Angin malam menembus tulang rusukku. Sangat dingin dan membekukan hatiku yang hampa. Tak
ada kasih sayang, tak ada perhatian dan tak ada yang peduli lagi siapa aku
sekarang. Kupeluk adikku yang tengah tertidur pulas. Kutahu dalam tidurnya tak
senyaman dan seindah dulu. Kuselimuti ia dengan baju hangatku, kuharap dapat
menahan dinginnya cuaca malam ini. Kusapu rambutnya dengan penuh kasih sayang,
mataku basah dan tak terasa menetes membasahi pipi. Dadaku bergetar menahan
gejolak emosi agar tangisku tak menjadi. Hatiku terus berkata ‘kamu harus kuat,
kamu bisa’. Aku harus bisa melewati
semua ini. Kini hanya aku dan adikku tak ada yang lain. Ayah…, Ibu…., kau
melihat kami maka Rhidoilah kami. Hanya itu yang tertanam dalam benakku
sekarang.
Langit yang begitu hitam tak mampu memberikan cahaya
bintang walaupun sedetik. Semua toko tertutup rapat tak ada celah untuk
berlindung. Hanya lorong antar toko yang kini mampu melindungi kami dan dengan
sehelai karton bekas sebagai alas tidur yang kini kuanggap nyaman. Semuanya
berbeda. Tak seperti dulu dengan kasur empuk dan atap yang kokoh dalam bangunan
yang gagah. Sekarang semuanya rapuh, seperti hatiku yang rapuh tak punya
panutan untuk berlindung. Kasih sayang yang utuh dari Ayah dan Ibu kini telah
tiada. Semuanya berbalik. Sekarang akulah yang harus member kasih sayang itu
pada adikku. Bisakah aku menggantikan mereka walau hanya sekedar mengisi celah
yang kosong dalam hati adikku?
“Mama…, Mama…, Mama…” adikku terus memanggil Mama dalam tidurnya. Melihatnya
seperti ini semakin ingin kumenjerit dan lari. ‘Tuhan masih adilkah ini
bagiku??? Inikah bukti kasih sayangmu padaku???’ semakin ku mengeluh semakin ku
khilap pada nikmat-Nya.
Kuusap kepalanya dengan penuh kasih sayang dan
kubisikan kata untuk menenangkan tidurnya, “Mama disana, ditempat yang indah
sedang melihat kita. Adek tidurlah yang nyenyak. Mama pun akan senang”, hanya
itu yang bisa kulontarkan dari mulutku yang kembali terkunci dengan kepahitan.
Malam semakin larut. Angin pun semakin menusuk. Kutarik
sehelai kain untuk menyelimuti badanku dan adikku. Berbantalkan tas jinjing
berisi pakaian yang bisa kubawa dari rumah, aku mulai tertidur sembari memeluk
adikku yang kini mulai tenang dalam tidurnya.
*****
Semburat merah di ufuk timur pertanda sang fajar
terbangun dari peraduannya. Beberapa
toko sudah buka dan para pedagang mulai membereskan dagangan mereka. Raisya
tersadar, dirinya terbangun dalam keramaian. Ia mulai membereskan
barang-barangnya dan mencoba membangunkan adiknya. “La…, Dila bangun sayang…!”
Dengan enggan adikku bangun dari tidurnya, ia
tersenyum. Hari ini kami harus melanjutkan hidup dan meningalkan masa lalu kami
yang kelam. “Kak, laper…!” aku terpekik dalam kesedihan, apa yang harus
kulakukan sedangkan tak sedikitpun uang tersisa dalam dompetku. Tapi, ah ya….,
aku teringat jam tanganku masih melingkar dipergelangan tanganku. Akhirnya
kuputuskan untuk menjualnya.
Kami berjalan menyusuri jalanan pasar mencari toko
jam yang sudah buka. Tepat di sebuah tikungan pertigaan aku melihat toko yang
baru dibuka oleh pemiliknya. Tanpa pikir panjang aku dan adikku langsung
menemui pemilik toko itu dan menawarkan jam yang kini berada dalam genggaman
tanganku. Membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mendapatkan harga yang
sesuai dari kedua belah pihak. Akhirnya jam itu berhasil dijual dengan harga
seratus ribu rupiah, lumayan uang ini cukup untuk hidup kami selama beberapa
hari kedepan.
Adikku terus merengek kelaparan, tepat didepan kami
terdapat sebuah warung nasi kuning. Kami masuk ke warung itu dan memesan dua
piring nasi kuning berikut teh manisnya. Kuamati warung itu, kecil dan
sederhana. Seorang ibu yang melayani kami tampak sibuk melayani pelanggan lain.
Kami makan dengan lahap, segelas teh manis mampu memberiku semangat pagi ini.
