus dan berbisik dalam hati kenapa harus seperti ini sih. Padahal udahlah ini bidang tak usah diiris-iris kan utuh lebih bagus estetikanya. Maapku untuk dosen yang tak mampu memperhatikan dengan baik.


Minggu, 28 September 2014

Me and Math


Berbicara matematika mungkin bagi beberapa orang amat membosankan atau bahkan menyeramkan. Sama sepertiku yang tak begitu suka pada matematika namun tak dapat dibilang benci  juga pada matematika, hanya terdapat beberapa bagian yang aku tak suka darinya. Anehnya takdirku selalu menuntunku ke arahnya, yups kini aku mahasiswa tingkat empat yang harus menyusun skripsi berbau matematika.
Pertama kali mendengar kata matematika adalah waktu menginjak SD kelas satu. Orang tua temanku bercerita kalau dirinya khawatir jika anaknya tak mampu mengikuti matematika. Pada saat itu aku berpikir bahwa matematika adalah sesuatu yang sangat menyeramkan, kukira matematika itu sejenis upacara ynag harus menjawab soal sambil berdiri. (Ah pikiran anak baru masuk SD yang konyol...heheh). Akhirnya setelah ada penjelasan dari ibu gurunya, matematika itu berhitung lho. Di SD aku tak begitu menderita dengan keberadaan matematika malah bisa dibilang prestasiku cukup gemilang. Aku masih bisa mengikuti pelajaran matematika, malah sering adu kecepatan menjawab perkalian aku selalu kesatu (bangga) dan lagi saat kelas enam gurunya selalu memberi teka-teki atau soal untuk dikerjakan. Selesai guru memberikan soal untuk dikerjakan kebiasaan guru tersebut keluar kelas dulu sejenak, dan disaat masuk kembali tak berapa lama aku langsung memberikan hasil jawabanku, dan hadiahnya aku selalu lebih dulu istirahat dibanding teman lainnya (oh senangnya). Benarkan aku tak begitu buruk untuk matematika? Tapi entahla di SMP, aku mulai menemukan duri dalam diri matematika.
SMP mungkin awal ketidak sukaanku pada matematika. Prestasiku tak segemilang dulu tapi aku masih bisa mengikuti hanya aku sedikit kelelahan. Walaupun aljabar masih bisa ku kejar namun yang berbau geometri kiranya cukup membuatku lelah. Ungtunglah gurunya yang pengertian dan mampu membimbingku sehingga ketidaksukaanku pada matematika tak berubah jadi benci.
Masa-masa SMA cukup membuatku semakin tertinggal dengan matematika, ia berlari cukup kencang namun aku sekencang-kencangnya berlari tak mampu menyusul. Kelas I masih bisa karena tak banyak bahasan tentang geometri hanya masih dasarnya saja, puncaknya di kelas II ketika aku harus berhadapan dengan logaritma dan trigonometri. Hasil ulanganku pada materi tersebut bisa dibilang jelek. Aku masih ingat dikelasku sampai dipasang banner ukuran besar yang memuat rumus trigonometri dan logaritma, niatnya untuk mempermudah dalam menghapal dan bisa dijadikan contekan saat ulangan (hehhe... jangan tiru niat buruk itu ya..., ambil positifnya saja) tapi tetap saja saat ulangan guru matematika menyuruh untuk melepasnya sementara (argh strategi kami kiranya tak berhasil). Yang lebih menambah ketidaksukaanku pada matematika terutama kedua materi tersebut saat harus  tes lisan tentang setiap rumus trigonometri dan logaritma. Untungnya aku lulus dari tes tersebut berkat sin, cos, tan, di berbagai kuadran. Selain kedua materi tersebut, bagian geometri bangun ruang dan matriks masih menghantui dan menjadi mimpi burukku di SMA. Sehingga saat aku memilih jurusan untuk masuk perguruan tinggi aku menghindari matematika dan jurusan yang memuat trigonometri, logaritma, dan geometri bangun ruang. Tapi seperti yang kukatakan tadi, takdir menuntunku ke arah matematika.
