Sabtu, 02 November 2013

Adilkah Ini???


Angin malam menembus tulang rusukku. Sangat  dingin dan membekukan hatiku yang hampa. Tak ada kasih sayang, tak ada perhatian dan tak ada yang peduli lagi siapa aku sekarang. Kupeluk adikku yang tengah tertidur pulas. Kutahu dalam tidurnya tak senyaman dan seindah dulu. Kuselimuti ia dengan baju hangatku, kuharap dapat menahan dinginnya cuaca malam ini. Kusapu rambutnya dengan penuh kasih sayang, mataku basah dan tak terasa menetes membasahi pipi. Dadaku bergetar menahan gejolak emosi agar tangisku tak menjadi. Hatiku terus berkata ‘kamu harus kuat, kamu bisa’.  Aku harus bisa melewati semua ini. Kini hanya aku dan adikku tak ada yang lain. Ayah…, Ibu…., kau melihat kami maka Rhidoilah kami. Hanya itu yang tertanam dalam benakku sekarang.
Langit yang begitu hitam tak mampu memberikan cahaya bintang walaupun sedetik. Semua toko tertutup rapat tak ada celah untuk berlindung. Hanya lorong antar toko yang kini mampu melindungi kami dan dengan sehelai karton bekas sebagai alas tidur yang kini kuanggap nyaman. Semuanya berbeda. Tak seperti dulu dengan kasur empuk dan atap yang kokoh dalam bangunan yang gagah. Sekarang semuanya rapuh, seperti hatiku yang rapuh tak punya panutan untuk berlindung. Kasih sayang yang utuh dari Ayah dan Ibu kini telah tiada. Semuanya berbalik. Sekarang akulah yang harus member kasih sayang itu pada adikku. Bisakah aku menggantikan mereka walau hanya sekedar mengisi celah yang kosong dalam hati adikku?
“Mama…, Mama…, Mama…” adikku  terus memanggil Mama dalam tidurnya. Melihatnya seperti ini semakin ingin kumenjerit dan lari. ‘Tuhan masih adilkah ini bagiku??? Inikah bukti kasih sayangmu padaku???’ semakin ku mengeluh semakin ku khilap pada nikmat-Nya.
Kuusap kepalanya dengan penuh kasih sayang dan kubisikan kata untuk menenangkan tidurnya, “Mama disana, ditempat yang indah sedang melihat kita. Adek tidurlah yang nyenyak. Mama pun akan senang”, hanya itu yang bisa kulontarkan dari mulutku yang kembali terkunci dengan kepahitan.
Malam semakin larut. Angin pun semakin menusuk. Kutarik sehelai kain untuk menyelimuti badanku dan adikku. Berbantalkan tas jinjing berisi pakaian yang bisa kubawa dari rumah, aku mulai tertidur sembari memeluk adikku yang kini mulai tenang dalam tidurnya.
*****
Semburat merah di ufuk timur pertanda sang fajar terbangun dari peraduannya.  Beberapa toko sudah buka dan para pedagang mulai membereskan dagangan mereka. Raisya tersadar, dirinya terbangun dalam keramaian. Ia mulai membereskan barang-barangnya dan mencoba membangunkan adiknya. “La…, Dila bangun sayang…!”  
Dengan enggan adikku bangun dari tidurnya, ia tersenyum. Hari ini kami harus melanjutkan hidup dan meningalkan masa lalu kami yang kelam. “Kak, laper…!” aku terpekik dalam kesedihan, apa yang harus kulakukan sedangkan tak sedikitpun uang tersisa dalam dompetku. Tapi, ah ya…., aku teringat jam tanganku masih melingkar dipergelangan tanganku. Akhirnya kuputuskan untuk menjualnya.
Kami berjalan menyusuri jalanan pasar mencari toko jam yang sudah buka. Tepat di sebuah tikungan pertigaan aku melihat toko yang baru dibuka oleh pemiliknya. Tanpa pikir panjang aku dan adikku langsung menemui pemilik toko itu dan menawarkan jam yang kini berada dalam genggaman tanganku. Membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mendapatkan harga yang sesuai dari kedua belah pihak. Akhirnya jam itu berhasil dijual dengan harga seratus ribu rupiah, lumayan uang ini cukup untuk hidup kami selama beberapa hari kedepan.