Selesai makan aku menghampiri seorang gadis yang
seumuran denganku, yang memang kulihat dari tadi sibuk melayani pelanggan yang
akan membayar. Langkahku semakin dekat
dan samar-samar kulihat wajahnya yang memang tak asing lagi bagiku. Kini aku
berada didepannya, namun ingatanku masih belum tahu siapakah orang yang berada
dihadapanku ini. Aku menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan. Ia menyapaku
ragu, “Dina…?” mukanya ragu-ragu.
Lantas aku hanya bisa menjawab, “I…,Iya…,aku Dina?”
aku masih bingung tak dapat mengenali sosok yang kini berada di hadapanku.
Ia membaca kebinguanganku, “Din, ini aku Lara temen
SMP dulu masih ingat gak?”
Aku memutar memoriku dan akhirnya aku bisa menemukan
jawaban dari kebingunganku ini, ya aku ingat dia Lara teman SMP ku dulu waktu
kami duduk di kelas tiga SMP kami sekelas. “Oh, aku ingat. Lara gimana
kabarmu?” sembari merangkul tubuhnya yang lebih kecil dari tubuhku.
“Alhamdulillah baik Din, kamu sendiri gimana?” ia
tampak bingung melihat keadaanku yang sedikit kumal, tak seperti dulu yang
selalu rapi dan wangi.
“Yang seperti kamu lihat, keadaanku lagi gak baik,”
air matakku hampir jatuh, tapi mampu kutahan, semua ingatan kelam itu menerpa
memoriku.
“Din, apa yang terjadi? Itu adikmu kan?” tampak Lara
melihat adikku yang sedang duduk di sebuah kursi pelanggan dengan tas jinjing
berisi baju kami disampingnya.
Mataku menuntun melihat kearah adikku yang masih
menikmati makannnya. “Iya, Ra….” dengan nada lirih yang tak mampu kutahan air
mata pun jatuh.
“Baiklah, sekarang kamu duduk dulu, tenangkan
pikiranmu, kalo kamu gak keberatan boleh kok ceritakan masalahmu, mungkin aku
bisa bantu,” dengan penuh perhatian Lara menenangkanku. Kini kami duduk
disebuah bangku kosong dekat dengan adikku yang masih menikmati makanannya.
“Sejak seminggu yang lalu keluarga kami mendapat
musibah….,” kata-kata yang terpendam selama ini keluar dari mulutku begitu saja
terdorong oleh emosi yang masih menyeruak dalam batinku. “Perusahaan ayah
bangkrut, kami harus mengganti semua kerugian, aku juga gak tahu persis inti
permasalahannya. Namun ketika pulang sekolah, kulihat rumah dan semua
barang-barangku disita, ayah dibawa ke kantor polisi. Aku melihat ibu yang
menangis memeluk adikku. Sejak saat itu, hidup keluargaku berantakan,” sesak
itu keluar seiring dengan mengalirnya kata-kata curahan hatiku.
“Lalu ibumu?” Lara bertanya dengan nada lirih.
“Ibu…, sejak lama ibu sudah sakit-sakitan. Ia tak
tahan menghadapi semua musibah ini, dua hari setelah itu, ibu terkena serangan
jantung dan tak sempat dilarikan ke rumah sakit…., ibu meninggalkan kami,”
seakan mengorek luka masa lalu hatikku semakin menjerit.
“….., tak ada satu pun keluargaku yang datang. Aku
tahu, mungkin ini balasan bagi kami yang selalu jauh dan tak peduli pada
keluarga besar kami. Ayah dengan sifatnya yang keras kepala, membuat paman dan
bibiku tak pernah lagi menginjakan kaki di rumah kami sejak setahun yang lalu.
Sedangkan ibu, sejak menikah dengan ayah ia sudah tak berkerabat.”
“Yang tabah ya Din, jadi sekarang kalian tinggal
dimana?”
“Aku tak tahu, sejak kemarin kami hanya mengikuti
langkah kaki kami dan sekarang kami sampai disini. Aku tak tahu harus pergi
kemana. Aku bingung Ra….,” air mata yang memaksa jatuh kuseka dengan jariku.
“…,hmmmsekarang begini saja. Sementara kau mencari
tempat tinggal bagaimana kalau kamu dan adikmu tinggal dirumah kami. Itu juga kalau
kalian bersedia tinggal di gubuk yang kecil,” dengan hati-hati Lara mengajak
aku dan adikku tinggal dirumahnya. Aku tahu mungkin ia canggung dengan
kebiasaanku yang dulu selalu hidup serba mewah.
“Apa orang tuamu gak keberatan?” aku bertanya
memastikan.
“Kami hanya tinggal berdua, aku dan ibuku. Aku yakin
ibuku pasti mengizinkan, atau sekarang aku bicara dulu pada ibuku, kalian
tunggu dulu sebentar disini!” Lara pun segera menemui ibunya yang masih sibuk
menjajakan makanan yang baru ia masak di sebuah etalase.
Kuperhatikan ibunya yang seusia dengan ibuku.
