Jumat, 09 Januari 2015

THE TELLER


Tak ada yang dapat Keyla lakukan selain menunggu, antrian di depan begitu panjang, tempat duduk pun tak ada yang kosong, yang dia lakukan hanya berdiri mematung tak seorang pun yang bisa diajak bicara. Keyla melihat nomor antriannya, tertulis angka 111 mana sekarang baru 60 lagi. Sampai berapa lama lagi aku terjebak dalam kebosanan ini? Gerutuk Keyla dalam hati.
Dia adalah Keyla, yang sedang terjebak dalam antrian panjang di bank. Ini semua gara-gara Mama yang menyuruhnya untuk menabung, dan bodohnya Keyla, dia lupa kalo hari ini hari Senin awal bulan lagi…, pantaslah banyak orang di bank.
Daripada bosan merutuki nasib yang malang ini, di alihkan pandangannya pada setiap penjuru ruangan. Semua pegawai bang pada sibuk melayani para nasabah dari teller, customer service sampai pak satpam yang gak bosan-bosannya membuka dan menutup pintu masuk sambil memamerkan senyum pada setiap pengunjung yang datang. Berbeda halnya dengan para petugas yang teramat sibuk, di sisi lain banyak terdiam bosan bahkan ada yang kelihatan terkantuk-kantuk, menunggu sang teller memijit nomor antrian berikutnya.
Jam sudah menunjukan pukul 11.00 WIB, nomor antrian baru 80, ini artinya Keyla akan terjebak dengan waktu istirahat. Dan harus rela menunggu lebih lama lagi.
Setelah lama menunggu tempat duduk yang kosong, akhirnya seorang kakek-kakek beranjak dari tempat duduknya, dan ini rezeki bagi Keyla yang bisa langsung menyerobot maju menempati tempat duduk itu yang persis didepan meja teller. Akhirnya…., badannya bisa sedikit relaks merasakan ketenangan. Walaupun harus tetap menunggu tapi setidaknya memberikan sedikit rasa nyaman. Diarahkan pandangannya ke sekeliling, dari samping kiri sampai kanan dan tepat di depan sebelah kiri tepatnya di meje teller seseorang sedang melayani nasabah ibu-ibu, ia tersenyum dengan manis melayani sang nasabah. Oh.., so cute! Rambutnya tampak rapi dengan stelan baju ala kantoran. Kulitnya hitam manis, dan kala tersenyum matanya pun ikut tersenyum menyiratkan keramahan akan kedamaian yang ia tawarkan.
‘Oh, God…., dadaku sesak dan sulit untuk bernafas. Mataku masih menatapnya dengan terkagum-kagum. Dan…, olala dia menyadarinya’ ucap Keyla dalam hati. Bodohnya Keyla bukannya tersenyum padanya malah memalingkan muka karena takut ketahuan. Segera dia alihkan pandangan, yang tertuju pada sebuah layar televisi ukuran 32 inci yang dipasang disebelah kiri meja teller. Keyla merasakan ia masih terheran-heran dengan sikapnya yang aneh. Aaah…, geer.
Dengan memperhatikan televisi yang beruukuran 32 inci itu diiringi rasa yang tak karuan. Nalurinya terus menuntun pada seseorang di balik meja teller sana. Dengan sedikit ragu-ragu Keyla mencoba melirik dia yang tak diketahui namanya itu. Masih dengan wajah cute dan kesibukannya. Keyla memandanginya. Dan alamak…, dia menatap Keyla lagi. Kali ini Keyla tersenyum dan tak disangka dia membalas senyum Keyla juga… Aigoo.
Waktu berlalu begitu cepat. Tepat jam satu setelah istirahat selesai nomor antrian Keyla baru di panggil. Tadinya Keyla berharap dia yang tak diketahui namanya itu yang melayaninya tapi…, dengan sangat kesal disana seorang perempuan menyapa Keyla. “Selamat siang Mba, ada yang bisa saya bantu?” ujar sang teller dengan ramah. Keyla tersenyum dan memberikan kartu tabungan Mamanya dengan uang di dalamnya tentu saja. seseorang yang tak diketahui namanya itu duduk di pinggir si Mba yang kini tengah melayani Keyla. Langsung Keyla mengambil kesempatan kesempatan itu untuk melihat namanya disana tertera “Farid Alamsyah” oooooh jadi namanya Farid hatinya berkata dengan nada penuh kelegaan. Setidaknya sekarang Keyla tahu namanya, yah walaupun hanya sekedar nama, tapi tak apalah.