Tanpa sengaja aku memilih PGSD. Ya bisa dibilang ini merupakan pilihan yang tak disengaja disaat-saat terakhir penentuan pendaftaran, karena saat itu aku diperbolehkan memilih tiga jurusan dan aku memilihnya sebagai tempat yang ketiga. Kukiran di sini aku tak akan bertemu matematika, ternyata aku salah. Di semester pertama saja aku harus berhadapan dengan matematika pada konsep dasar matematika. Tapi aku tak semelehakan di SMA ketika harus berhadapan dengan konsep dasar matematika. Lulus dengan nilai yang memuaskan cukup untuk modal awal dan memberiku keyakinan bahwa aku tak terlalu bodoh dalam matematika. Semester berikutnya harus berhadapan dengan pendidikan matematika I, entahlah aku sangat menyukainya karena muatannya adalah bagaimana cara mengajarkan matematika di SD dan materinya pun lebih banyak tentang cara mengajarkannya  begitu pun dengan pendidikan matematika II. Mungkin aku telah jatuh cinta pada matematika, atau lebih tepatnya aku jatuh cinta mengajar matematika di SD, ya... aku jatuh cinta dan suka mengajarkan anak-anak tentang matematika karena dengan itu aku belajar sabar dan keuletan darinya.
Disaat harus memilih konsentrasi aku cukup bingung, aku ingin masuk konsentrasi matematika tapi aku takut tak bisa mengikutinya. Melihat kurikulum bahwa geometri tertera di sana itu semakin mebuatku takut untuk masuk konsentrasi matematika. Tapi, aku bertekad jika dalam pendidikan matematika II nilaiku memuaskan itu menandakan aku mampu di bidang ini. Akhirnya nilai itu keluar dan sangat memuaskan, aku memilih matematika. Matakuliah-matakuliah di semester V dan VI tentang matematika masih bisa kuikuti dengan baik. Semester inilah yang aku takutkan, geometri dihadapanku. Yups.., sekarang aku berdiri di semester tujuh yang harus berhadapan dengan geometri, baru pembuktian teorema saja aku harus bersusah payah untuk mengikuti, ah mungkin otakku payah untuk ini. Sampai-sampai aku menggerutu saat dosen menjelaskan untuk membuktikan teorema tentang garis sejajar, “ah sudahlah kalo sudah banyak terbukti tak usah dibuktikan lagi...” gerutuku dalam hati (maap ya Pak). Tapi berkat bantuan teman-teman akhirnya aku bisa membuktikannya (Yihaa). Tapi entahlah kedepannya..., aku harap tak semenyeramkan yang aku pikirkan tentang geometri ini. Aku tak tahu apakah cintaku pada matematika yang mulai tumbuh akan terhapus lagi? Tapi satu yang kuyakini aku tak sendiri, masih ada teman yang siap membantuku, aku yakin itu. Harapanku satu, aku lulus dengan matematika tersenyum padaku.

Sabtu, 24 Mei 2014

Delonix Regia BAB III


Jam weker berbunyi tepat jam 05.00. Kali ini tanpa harus mematikan alarm aku langsung beranjak dari tempat tidur dan mandi. Segera shalat usai membersihkan diri.
"Hmmmm….., udara pagi ini segar sekali," gumamku ketika jendela kamar dibuka perlahan dan membiarkan udara segar masuk ke kamar.
"Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku menginjakan kaki di SMP, eh tak taunya sekarang udah SMA lagi," gumamku masih dengan tatapan keluar jendela dan menikmati udara pagi.
Suara yang tak asing lagi mulai terdengar. Yup, suara Mama membangunkanku memang ekstrim. "Rereeeeeeeee…..banguuuuuuuuuuuuuuuuuunnnnn…….. Hari ini pertama masuk sekolah jangan sampai terlambat."
"Iya Mamaku sayang, Rere udah bangun," kubuka pintu kamar dan tampak Mama sedang berdiri mematung keheranan melihat anak semata wayangnya bangun sepagi ini.
"Tumben!?" ujar Mama masih dengan rasa penasaran.
"Ih Mama, kok gitu sih. Bukannya bersyukur kalo anaknya udah bisa bangun pagi tanpa harus diteriakin,"  setengah kecewa aku menanggapi komentar Mama.
"I..i..ya, Mama juga bersyukur. Tapi aneh aja gitu,…." belum juga Mama selesai bicara, segera Papa datang menyela.