Adikku terus merengek kelaparan, tepat didepan kami terdapat sebuah warung nasi kuning. Kami masuk ke warung itu dan memesan dua piring nasi kuning berikut teh manisnya. Kuamati warung itu, kecil dan sederhana. Seorang ibu yang melayani kami tampak sibuk melayani pelanggan lain. Kami makan dengan lahap, segelas teh manis mampu memberiku semangat pagi ini.
Selesai makan aku menghampiri seorang gadis yang seumuran denganku, yang memang kulihat dari tadi sibuk melayani pelanggan yang akan membayar.  Langkahku semakin dekat dan samar-samar kulihat wajahnya yang memang tak asing lagi bagiku. Kini aku berada didepannya, namun ingatanku masih belum tahu siapakah orang yang berada dihadapanku ini. Aku menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan. Ia menyapaku ragu, “Dina…?” mukanya ragu-ragu.
Lantas aku hanya bisa menjawab, “I…,Iya…,aku Dina?” aku masih bingung tak dapat mengenali sosok yang kini berada di hadapanku.
Ia membaca kebinguanganku, “Din, ini aku Lara temen SMP dulu masih ingat gak?”
Aku memutar memoriku dan akhirnya aku bisa menemukan jawaban dari kebingunganku ini, ya aku ingat dia Lara teman SMP ku dulu waktu kami duduk di kelas tiga SMP kami sekelas. “Oh, aku ingat. Lara gimana kabarmu?” sembari merangkul tubuhnya yang lebih kecil dari tubuhku.
“Alhamdulillah baik Din, kamu sendiri gimana?” ia tampak bingung melihat keadaanku yang sedikit kumal, tak seperti dulu yang selalu rapi dan wangi.
“Yang seperti kamu lihat, keadaanku lagi gak baik,” air matakku hampir jatuh, tapi mampu kutahan, semua ingatan kelam itu menerpa memoriku.
“Din, apa yang terjadi? Itu adikmu kan?” tampak Lara melihat adikku yang sedang duduk di sebuah kursi pelanggan dengan tas jinjing berisi baju kami disampingnya.
Mataku menuntun melihat kearah adikku yang masih menikmati makannnya. “Iya, Ra….” dengan nada lirih yang tak mampu kutahan air mata pun jatuh.
“Baiklah, sekarang kamu duduk dulu, tenangkan pikiranmu, kalo kamu gak keberatan boleh kok ceritakan masalahmu, mungkin aku bisa bantu,” dengan penuh perhatian Lara menenangkanku. Kini kami duduk disebuah bangku kosong dekat dengan adikku yang masih menikmati makanannya.
“Sejak seminggu yang lalu keluarga kami mendapat musibah….,” kata-kata yang terpendam selama ini keluar dari mulutku begitu saja terdorong oleh emosi yang masih menyeruak dalam batinku. “Perusahaan ayah bangkrut, kami harus mengganti semua kerugian, aku juga gak tahu persis inti permasalahannya. Namun ketika pulang sekolah, kulihat rumah dan semua barang-barangku disita, ayah dibawa ke kantor polisi. Aku melihat ibu yang menangis memeluk adikku. Sejak saat itu, hidup keluargaku berantakan,” sesak itu keluar seiring dengan mengalirnya kata-kata curahan hatiku.
“Lalu ibumu?” Lara bertanya dengan nada lirih.
“Ibu…, sejak lama ibu sudah sakit-sakitan. Ia tak tahan menghadapi semua musibah ini, dua hari setelah itu, ibu terkena serangan jantung dan tak sempat dilarikan ke rumah sakit…., ibu meninggalkan kami,” seakan mengorek luka masa lalu hatikku semakin menjerit.
“….., tak ada satu pun keluargaku yang datang. Aku tahu, mungkin ini balasan bagi kami yang selalu jauh dan tak peduli pada keluarga besar kami. Ayah dengan sifatnya yang keras kepala, membuat paman dan bibiku tak pernah lagi menginjakan kaki di rumah kami sejak setahun yang lalu. Sedangkan ibu, sejak menikah dengan ayah ia sudah tak berkerabat.”