Ditinggalkannya bank itu dengan hati yang merasa bahagia, walaupun aku harus menunggu selama berjam-jam tapi  setidaknya ada sesuatu disana lumayannlah buat cuci mata. Daripada bosan mantengin tv di rumah mending mantengin orang ganteng walaupun dalam keadaan yang gak banget “menunggu antrian”.
*****
Sampai di rumah.
            “Tumben anak Mama senyum-senyum sendiri, ada apa nie?” jail Mamanya dengan menggoda Keyla.
            “Gak ada apa-apa kok Ma…,” Keyla mencoba menyembunyikan rasa senangnya itu. “Oh iya Ma, ntar kalo ke bank lagi, biar Keyla aja Ok…!”
            “Tumben anak Mama mau ke Bank biasanya juga paling malas kalo di suruh ke Bank, hayo ada apa?” selidik Mamanya yang penasaran melihat tingkah anaknya yang tidak biasa itu.
            “Gak ada apa-apa kok Ma, cuma pengin aja daripada bosan di rumah,” masih berusaha menyembunyikan perasaannya. “Udah ah Ma, Keyla mandi dulu,” Keyla pun langsung menuju kamarnya.
            Sepeninggla anaknya, Mama Keyla hanya bisa geleng-geleng kepala, menyaksikan tingkah aneh dari anaknya itu.
            Di dalam kamar.
Keyla masih mengingat kejadian tadi, dan yang menjadi tokoh utama tentunya sang pangeran teller            , kini Keyla udah tahu namanya namun apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia tahu siapa dia dan di mana rumahnya? Masa Keyla harus nanya langsung pada orangnya kan gak elit banget. Pikirannya buntu bagaikan menemukan sembuah gang dengan tembok besar yang menghadang di hadapannya. Anehnya, hatinya kini masih merasakan bergejolak padahal udah berjam-jam ia telah meninggalkan tempat kejadian perkara. Pembunuhan kali…. Argh, masa bodo yang penting aku bisa ketemu dia lagi, nantinya juga kalo jodoh gak bakalan kemana kok. Ya.,., memang perkataan itu yang kerap kali dilontarkan oleh orang yang merasa putus akan harapan. Semuanya kita serahkan pada yang Maha Kuasa. Keyla menasehati sendiri dirinya.
Keesokan paginya.
Hari ini hari kamis, liburan masih sepuluh hari. Keyla masih tertidur pulas di kamarnya, ia hanya terbangun ketika adzan shubuh berkumandang, ia menarik lagi selimutnya. Kini waktu menunjukan 07.00 WIB. Mentari pagi mulai masuk ke celah jendela kamar, tirai putih itu tak mampu menahan cahaya matahari yang meronta masuk ke dalam kamar Keyla.  Dengan sentuhan kehangatan sang mentari membelai muka gadis remaja berambut panjang itu dan mengusik kesadarannya. Keyla pun mulai tersadar, ia mulai mengucek mata dengan tangannya, menguap dan mulai terbangun dari ranjangnya. Dengan nafas lega dan tanpa beban ia membuka jendela dan menyambut kehangatan mentari. Namun, belum juga lima menit di bawah terdengar teriakan.
“Key, bangun!!!! Ada Risa nih,” teriak sang Mama di lantai bawah.
Sambil menepuk jidat seakan teringat suatu hal, “Aduh, mampus gua, hari ini ada janji sama Risa bagaimana ini??” ia langsung mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Hanya dalam waktu 5 menit ia sudah rapi memakai kaus dan celana jeans. Cukup memakai parfum dan sedikit bedak, tak lupa tas kecil yang selalu ia bawa.
“Aduh maap Ris, gua lupa  sori nunggu bentar ya! Hehe,” dengan candaan sambil mengacungkan jarinya yang membentuk huruf V ke udara ia meminta map pada sahabatnya itu.
“Lu, sih make acara HP di matiin segala lagi..,” belum juga Risa selesai ngomong Keyla udah kelabakan nyari HPnya,
“Aduh HP gua dimana ya?” sambil mengobrak-abrik isi tasnya ia mengoceh sekenanya. “Owh iya gua lupa, tunggu bentar ya….,” ia lari ke kamarnya dan mengambil Hp yang tergelatak dilantai. Kebiasaan buruknya yang sembaranagn menaruh HP.