"Bukan aneh Ma, sekarang kan Rere udah SMA. Malu sendiri donk masa harus dibangunin terus iya kan sayang?" tatapnya jail ke arahku.
"Ih Papa…" ujarku manja.
"Ya sudah cepetan siap-siap, masa mau ke sekolah pakai baju tidur," goda Papa.
"Walaupun masih pake baju tidur tapi Rere udah Mandi, tinggal ganti baju aja," belaku.
"Udah sholat belum?" tanya Mama.
"Udah Ma…., kalo gitu Rere ganti baju dulu". 
Kuambil seragam sekolah yang dari kemarin sudah kusiapkan lengkap dengan sabuk dan dasi. Kusisir dan kutata rambutku dengan sebuah bandana berhiaskan pita. Sedikit pelembab dan bedak kusapukan ke wajahku. Tak lupa kuoleskan minyak wangi dan lotion. Selesai.
Kuambil tas dan sepatuku. Walau tak bebas menggunakan sepatu, tapi aku bangga bisa memakai sepatu seragam sekolah seperti ini. Senin sampai kamis sekolahku mewajibkan untuk menggunakan sepatu seragam dari sekolah, kalo tidak ya terpaksa kamu harus berjalan hanya dengan beralaskan kaos kaki. Itu juga kalo kaos kaki kamu berwarna putih. Pokoknya hari bebas berekspresi di sekolah adalah hari jumat dan sabtu, itu pun masih terikat dengan aturan-aturan berpakaian lainnya.
 Papa dan Mama sudah siap di ruang makan. Perutku rupanya sudah menanti untuk diisi. Papa memimpin do'a dan acara makan pagi pun dimulai.
Selesai makan aku bersiap memakai sepatu sembari Papa memanaskan mesin mobil. Untung sekolahku sekarang searah dengan kantor Papa jadi gak harus naik angkot.
Seperti biasa Mama selalu bareng Papa kalo berangkat walaupun dekat hanya beberapa komplek dari rumah.  Mamaku seorang guru SD yang sekolahnya lumayan dekat dengan rumah kami.
Begitu Mama turun aku pindah duduk ke depan.
Papa memulai pembicaraan, "Hmmm…., anak Papa udah gede ya…."
Tanpa ragu aku menjawab, "Iya donk…, cantik lagi. Hehehe "
"Hmmm…..," masih dengan pandangan fokus ke jalanan. "MOS kemarin gimana? Rere belum cerita sama Papa."
Kesempatan nih buat komplen  ke Papa yang suka pulang larut malam. "Habisnya Papa keterlaluan pulangnya malam mulu," komentarku dengan menggerutu.
"Tuntutan pekerjaan sayang, mau gimana lagi. Papa juga maunya kalo sore udah di rumah. Jadi gimana MOS nya?"
"Rere ngerti kalo kerjaan Papa banyak. Rere sayang sama Papa….."
"Papa juga sayang sama Rere," balasnya.
Memang walaupun Papa jarang sekali di rumah tapi aku cukup dekat dengan Papa malahan mungkin lebih dekat sama Papa dari pada sama Mama. Sepanjang jalan aku tak henti-hentinya cerita tentang MOS kemarin dari awal pembukaan MOS sampai upacara penutupan. Tak terlewatkan cerita memalukan itu juga, Papa sampai senyum-senyum saat kuceritakan betapa gugupnya aku saat dipanggil gara-gara surat kekaguman itu. Huft…
"Wah…, baru juga berapa hari ternyata anak Papa udah punya gebetan," godanya.
"Aaah Papa…, itu bukan gebetan tapi profesionalisme kesiswaan terhadap panitia MOS," aku mengelak.
"Kok gitu?"
"Iya donk, kan itu tuntutan tugas dari panitia buat bikin surat. Bukan atas dasar suka," aku masih membela diri dari tudingan Papa.
"Ya, terserah apa kata Rere, tapi jangan salahkan kalo nanti bisa jadi suka," Papa masih menggodaku.
"Aaaaah Papa…."
Tepat di depan gerbang utama sekolah mobil yang kunaiki berhenti. Aku pamit dan segera masuk ke sekolah. Di depan gerbang, Pak Satpam sudah siap menyambut dan menangkap para pelanggar tata tertib.