Melihatnya aku seperti melihat bayangan ibu. Air mata yang kering kini basah
kembali. Kudengar adikku memanggil, segera kuseka air mataku. Aku pun segera
mendekati adikku, sesekali kulihat Lara yang tampakknya sedang menjelaskan
keadaanku sekarang, ketika aku menengok kearah mereka dan ibunya tampak
tersenyum padakku. Dari senyumnya kulihat keramahan hatinya, inginku berlari
memeluknya seperti memeluk ibuku, jiwa yang rindu belaian seorang ibu ini
memberontak dalam kegamangan jiwa. Aku hanya bisa membalas seyumannya sembari
menganggukan kepala tanda hormat.
Aku sibuk membersihkan baju adikku yang tak sengaja
terkena tumpahan air teh manis. Tanpa kusadari Lara dan ibunya sudah berdiri di
sampingku. Aku pun segera berdiri dan memberi salam.
“Nak Dina?” sapa ibunya Lara. Suaranya begitu lembut
di telinga.
“Iya, Bu…., saya Dina ini adikku Dila,” adikku
segera memberi salam ketika kuperkenalkan dirinya.
“Ibu sudah dengar semuanya dari Lara. Kalau kalian
mau, kalian boleh tinggal dirumah kami, kebetulan di rumah hanya ada Lara dan
Ibu. Tapi …., rumah ibu kecil dan mungkin layaknya disebut gubuk,” dengan
sedikit ragu ibunya Lara menjelaskan kedaannya.
“Saya sangat berterima kasih ibu sudah mengizinkan
kami tinggal bersama ibu. Bagaimana kami membalas semua ini….,,” sebelum aku
melanjutkan perkataanku ibunya Lara segera memotongnya.
“Ssst, kita semua saudara malah ibu senang Lara jadi
ada temannya, mulai sekarang Dila anggap ibu sebagai ibu kandung Dila sendiri,
jangan sungkan,” dengan penuh perhatian beliau mengelus kepalaku, aku pun tak
kuasa untuk tak memelukanya. Kurasakan dekapannya sangat hangat seperti
mendapat kasih sayang yang kemarin pernah hilang. Kini mulai kulihat mentari
cerah setelah mendung menyibak langit.
*****
Aku, Lara dan
adikku menelusuri sebuah gang sempit seperti jalan tikus. Lingkungan yanga
cukup ramai walau sedikit kotor namun terlihat rasa kekeluargaan yang erat
antar penduduknya. Hal ini terlihat ketika terdengar sapaan disetiap kami
melewati sekelompok orang yang sedang santai di depan rumah, ataupun ketika
kami berpapasan dengan yang lainnya. Tampaknya mereka akrab sekali dengan Lara.
Sangat berbeda sekali dengan lingkungan tempat tinggalku dulu, sangat
individualisme. Tak pernah ada sapaan, tak ada senyuman, kami semua sibuk
dengan kegiatan kami masing-masing, termasuk aku dan keluargaku yang tak pernah
mengenal kata tetangga.
“Itu rumahku yang bercat putih,” tunjuk Lara ke
sebuah rumah yang kecil dan sangat sederhana.
Aku menuntun adikku yang sudah lelah. Akhirnya kami
sampai juga, sembari menghela napas, Lara segera membuka pintu. Kami masuk,
ruang tamu yang berukuran 3x4 meter terisi dengan sebuah kursi dan meja yang
menghadap pintu dan dibelakangnya tampak televise ukuran 14 inci diatas sebuag
meja kayu kecil. Disamping ruang tamu ada dua buah pintu, Lara segera
menjelaskan ketika mataku melihat ke arah pintu itu.
“Ini kamarku….,” tunjuk Lara kesebuah pintu kamar pertama
“…dan ini kamar ibuku dan yang disana dapur,” tampak sebuah dapur dan kamar
mandi ketika kami berjalan lurus setelah melewati ruang tamu. “Nanti, kamu dan
adikku tidur di kamarku, aku dan Ibu tidur di kamar Ibu…,” jelas Lara.
“Makasih banyak Ra…,” tak sadar aku memeluk tubuh
Lara. Ia memelukku erat dengan penuh kelembutan.
Dulu aku begitu acuh tak pernah melirik orang
seperti Lara, tak pernah berpikir kehidupan orang yang berada di sekitarku. Aku
begitu angkuh, tak pernah bersyukur akan nikmat-Nya. Yang kubisa hanya mengeluh
dan selalu berpikir ini tak adil ketika aku mendapat sebuah masalah, sampai aku
kehilangan semuanya aku sadar bahwa Allah selalu adil pada setiap hamba-Nya.
Aku yang selalu hidup mewah tapi tak mengerti akan
arti sebuah kehidupan. Namun Lara yang hidup serba kecukupan ia memiliki
semuanya, kasih sayang dari orang disekitarnya yang selalu menganggap keberadaanya.
Inilah keadilan yang Allah tunjukan padaku.
The
End