“Gimana udah siap?” setengah kesal Risa bertanya kepada Keyla.
“Udah ayo!” dengan wajah tanpa dosa keyla menjawab. “Ok yuk berangkat!” Keyla merangkul bahu sahabatnya itu dan berjalan menuju dapur untuk berpamitan pada Mamanya.
****
“Ok hari ini kita kemana?” Tanya Keyla.
“….”
“Ih…, lu kenapa sih. Masih marah ya?” goda Keyla. “Ok, Risa Ku sayang…, hari ini terserah lu mau kemana gua anterin. Dan sebagai permintaan maap gua, kali ini gua yang traktir.”
“Beneran?”
“Iya bener.”
Liburan kali ini mereka membuta jadwal selama lima hari untuk  jalan-jalan, hari ini hari ketiga mereka jalan-jalan. Dan karena kesalah Keyla. Kali ini Keyla yang menanggung semua biaya akomodasi. Hehehe.
Dengan semangat Risa menyebutkan rencananya, “Ok, hari ini kita makan cemilan dulu di alun-alun gua mau sarapan dulu, biasanya suka banyak yang jualan setelah itu aku mau bubur kacang Kabita di perempatan jalan Mambo, kemudian ke toko buku, sekalian bantuin gua cari Novel baru deh siangnya kita makan mpek-mpek plus jus alpukat Ok!”
“Ah, gila lu…, ini namanya perampokkan. Bisa bikin kantong gua bobol tahu! Masa jadwlanya makan mulu?”
“Ya tadi kan udah janji, gak boleh ingkar!” dengan tawa menggoda Risa mengingatkan Keyla.
“Ok deh kanjeng Mami!”
“Ih emangnya aku kayak kanjeng Mami…, gak liat apa aku langsing kayak gini?”
“Kalo diliatnya dari atas menara Eiffel sih langsing tapi kalo dari jarak dua ratus meter masi tetep ndut heheh…” Keyla emang suka ngejailin temannya yang selalu uring-uringan kalo masalah berat badan, niatnya gak mau nambah ndut tapi pikirannya makan mulu, kapan langsingnya coba.
Mereka pun sudah tiba di kedai lontong kari dan bubur ayam. Risa lebih memilih lontong kari sedangkan Keyla memesan bubur ayam. Sambil menunggu sang penjual menyajikan menu yang mereka pesan. Risa mulai mengatur kameranya untuk mengabadikan setiap momen liburan ini, setiap kegiatan yang mereka lakukan harus ada dokukmentasinya sebagai bukti sejarah. Ceileh segitunya. Intinya sih biar ada kenangan aja walaupun tempatnya cuma seputar kota tempat tinggal, tapi kalo ada dokumentasi jadi lebih berkesan. Tak cukup lama pesanan mereka datang. Risa mulai mengambil beberapa foto dari mulai pesanan mereka yang di anterin si mamang pedagang, sampai gerobak tampak depan dan samping pun di foto, tentunya yang paling pokok adalah foto gambar mereka berdua yang lagi makan. This time to narsis.
Terdengar suara seorang laki-laki memesan bubur ayam. Entah kenapa Keyla seperti punya ikatan batin dengan suara itu,  suara itu seolah menarik kepala keyla untuk menengok ke arah datangnya suara itu. Dengan sedikit ragu-ragu ia menoleh kearah datangnya suara itu. Dan dalam waktu sepersekian detik jantungnya mulai merasa berdetak tak semestinya ia pun langsung menarik lagi pandangannya.
Mungkinkah ini yang namanya takdir. Bangku yang kosong di kedai itu hanya bangku yang sedang Keyla dan Risa tempati.
Suara langkah kaki mulai terdengar mendekati tempat duduk Keyla. Saat itu pula, Keyla tak tahu apa yang harus ia lakukan dadanya begitu sesak, hatinnya bergetar hebat dan sulit untuk dikendalikan. Tatapannya hanya tertuju pada semangkok bubur ayam yang ada di hadapannya ia mengunyah dengan perasaan gusar dan gundah, walaupun sebenarnya tak perlu dikunyah. Risa yang duduk di sampingnya tak menyadari kegelisahan temannya itu, ia asik dengan lontong karinya dan kamera di tangannnya. 