“Yang tabah ya Din, jadi sekarang kalian tinggal dimana?”
“Aku tak tahu, sejak kemarin kami hanya mengikuti langkah kaki kami dan sekarang kami sampai disini. Aku tak tahu harus pergi kemana. Aku bingung Ra….,” air mata yang memaksa jatuh kuseka dengan jariku.
“…,hmmmsekarang begini saja. Sementara kau mencari tempat tinggal bagaimana kalau kamu dan adikmu tinggal dirumah kami. Itu juga kalau kalian bersedia tinggal di gubuk yang kecil,” dengan hati-hati Lara mengajak aku dan adikku tinggal dirumahnya. Aku tahu mungkin ia canggung dengan kebiasaanku yang dulu selalu hidup serba mewah.
“Apa orang tuamu gak keberatan?” aku bertanya memastikan.
“Kami hanya tinggal berdua, aku dan ibuku. Aku yakin ibuku pasti mengizinkan, atau sekarang aku bicara dulu pada ibuku, kalian tunggu dulu sebentar disini!” Lara pun segera menemui ibunya yang masih sibuk menjajakan makanan yang baru ia masak di sebuah etalase.
Kuperhatikan ibunya yang seusia dengan ibuku. Melihatnya aku seperti melihat bayangan ibu. Air mata yang kering kini basah kembali. Kudengar adikku memanggil, segera kuseka air mataku. Aku pun segera mendekati adikku, sesekali kulihat Lara yang tampakknya sedang menjelaskan keadaanku sekarang, ketika aku menengok kearah mereka dan ibunya tampak tersenyum padakku. Dari senyumnya kulihat keramahan hatinya, inginku berlari memeluknya seperti memeluk ibuku, jiwa yang rindu belaian seorang ibu ini memberontak dalam kegamangan jiwa. Aku hanya bisa membalas seyumannya sembari menganggukan kepala tanda hormat.
Aku sibuk membersihkan baju adikku yang tak sengaja terkena tumpahan air teh manis. Tanpa kusadari Lara dan ibunya sudah berdiri di sampingku. Aku pun segera berdiri dan memberi salam.
“Nak Dina?” sapa ibunya Lara. Suaranya begitu lembut di telinga.
“Iya, Bu…., saya Dina ini adikku Dila,” adikku segera memberi salam ketika kuperkenalkan dirinya.
“Ibu sudah dengar semuanya dari Lara. Kalau kalian mau, kalian boleh tinggal dirumah kami, kebetulan di rumah hanya ada Lara dan Ibu. Tapi …., rumah ibu kecil dan mungkin layaknya disebut gubuk,” dengan sedikit ragu ibunya Lara menjelaskan kedaannya.
“Saya sangat berterima kasih ibu sudah mengizinkan kami tinggal bersama ibu. Bagaimana kami membalas semua ini….,,” sebelum aku melanjutkan perkataanku ibunya Lara segera memotongnya.
“Ssst, kita semua saudara malah ibu senang Lara jadi ada temannya, mulai sekarang Dila anggap ibu sebagai ibu kandung Dila sendiri, jangan sungkan,” dengan penuh perhatian beliau mengelus kepalaku, aku pun tak kuasa untuk tak memelukanya. Kurasakan dekapannya sangat hangat seperti mendapat kasih sayang yang kemarin pernah hilang. Kini mulai kulihat mentari cerah setelah mendung menyibak langit.
*****
 Aku, Lara dan adikku menelusuri sebuah gang sempit seperti jalan tikus. Lingkungan yanga cukup ramai walau sedikit kotor namun terlihat rasa kekeluargaan yang erat antar penduduknya. Hal ini terlihat ketika terdengar sapaan disetiap kami melewati sekelompok orang yang sedang santai di depan rumah, ataupun ketika kami berpapasan dengan yang lainnya. Tampaknya mereka akrab sekali dengan Lara. Sangat berbeda sekali dengan lingkungan tempat tinggalku dulu, sangat individualisme. Tak pernah ada sapaan, tak ada senyuman, kami semua sibuk dengan kegiatan kami masing-masing, termasuk aku dan keluargaku yang tak pernah mengenal kata tetangga.