Huft, bukannya MOS udah selesai? Kok sekarang harus sudah mengahadapi kakak-kakak itu lagi? Baru juga masuk gerbang kedua  terlihat anak-anak OSIS bagian keamanan menyambut. Ternyata bukan untuk MOS lagi tapi untuk mengawasi anak-anak yang melanggar tata tertib.  Mungkin takutnya ada yang lolos dari pengawasan Pak Satpam. Bagus ekstra ketat pengawasannya.
Sedikit malu campur gugup aku berusaha ramah dan tersenyum. Dan baru juga beberapa langkah melewati deretan kakak pengamanan itu. Ada hal yang bisa membuatku lebih malu dan gugup lagi. Yup, kulihat Kak Yudhistira sedang menuruni tangga.
 Disana ketika kamu berbelok ke kiri setelah melewati gerbang kedua, maka terlihat tangga menuju lantai 2 dan 3 tempat anak kelas XI dan XII belajar.
"Oh my God, tolong aku…" belum juga do'aku selesai terucap dari dalam hati. Ia tersenyum. 'What ia tersenyum…., manis sekali' pikirku.
Kubalas senyuman itu dan berusaha untuk tidak bertingkah gugup. Hmmm…, pagi ini semakin tambah cerah.
*****
Hari ini sangat berpihak padaku. Thanks God. Pagi-pagi udah dapat senyuman dan sekarang aku sekelas sama Kayla.
Walaupun gak belajar, ya tetap saja namanya hari pertama harus menyiapkan segala perlengkapan kelas dari mulai struktur kelas jadwal piket de el el. Untung ada yang bersedia jadi ketua kelas, walaupun sedikit terpaksa karena dipilih secara paksa.
Selebih acara mengurus kelas baru. Kami mulai perkenalan dengan wali kelas dan teman-teman, sedikit demi sedikit sudah kuhapal. Sepertinya kelas ini cukup cooperative denganku. Mudah-mudahan nyaman.

Kamis, 22 Mei 2014

Delonix Regia BAB II


Walaupun sudah pernah mengikuti masa orientasi di SMP dulu, namun tetap saja ada rasa takut dan deg-degan ketika kegiatan itu muncul lagi saat masuk SMA. Sepertiku yang sudah dua hari ini mengikuti masa orientasi, dan hari ini aku senang sekali. Karena hari ini adalah hari terakhir masa orientasi, sejak pukul 06.00 aku sudah berada di sekolah. Semua siswa sudah dikumpulkan di lapangan basket, lengkap dengan atribut dan segala macam persyaratan.
Seseorang menyikutku dari samping. Dengan suara berbisik karena takut ketahuan panitia aku bertanya, “Kenapa Kay?”
“Aduh, surat gua ketinggalan. Gimana nih?” bisiknya tak kalah pelan dengan suara angin.
“Surat apaan?” tanyaku polos.
“Yaelah, masa lo lupa sih. Itu tuh, surat buat kakak panitia. Jangan bilang lu belum bikin?”
“Emang belum,” jawabku polos. “Gua lupa. Habisnya persyaratannya banyak banget. Jadi gua belum sempat bikin.”
“Terus kita gimana nih?” terdengar suara yang panik dalam pertanyaan Kayla.
“Ya udah, tenang aja. Kan masih ada waktu istirahat. Kita bikin pas istirahat,” ujarku menenangkan.
“Terus, kalo sekarang dikumpulinnya gimana?”
“Terima nasib. Paling juga disuruh nyanyi, hehehe,” jawabku bercanda.
“Ah lu mah, bukannya ngasih solusi malah bikin masalah…..” ucapan Kayla tertahan begitu seorang kakak panitia melihat kami. Aku pun segera menundukan kepala, berusaha menghindari tatapannya.
Mampus bisikku dalam hati. Setelah beberapa menit, kukira aku akan mendapat teguran. Namun, dugaanku salah. Tampakknya kakak panitia itu tergolong kakak panitia baik, bukan seperti kakak-kakak bagian keamanan yang sangar bin galak.
Kulihat lurus ke depan, ternyata ia sudah tak ada. Syukurlah…, batinku lega.