“Apa tempat ini masih kosong?” sesosok suara menyapu kesadarannya, dengan ramah sang laki-laki itu meminta izin untuk duduk disana.
Dengan nada gemetar dan gugup Keyla menjawab “Oh tentu silahkan duduk!” sambil menengok dan mempersilahkan duduk, Keyla segera memindahkan tasnya yang tadinya berada di pinggirnya keatas meja.
Selama beberapa detik. Hening.
Keyla berusaha fokus pada apa yang sedang ia makan.
“Hmmm…, map. Sebelumnya apa kita pernah ketemu? Soalnya saya merasa tidak asing,” tanya laki-laki itu pada Keyla.
Jeger…, seperti disambar gledek Keyla merasa menjadi buronan yang tertangkap polisi.
“Hmmm…,”
Sebelum Keyala menjawab laki-laki itu kembali berkata “Owh iya, sepertinya saya melihat Anda kemarin di Bank, benar kan?”
Ottoke, Keyla tak menyangka ingatannya setajam itu. Malu dia, masa ia ingat disaat Keyla kepergok lagi menatap wajahnya kan gak elit banget. “Hmmm….,”
“Key…, kita foto berdua yuk! Masa fotonya cuma yang sendiri-sendiri. Mas bisa tolong fotoin?” dengan wajah polos Risa memberikan  kamera ke laki-laki yang duduk di samping Keyla.
“Oh tentu.” dengan senang hati laki-laki itu mengambil kamera yang disodorkan Risa dan memotret beberapa moment Risa dan Keyla. Namun terlihat kegugupan dari dalam diri Keyla.
“Terimaksih!” Risa mengambil kembali kamera dari tangan laki-laki itu dan mulai sibuk dengan aktifitasnya tanpa tahu apa yang sedang dilalami Keyla.
“Kenalkan nama saya Farid,” sambil mengulurkan tangan laki-laki itu memperkenalkan diri.
Dengan menahan rasa gugup Keyla menyambut tangan itu, “Keyla”.
Masih bingung apa yang harus Keyla katakan, akhirnya ia mulai bicara…, “Hmmm…, maap soal yang kemarin.”
“Soal apa?”
“Kemarin saya melihat Anda tidak sopan,” dengan nada yang penuh keraguan Keyla mengungkapkan sikapnya kemarin.
“Jangan panggila saya ‘anda’ panggil Farid aja lagian umur saya masih muda kok” Keyla hanya tersenyum malu, salah lagi dalam hatinya Keyla mengumpat. “Untuk yang kemarin itu wajar, gak masalah kok,” dengan mengaduk bubur ayamnya Farid memulai topik baru.
“ Ada acara apa ni?”
“Hmmm…, ini kami lagi acara liburan. Biasa buat dokumentasi, owh ya maap tadi teman saya gak sopan menyuruh anda untuk memotret, kenalin ini Risa teman saya,” sambil menggamit tangan Risa, Keyla memperkenalkan sahabatnya itu .
“Hai” Risa menyodorkan tangan untuk bersalaman, “Risa”
“Farid”
“Kalian udah saling kenal ya?” tanya Risa pada Keyla dan Farid.
“Hmmm…, ya secara kebetulan kemarin kami ketemu” ujar Farid
“Owh…,” hanya dengan nada owh saja Risa menaggapi.
Mereka terlibat dalam acara ngobrol pagi di kedai lontong. Topik demi topik silih berganti. Seperti sudah kenal lama mereka akrab mengobrol. Namun ada sedikit penekana dan perkataan yang teesbunyi dibalik kata yang dilontarkan Keyla dan Farid. Seolah mereka punya dunia tersendiri bagi kaliant yang mereka utarakan. Sesekali mereka tertawa renyah. Waktu yang tak bisa diajak kompromi memutuskan obrolan mereka.
“Aku harus segera masuk kantor…, dan kuharap kita bisa ketemu lagi!” ucap Farid dengan penuh penyesalan.
“Oh tentu,” jawab Keyla.
Farid pun pergi sambil membayar makanan yang telah dimakan tadi. Namun sesuatu tersimpan disana ditangan sang penjual lontong kari.
“Yuk keburu siang, kita caw” ajak Risa yang sudah tak sabar ke tempat selanjutnya.
Keyla menghapiri si mamang lontong kari sambil menyodorkan uang.