“Itu rumahku yang bercat putih,” tunjuk Lara ke sebuah rumah yang kecil dan sangat sederhana.
Aku menuntun adikku yang sudah lelah. Akhirnya kami sampai juga, sembari menghela napas, Lara segera membuka pintu. Kami masuk, ruang tamu yang berukuran 3x4 meter terisi dengan sebuah kursi dan meja yang menghadap pintu dan dibelakangnya tampak televise ukuran 14 inci diatas sebuag meja kayu kecil. Disamping ruang tamu ada dua buah pintu, Lara segera menjelaskan ketika mataku melihat ke arah pintu itu.
“Ini kamarku….,” tunjuk Lara kesebuah pintu kamar pertama “…dan ini kamar ibuku dan yang disana dapur,” tampak sebuah dapur dan kamar mandi ketika kami berjalan lurus setelah melewati ruang tamu. “Nanti, kamu dan adikku tidur di kamarku, aku dan Ibu tidur di kamar Ibu…,” jelas Lara.
“Makasih banyak Ra…,” tak sadar aku memeluk tubuh Lara. Ia memelukku erat dengan penuh kelembutan.
Dulu aku begitu acuh tak pernah melirik orang seperti Lara, tak pernah berpikir kehidupan orang yang berada di sekitarku. Aku begitu angkuh, tak pernah bersyukur akan nikmat-Nya. Yang kubisa hanya mengeluh dan selalu berpikir ini tak adil ketika aku mendapat sebuah masalah, sampai aku kehilangan semuanya aku sadar bahwa Allah selalu adil pada setiap hamba-Nya.
Aku yang selalu hidup mewah tapi tak mengerti akan arti sebuah kehidupan. Namun Lara yang hidup serba kecukupan ia memiliki semuanya, kasih sayang dari orang disekitarnya yang selalu menganggap keberadaanya. Inilah keadilan yang Allah tunjukan padaku.
The End



Alamku Merintih




Udara panas terasa menyengat kulit ketika kuinjakan kakiku di kampung tercinta. Baru enam bulan saja kutinggalkan sudah membuatku begitu asing. Sepanjang perjalanan dari jalan raya hingga tugu batas desa, sawah-sawah kini disulap menjadi perumahan, tak ada padi yang menguning padahal bulan ini musim panen, tak ada pohon pisang, palawija, bahkan rumput liar pun enggan untuk berdiri. Sejauh mata memandang yang kulihat hanyalah rumah-rumah kokoh berdiri tegap dengan desain modern dan sepetak taman kompleks dengan dominasi pohon palem dan bougenvile aneka warna.
Kuhempaskan tubuhku di kasur. Lelah dan penat. Enam jam perjalanan cukup sudah menguras energiku. Kedua mataku pun mengatup dan tertidur.
***
Gemericik air dan kicauan burung menuntunku untuk berjalan mendekati sebuah danau kecil. Tampak beberapa pancuran mata air yang mengisi danau itu, bebatuan halus berbagai ukuran menjadi dasar dan batas danau dengan tanah. Kulihat sebuah pohon besar yang berdiri tak jauh dari danau, tampaknya pohon itulah yang menjadi sumber mata air. Selain itu, beberapa pohon kelapa dan kumpulan pohon bambu menambah sejuknya suasana alam.
Semilir angin memainkan rambutku yang terurai sebahu. Kubasuh mukaku hmmmm…. dinginnya membuat wajahku sejuk berseri, tak lupa kubasuh juga kakiku dan kurendam. Kupejamkan mata dan kunikmati nyanyian burung dengan alunan melodi air, sangat damai dan tenang. Namun, sesosok suara mengusikku “Bisakah kau lebih mendekat?” segera aku membuka mata, tampak seorang kakek tua duduk di sampingku.
“Apa maksud kakek?” aku tak mengerti apa yang dikatakan kakek ini.