Seperti hari-hari sebelumnya. Agenda pertama adalah mengecek semua peralatan dan persyaratan yang harus di bawa hari ini. Dengan jantung yang berdegup kencang aku berdo’a dalam hati. Mudah-mudahan surat buat panitia tidak di kumpulkan sekarang Ya Allah. Begitu do’a itu kuucap berulang-ulang. Aku yakin Kayla pun sedang berdo’a yang sama sepertiku, atau mungkin beberapa peserta pun ada yang bernasib sama sepertiku?
Suara yang keras menghentikkan do’a dalam hatikku, “Baiklah, yang terakhir kumpulkan surat yang telah kalian buat di rumah untuk kakak panitia di sini…” suara itu seakan pukulan telak dan membuatku jatuh tersungkur.
“Aduh gimana nih, Re?” suara Kayla semakin panik.
“Kalian gak bawa suratnya?” terdengar seorang kakak panitia menegur kami dari belakang.
“Hmmm…., iya Kak. Gimana ya kak?” jawabku memelas.
“Kok tanya ke Kakak, coba tanya sama Kak Rika di depan gih!” jawabnya. Sudah kuduga walaupun menunjukan tampang sememelas apapun gak bakalan deh ada kakak panitia yang mau bikinin atau seenggaknya ngasih solusi kek. 
Belum juga kami memberanikan diri ke depan. Sudah terdengar lagi instruksi, “Ada yang gak bawa atau belum bikin suratnya, coba tunjuk tangan?” terdengar suara cempreng Kak Rika menyabit semua perhatian para peserta.
Aku, Kayla, dan tampak seorang laki-laki tunjuk tangan. Deg-degan, malu bercampur nervous, membuat mukaku berubah terasa panas dingin.
“Baiklah, sekarang kalian maju kedepan,” tunjuknya padaku dan Kayla ditambah seorang peserta laki-laki dari gugus lain.
Aku dan Kayla segera maju ke depan. Semua mata peserta dan panitia tampak tertuju pada kami bertiga. Dengan nada sama kecutnya, Kak Rika menyuruh kami membuat surat itu hanya dalam waktu tiga menit.
Kami pun segera kembali ke barisan. Dengan tergesa-gesa kubuka tasku dan segera mengambil alat tulis. Ketika alat tulis sudah kupegang semua, aku terhenti. Aduh ini surat buat siapa ya? Mana kakak panitia laki-lakinya pada gak hapal lagi. Sejenak aku berfikir. Oh iya, kalo gak salah ada yang namanya Yudhistira, masa bodoh deh walaupun kagak tahu orangnya yang penting namanya ada di jajaran panitia, batinku. Segera kutuliskan beberapa kalimat dalam surat itu dan kumasukan dalam amplop yang kudapat dari teman di belakangku. Untungnya ia berbaik hati memberikan sisa amplopnya padaku.
Acara demi acara sudah berlalu. Kini tinggal acara pentas seni dan upacara penutupan. Gugusku hanya menampilkan sebuah drama pendek yang berceRika tentang kenakalan remaja. CeRika klasik yang semua orang sudah bisa menebaknya. Tapi tak apa yang penting tampil dan bebas dari hukuman. Aku sudah tak sabar ingin segera acara pentas seni ini berlalu dan cepat-cepat upacara penutupan kemudian pulang dan istirahat. Mungkin hanya aku yang tampak bergumal malas menunggu acara berakhir, disamping para peserta lain yang tampak antusias menyaksikan penampilan drama dari kakak panitia.
“Ok, sekarang kita lanjutkan dengan acara selanjutnya yaitu….,” sengaja ucapan Kak Rika dibuat terpotong untuk mengundang rasa penasaran pendengar. Syukurlah acaranya segera berakhir, bisikku pelan diiringi helaan napas panjang. Namun, rasa syukur itu segera tertahan ketika Kak Rika melanjutkan perkataannya, “…sekarang Kakak akan bacakan surat-surat pilihan yang telah kalian tulis dan kirimkan pada Kakak panitia di depan. Ditangan Kakak sudah ada dua buah surat, mau yang mana dulu?” tanya Kak Rika memberika option pada kami. Terdengat suara gemuruh para peserta yang menyuarakan pendapat mereka. “Baiklah yang ini dulu ya…,” jawab Kak Rika menentukan option. Ia mulai membuka surat itu dan membaca kalimat pertama yang begitu puitis. Alhamdulillah itu bukan punyaku, hatiku lega. Gila aja kalo suratku yang dibacakan, pasti deh jadi artis sehari.