“Oh…, sudah di bayar Neng tadi sama si Mas yang duduk dekat si Neng, ia juga menitipkan ini sama mamang,” Si mang itu memberikan sebuah kartu nama. Disana tertera jelas “Farid Alamsyah” lengkap dengan alamat, nomor telepon dan pekerjaannya yang tak lain seorang pegawai bank. “…..tadi kata si Mas situ, ia lupa dan terburu-buru jadi nitip ini ke Mamang”.
“Owh…, ok makasih Mang!”
Dengan perasaan senang campur bingung ia memegangi kartu nama itu. Namun, ia senang mungkin ini jawaban dari harapnnya kemarin. Percayalah kalo jodoh gak kemana. 


THE END J



Kepingan Mawar


Kepingan mawar itu masih ada. Hanya tak dapat dirangkai utuh seperti sedia kala.
Langkahnya masih terdengar dari jarak yang cukup dekat. Sedikit berlari mengejar langkahku yang semakin kencang. Mungkin jika tak banyak orang ia nekat berteriak dan memaksaku bicara. Namun aku teguh pada pendirianku, semuanya harus diakhiri, ini tak baik bagiku dan dirinya.
Tak selamanya ego dipertahankan masih ada perasaan yang harus kau perhatikan. Kau dan dia berhak bahagia namun caranya bukan seperti ini. Kau bilang, kau bahagia. Tapi tak tanyakah kau pada dirinya apakah dia bahagia dengan caramu seperti ini? Ku yakin tidak.
Gumpalan awan putih dan teriknya matahari terus mengiringi langkahku yang sesekali berlari. Suara langkah kaki tak lagi mengejarku. Aku tak berani menengok ke belakang. Kuharap tak bertemu lagi.
Tiga bulan berlalu. Semuanya berjalan seperti biasanya. Kulangkahkan kaki menuju sebuah pusat perbelanjaan, persediaan bulanan semakin menipis. Terpaksa aku pergi sendiri. Ibu tak bisa menemaniku karena ada kepentingan yang tak bisa ia tinggalkan.
Pelataran parkir tampak penuh dengan kendaraan bermotor. Aku terpaksa memarkir motorku dikawasan parkir roda empat. Pengunjung sangat ramai. Maklum, ini minggu di awal bulan. Kaum gaji nampaknya sedang berpesta. Tak hanya kawasan kebutuhan sehari-hari namun kawasan kebutuhan sampingan pun dipadati pengunjung. Segera kumasuki kawasan perlengkapan sehari-hari dan mengambil beberapa barang yang kubutuhkan. Dalam beberapa menit saja troliku sudah hampir penuh. Aku pun beralih ke bagian perlengkapan mandi dan mengambil beberapa barang. Baru saja hendak mengambil sebuah pasta gigi terdengar seseorang memanggilku.
Suara yang samar-samar kukenal.  "Alya…?" tanyanya.
Aku pun menengok, dan dia tak jauh dariku hanya berjarak beberapa langkah. Aku hanya bergumam belum sempat menjawab sapaan itu. Tenggorokanku seakan tercekat dan bibirku kelu. Emosiku membuncah membuatku terdiam beberapa saat. "Alya…?" tanyanya lagi. Aku pun tersadar  dan hanya dapat menjawab dengan gumaman. "Hmmmm…!"
"Alya. Ini aku Rena, kau ingat teman SMP mu dulu!"
Sadarku belum sepenuhnya. Masih membutuhkan proses untuk mencerna setiap perkatannya. Aku ingat kau Rena, tapi dengan orang disampingmu aku ingin, aku tak mengingatnya namun mengapa sekarang dia hadir dihadapankaku. Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala dan seulas senyum.
Rena memperkenalkan orang disampingnya yang sedari tadi tertunduk dan tak berani menatapku. “Kenalkan Al, ini Rian tunanganku.”
Raut muka Rian tampak bingung dan bersalah. Seperti orang yang baru kenal kami berjabat tangan. Perasanku hampa dan kaku. Kupikir tiga bulan mampu mengubah dan mengahapus semuanya dan ternyata tak sepenuhnya. Kepingan mawar itu masih ada namun kini segera harus kubuang dan kukubur  jauh. Keputusanku tepat. Aku tak ragu lagi. Tak akan kumengharapmu lagi. Semoga kau bahagia.      
 Kepingan mawar milikmu sudah kubuang dan menghitam. Kuharap esok ada setangkai mawar baru yang utuh.