“Jagalah mereka, mendekatlah dengan alam, bantulah mereka untuk tetap hidup di habitatnya. Jangan biarkan mereka mengambil semuanya,” kakek itu bicara dengan nada lirih penuh keprihatinan. Ia mengamati sekeliling dan matanya berhenti pada seekor burung yang sedang meneguk air danau di hadapan kami. Burung itu tampak berseri melihatku, ia  pun mengepakan sayapnya lalu terbang.
Segera kualihkan pandanganku ke samping tempat kakek itu duduk, namun tak kulihat seorang pun di sana. Ia menghilang.
***
Mataku terjaga dan aku tersadar bahwa aku bermimpi. Tapi, mimpi itu seakan nyata dan wajah kakek itu tak asing bagiku. Siapa sebenarnya dia? Dan apa yang hendak ia sampaikan padaku? Sungguh, tak sedikit pun terbersit makna yang kutangkap dari perkataannya.
“Mel…, bangun Mel. Cepat mandi lalu makan!” suara ibuku membangunkan seluruh kesadaranku.
“Iya Ma…,” segera aku turun dari tempat tidur dan membersihkan diri.
 Senja sudah menyapa disaat aku selesai mandi. Kubuka jendela kamar dan semburat jingga pun masuk, dari sini aku bisa melihat pemandangan indah pegunungan. Kuamati lukisan alam dari balik jendela kamarku. Tampaknya ada yang berbeda, dulu semuanya terlihat hijau oleh pepohonan namun sekarang terlihat warna coklat yang meluas diantara pemandangan hijau, seperti tanah yang gersang. Belum sempat berpikir lebih jauh, perutku berbunyi minta diisi. Segera aku ke dapur, di meja makan sudah tersedia ikan bakar dengan sambal kecap, tumis jamur, dan capcay. ‘Hmmm kelihatannya enak sekali’ perutku semakin memberotak. Aku pun makan dengan lahap.
“Enak tidak?” Mama mengagetkanku dari belakang.
“Enak banget Ma, udah lama gak makan masakan Mama…., makasih Ma!” Mama tersenyum melihat piringku yang bersih, tak sedikit pun makanan tersisa.
“Oh iya Ma, tadi ketika kubuka jendela pemandangan yang kulihat tak seperti biasanya. Tak hijau seperti dulu,” aku mengadu pada Mama bak anak kecil.
“Oh itu sih sejak sebulan kamu berangkat juga sudah seperti itu. Memang ulah para penambang pasir yang berkuasa susah untuk dihentikan…,” perkataan ibuku terhenti. Ia mengambil piring bekas makanku dan menyucinya di washtafle, Mama melanjutkan perkataannya, “…mereka tak memikirkan dampak dari perbuatannya, orang kecil seperti kita terpaksa menjual tanah mereka karena takut tanah mereka akan longsor akibat dari penggalian pasir itu. Hanya Nenek dan Kakek Lasmi yang sampai sekarang bisa mempertahankan tanah mereka. Masih ingat gak seorang nenek dan kakek yang sering kamu kunjungi di bawah bukit saat kamu pergi ke kebun dulu?”
Aku mencoba mengingat masa laluku, “Nenek dan kakek yang sering aku mintai minum itu bukan Ma?” Mama mengangguk tanda mengiyakan perkataanku.
Aku ingat saat kecil dulu aku sering ikut Mama dan Papa ke kebun, walaupun kebunku cukup jauh dari tempat tinggal Nenek dan Kakek Lasmi tapi aku sering diantar Mama untuk minta air minum atau hanya sekedar ikut mencuci kaki di sebuah danau kecil yang tak jauh dari rumah Nenek dan Kakek Lasmi. Bahkan ketika para petani hendak menyiram tanaman, mereka menggunakan air danau itu karena jika harus pergi ke sungai jaraknya cukup jauh.
“Terus sekarang Nenek dan Kakek Lasmi dimana Ma?”
“Sebulan yang lalu Kakek Lasmi meninggal dunia, kini tinggal Nenek Lasmi yang tinggal di sana,” tutur Mamaku.