Gemuruh suara peserta semakin menjadi, mempertanyakan siapa pengirim surat itu. Kak Rika kembali bicara, “Sebelum Kakak bacakan pengirimnya ada yang mau jujur gak?” tanyanya. Hening. Semua peserta tampak mematung dan terdiam. “Baiklah, Kakak sebutkan saja pengirimnya. Adrian dari gugus 3,” para peserta di gugus tiga sudah mulai ribut dan semuanya tertuju pada sesosok remaja laki-laki berkulit putih. Tanpa di komando semua peserta pun mengarahkan pandangannya pada gugus tiga, sama sepertiku yang ingin menjawab rasa penasaran siapa gerangan yang menulis puisi seindah itu. “Ok Adrian, bisa maju kedepan!” pinta Kak Rika.
“Ntar aja Kak, biar sekalian sama penulis surat yang satunya. Penasaran nih, siapa orang kedua yang tulisannya indah,” seorang Kakak panitia tampak nyeletuk.
“Kalo begitu kita pending dulu, dan sekarang kita berlanjut pada surat yang kedua,” aku semakin bosan dengan suasana seperti ini, terlalu kekanak-kanakan, pikirku.
Kak Rika mulai membacakan kalimat demi kalimat dalam surat itu. Dan sebuah untaian kalimat pun berbunyi:
Aku tak dapat membuat sebuah surat yang romantis seperti yang disuruh Kakak panitia. Tapi kuharap sebuah tulisan pendek ini dapat mewakilinya. Kakak simak baik-baik ya… (sebuah emotion smiley ucap Kak Rika yang berusaha membacakan lengkap isi surat itu).  
Namamu sungguh kukenal
Seorang ksatria dalam sebuah dongeng
Bijak, adil dan baik hati adalah karakter pribadinya
Ya, namamu Yudhistira bak nama dalam kisah Pandawa
Namun sayang dirimu masih belum kukenal
Kuharap esok kumengenalmu
Seperti kumengenal Yudhistira dalam kisahnya.”
Kak Rika berhenti membaca surat itu dan suara yang tak kalah berisiknya segera memenuhi ruang udara dalam aula ini. Aku semakin gerah, dadaku bergetar hebat, tanganku panas dingin. Aku menunduk disaat Kak Rika membacakan nama pengirim surat itu lengkap dengan gugusnya. Ya, benar namaku dipanggil, dan sekarang semua hal yang tidak aku inginkan pun terjadi. Kurasakan pandangan semua orang tertuju padaku, dan Kayla, yang dari tadi duduk di sampingku menegurku, “Itu punyamu? Wah so sweet,” ujarnya.
Setengah berbisik aku menyanggah, “gila so sweet dari mana. Sekarang gua malu tahu.”
“Ih tapi sumpah, kata-katanya indah. Ajarin dong!” pintanya.
“Lu tuh ya. Masih sempat-sempatnya bercanda. Bukannya cari jalan keluar,” aku semakin kesal dengan Kayla.
“Gampang, sekarang mendingan lu cepetan kedepan daripada lu jadi bahan tontonan lebih lama. Lagian semua orang udah pada tahu,” nasehat yang benar-benar tak kuharapkan meluncur dari mulut Kayla.
Kudengar namaku terus dipanggil. Dan seseorang yang yang suratnya tadi dibaca juga sudah ke depan. Tinggal aku yang masih ragu di tempat.
Akhirnya dengan dorongan teman-teman disampingku. Dan untuk segera mengakhiri kebodohanku aku memberanikan diri maju ke depan.
  Di depan aku semakin gugup. Dan tak kusangka seseorang yang kusebut dalam suratku masuk ke aula dari pintu samping bersama seorang perempuan yang kuyakini dialah yang menjadi tujuan surat Andrian teman senasibku ini.
Entah apa yang aku pikirkan, aku hanya tertunduk menyembunyikan rasa malu. Tak kuhiraukan suara Kak Rika yang terus mengoceh dan teriakan teman-teman. Sesekali kudengar suara seorang laki-laki dan perempuan saling menjawab pertanyaan Kak Rika. Ku yakin itu suara Kak Yudhistira dan si penerima surat dari Andrian.