Seakan teringat mimpiku tadi. Sebuah danau kecil yang bening dan seorang kakek yang berpesan padaku dengan nada lirihnya yang masih terngiang ditelingaku.
Senja yang kini beranjak semakin larut dan sembuat jingga pun berganti menjadi hitam yang kelam. Pemandangan hijau dengan noda coklat yang luas pun telah berganti menjadi gelap, kuniatkan dalam hati bahwa esok aku akan menemuinya. Menemui alam yang merintih. Kutatap langit dari balik jendela kamar tak ada satu pun bintang yang menyapaku.
***        
Pagi-pagi sekali sudah kusiapkan bekal makan siang untukku dan Nenek Lasmi. Hari ini aku akan berkunjung menemui Nenek Lasmi. Usai beres-beres rumah, aku segera pamitan sama Mama. Dengan mengenakan celana panjang, kaos dan sebuah tas jinjing berisi makanan aku pun berangkat.
Suasana pagi yang sejuk sangat terasa dari udara segar yang kuhirup. Sepanjang perjalanan tampak padi yang menguning dan siap di panen, pohon pisang yang berumpun, dan para petani yang siap turun ke sawah. Kuturuni beberapa anak tangga yang hanya terbuat dari tanah yang dibentuk menyerupai anak tangga. Disebelah kiriku mengalir sungai, walau airnya tak sebening dulu tapi masih lebih bersih sungai di sini daripada sungai di Jakarta yang penuh dengan limbah. Setelah melalui anak tangga aku lebih memilih berjalan melewati kebun daripada pesawahan. Naik turun bukit tak membuatku lelah malah membuatku semangat, sepanjang perjalanan aku bertemu beberapa orang yang hendak memupuk tanaman mereka.
Sebuah jembatan terbuat dari besi memanjang dihadapanku. Jembatan ini menghubungkan kedua sisi dari sungai yang tadi kulihat. Tepat dibalik sebuah bukit dihadapanku Nenek Lasmi tinggal.
Tak sampai memakan waktu sepuluh menit setelah aku menyebrangi jembatan, kini aku sudah sampai didepan rumah Nenek Lasmi dan pemandangan yang mencengangkan. Hamparan tanah gersang membentang dihadapanku, tepat dibalik rumah kayu milik Nenek Lasmi. Tak ada tumbuhan satupun. Sangat memprihatikan, dikala pemerintah sedang gencar-gencarnya mencanangkan gerakan seribu pohon tapi tanah gersang tak berpenghuni di hadapanku menjerit kesakitan.
“Tok tok tok…” terdengar bunyi ketukan tanganku yang beradu dengan pintu kayu. Kuamati rumah yang sederhana itu, semuanya terbuat dari kayu. Kursi dan meja kayu tertata di teras rumah. Sangat tradisional. Beberapa tanaman obat tumbuh dipekarangan rumah yang berpagar bambu. Di samping rumah sebelah kiri tampak pohon rambutan yang belum berbuah, dan disebelah kanan ditumbuhi tanaman palawija, sepetak sawah dan pohon mangga. Tampak jalan setapak yang beralur rapi, ‘jalan setapak itulah yang mengantarkan menuju danau kecil itu’ batinku. Dan di belakang rumah ini disanalah tanah gersang itu bersemayam.
Lama kutunggu belum ada jawaban. Sekali lagi aku mengetuk pintu. Seseorang yang rapuh menyambutku dibalik pintu. Raut mukanya tampak bingung menyambut kedatanganku.
“Maap, Neng ini siapa ya?” tanyanya.
“Hmmm…, aku Melati Nek. Anaknya Pak Hasan,” sedikit kujelaskan dengan menyebutkan nama ayahku kuharap beliau ingat.
“Oh…, Hasan yang punya kebun di sebelah timur sana,” ingatnya sembari menunjuk ke sebelah kiri.
“Iya Nek….”
“Kalau begitu silahkan masuk dulu, maap Neng rumah nenek berantakan. Maklum jarang-jarang ada tamu yang berkunjung ke rumah nenek. Ya selain ayah dan ibu kamu….,” mukanya tampak sedih. Ia pun melanjutkan, “Neng Mel tunggu dulu sebentar Nenek buatkan minum dulu ya…”
“Tak perlu repot-repot Nek,….” cegahku, “Mel kesini cuma ingin main dan melihat-lihat pemandangan. Lagi pula Mel bawa makanan, tadi Mama membuatkan ini untuk Nenek,” kataku sembari memperlihatkan tas jinjingku.
“Wah jadi ngerepotin Neng Mel.”
“Oh tidak kok Nek, lagian Mel seneng jalan-jalan ke sini sekalian olahraga.”
Kami pun terhanyut dalam perbincangan ringan. Nenek Lasmi menceritakan semua yang terjadi di tanah tandus itu. “Semuanya berawal ketika Sanu membuka lahannya untuk penambangan pasir…,” yang kuingat Pak Sanu adalah salah satu orang kaya di kampung kami ia memiliki kekuasaan di desa kami, Nek Lasmi melanjutkan perkataannya, “…hanya  dalam beberapa hari lahannya yang berada tepat dibalik rumah nenek itu habis dikeruk….,” aku masih ingat dulu dibelakang rumah Nenek Lasmi bukan dataran rendah seperti sekarang namun sebuah tebing yang di atasnya penuh dengan pohon mangga. Pohon mangga itulah yang menjadi sumber mata pencaharian para penduduk di sini. “Setelah lahannya habis ia membeli tanah milik para petani untuk dijadikan penambangan pasir. Para petani itu terpaksa menjual tanahnya, mereka takut tanahnya terkena longsor. Sekarang dataran tinggi yang menjulang disulap menjadi hamparan tanah kosong yang gersang. Yang tertinggal bongkahan batu dan tanah tandus tak berpenghuni. Tak ada yang peduli yang mereka pikirkan adalah pundi-pundi uang yang masuk ke kantong mereka. Tapi nenek sangat bersyukur, ayah Nak Mel dan para petani lainnya yang tak tergoda untuk menjual tanah mereka sehingga proyek nakal itu bisa terhenti,” ia pun menghentikan perkatananya diiringi hembusan nafas panjang.
Mendengar semua cerita Nek Lasmi aku sangat miris melihat kenyataan yang terjadi. Mereka yang melakukan hal ini adalah orang-orang yang berpengetahuan dan mengeyam bangku pendidikan, tapi perbuatan mereka seperti orang tak berpendidikan. Uang telah membutakan mata hati mereka, tanpa memikirkan kehidupan rakyat kecil yang bergantung pada sepetak lahan.
Seusai perbincanganku di rumah Nek Lasmi, aku dan Nek Lasmi melihat-lihat kebun palawija milik Nek Lasmi. Semua tanaman tertata rapi walaupun lahan itu tak luas tapi berbagai macam tanaman dapat tumbuh subur. Kami pun terus berjalan menelusuri jalan setapak. Tak jauh dari tanaman palawija ada sebuah makam, aku meyakini bahwa makam itu adalah makam Kakek Lasmi. Kami berhenti sebentar dan terlihat Nek Lasmi memandangi makam itu dengan penuh kerinduan. Sejenak kami memanjatkan do’a di sana. Nenek lasmi pun menuntunku ke sebuah danau kecil tak jauh dari makam itu. Danau yang bersih dengan batuan yang halus mengelilingi danau itu. Beberapa pancuran mengisi danau itu, sama seperti dalam mimpiku. Yang berbeda hanyalah air yang bersih tak sebening dalam mimpiku, dan tumbuhan yang berdiri tak sehijau dalam bayanganku. Kulihat burung kecil sedang melepas dahaganya, sejenak ia menoleh ke arahku tampakanya ia tersenyum melihat kedatanganku. Aku tersadar inilah pesan yang ingin disampaikan Kakek Lasmi padaku, ia ingin aku menjaga habitat mereka. Burung-burung, tumbuhan dan semua yang hidup di alam ini perlu dilestarikan. Dalam hati aku berjanji pada diriku untuk untuk mengembalikan tanah yang gersang itu hijau seperti dulu agar alam pun berhenti merintih.
TAMAT