Aku tersadar dari lamunanku ketika sebuah tangan terjulur kepadaku. Dengan ragu kutatap wajahnya. Jantungku semakin hebat berdetak. Ia pun berkata dengan sebuah senyuman, “Thanks ya suratnya, puisinya bagus…” Kami pun bersalaman.
Dan tak kusangaka ia memberiku sebuah kado kecil. Aku pun menerimanya dengan seulas senyuman dan ucapan terima kasih. Ia pun berlalu.
Akhirnya Kak Rika segera mengakhiri acara ini. MOS pun berakhir dengan upacara penutupan, namun senyuman itu mungkin tak kan pernah berakhir dalam bayanganku.
****
Di rumah. 
 Hari ini begitu melelahkan. Tak hanya fisik tapi juga menguras mental dan emosiku. Huft….., kuhempaskan tubuhku yang lelah di atas kasur. Hampir saja aku terlelap jika suara teriakan Mama tak membangunkanku.
"Rere……, mandi dulu jangan langsung tidur!!!" Mama tau aja kalo aku mau tidur, padahal dia sedang di ruang tengah dan aku di kamar. Daripada dimarahin, aku segera beranjak dari tempat tidur dan menjawab perintah Mama, "Iya Maaaa…."
Setengah jam cukup membersihkan semua kotoran, keringat dan rasa lelah yang seharian hinggap di tubuhku. Seperti mandi besar, rasanya aku baru saja terlepas dari segala najis dan sekarang aku sudah siap untuk menyambut hari esok.
Tanpa sadar seulas senyum menghiasi bibirku yang tipis ketika keluar dari kamar mandi. Kukenakan baju tidur dan segera turun. Kulihat Mama sedang nonton TV di ruang tengah. "Ma…, Rere makan dulu ya, laper!" keluhku. Mama hanya menjawab dengan anggukan saja, begini kalo ibu-ibu udah ketagihan sinetron, bisa-bisa lupa sama anak dan suami. Ya sudahlah, lama kalo di bahas. Aku segera ke ruang makan dan tak sabar lagi perutku minta diisi begitu mencium aroma masakan.
Sepiring nasi dengan ikan bakar dan sepotong puding cukup mengusir rasa lapar.
"Serius amat Ma, emang sinetron apaan?" tanyaku penasaran.
"Biasa sinetron favorit….," jawab Mama masih dengan pandangan ke layar televisi.
CeRika biasa, seorang tokoh anak SMA yang sedang berulang tahun dan mendapat kejutan dari teman. Sebuah kado spesial dari pacarnya yang membuat teman-temannya terkagum-kagum. Buket mawar merah dan boneka panda.
Begitu melihat adegan itu, aku tersadar. "O ya…, kadoku?"
Mama yang mendengar ucapanku merasa heran, "Kado apa Re? sekarang kan, bukan ulang tahunmu!"
"Enggak kok Ma, lagian siapa juga yang ulang tahun, Kalo gitu Rere ke kamar dulu deh…, daah Mama," pamitku pada Mama yang masih heran denganku karena tiba-tiba menciumnya dan segera berlalu ke kamar.
Di kamar. Kutemukan sebuah kado kecil berbungkus kertas warna coklat. Jantungku berdegup hebat. Perlahan kubuka dan kurobek kertas warna coklat itu. Kudapati sebuah dus berbentuk balok. Dan kulihat setangkai flamboyan dengan daun yang sedikit layu, tersenyum dalam kotak itu.
Senang. Deg-degan. Dan heran kenapa dia tahu aku suka flamboyan. Atau mungkin dia hanya mengartikan namaku saja? Ya, mungkin dia hanya mengartikan namaku saja.
Secarik kertas post it menempel dalam kotak itu. Tertulis.
"Delonix Regia artinya Flamboyan, semoga kau suka dengan flamboyan ini dan terima kasih atas suratnya. Puisinya bagus :) Mudah-mudahan esok kita bisa berteman."
Huaaaaa….., senangnya baru kali ini ada orang yang belum ku kenal tapi dengan cepat dia tahu arti namaku dan juga bunga kesukaanku. Senyum itu semakin jelas ketika kubaca lagi tulisannya. Kusimpan tulisan dan flamboyan itu dalam album foto, jadi kelak bunga itu mengering tetap tak akan rusak.