"Pagi Rere…"
"Pagi Lisa…" sapaku pada teman sebangkuku. Hari ini Kayla
duduk di paling belakang. Maklum sekarang pelajaran Kimia, dan dia belum hapal
tabel periodik golongan utama. Padahal tetap aja mau duduknya di luar juga
pasti kena sama yang namanya Bu Irna yang terkenal galak ini.
Aku sendiri pun bukan karena sudah hapal betul dengan unsur kimia
golongan utama ini lantas duduk di depan. Karena sudah tak ada lagi bangku
kosong, jadi terpaksa nerimo nasib.
Sambil komat kamit aku terus menghapal,"….Beli Mangga Cari
Sisir Baru dan Rapi…." rumus kirata ini sangat membantu. Dikira-kira tapi
nyata heheh…., arti kata-kata di atas tak lain adalah Be, Mg, Ca, Sr, Ba dan
Ra, alias golongan IIA.
Belum juga selesai menghapal, sang Master sudah datang.
"Pagi anak-anak…" sambil masuk kelas Bu Irna menyapa kami.
"Pagi Buuuu…." koor anak-anak seakan mengeluarkan rasa
gugup dan kesal mereka yang masih belum hapal juga.
Ketua kelas segera memberi komando untuk berdo'a. dalam do'a aku
hanya berharap mudah-mudahan aku bisa hapal semua unsur di golongan A ini.
Selesai berdo'a Bu Irna langsung memulai tesnya. Tes lisan dengan
menyebutkan unsur golongan utama atau golongan A secara acak tergantung Bu Irna
yang menyuruh. Huft…., ini kelemahanku. Kalo diurut dari awal aku kemungkinan
hapal, lha ini di acak aku selalu lupa di awal.
"Baik Ryan kamu maju…," giliran sang ketua kelas mendapat
undian pertama.
"Semangat Ryan…," ucapku memberi semangat ketika Ryan
melewati bangkuku.
Terlihat muka gugup Ryan ketika Bu Irna menyuruhnya untuk
menyebutkan unsur golongan VIIIA. Dalam hati aku ikut menghapal unsur golongan
VIIIA itu. Begitu seterusnya sampai aku dipanggil.
"Selanjutnya, Delonix Regia….," ini yang membuat semua
siswa merasa jantung mau copot berharap nama mereka tidak dipanggil.
*****
Udara segar seakan menyambutku ketika aku keluar dari ruangan. Beban
yang menggunung seakan terangkat dan menguap mengikuti hembusan angin.
"Hmmmmm…..," helaan nafasku terdengar mendesah
mengeluarkan semua beban.
"Re…, makan yuk!" tanpa ba bi bu lagi Kayla menarik
tanganku dan memaksaku mengiringi langkahnya menuju kantin.
"Sabar dikit dong…"
"Perut gua udah gak bisa nahan sabar lagi. Ujian tadi memaksa
cacing-cacing diperutku terus berkicau," langkahnya semakin cepat.
Bangku kantin hampir penuh terisi ketika kami datang ke sana. Untung
ada sekelompok kakak kelas yang sudah selesai makannya dan hendak pergi. Segera
kami menempati tempata duduk itu. Dan tinggal dua bangku kosong yang tersisa.
"Kay, lu yang pesen biar gua yang jagain nih bangku,"
padahal dalam hati 'males aja harus pesen' heheh.
"Huh lu mah kebiasaan,
ya udah deh berhubung gua yang maksa lu kesini jadi gua yang pesen. Tapi
dengan catatn gua gak bayarin. OK?"
"Iya iya, gih cepetan!"
Daripada bete dengerin sekelompok kakak kelas yang ngomongin
cowok mulu, mendingan dengerin musik di
MP3. Untung tadi nih MP3 aku masukin ke saku rok.
Alunan musik mampu menghilangkan penat seusai tes kimia tadi.
Suara-suara kakak kelas tak lagi kuhiraukan. Kunikmati saja sejenak alunan lagu
yang dinyanyikan suara merdunya Afghan-Terima Kasih Cinta. Lirik demi lirik
berlalu hingga tak sadar seseorang duduk di sampingku. Hmmmm…., yup Kayla
tampak bete yang mungkin dari tadi tak kuhiraukan. Aku melepas headshet
dari telingaku.
"Ups…, kukira gak ada orang hehehe…," berusaha merayu
Kayla yang bibirnya manyun hampir lima centi.
"Ini neng pesenannya…," si bibi kantin mengntarkan pesanan
kami. Dua gelas jus jeruk dan dua
mangkuk mie ayam siap disantap. Kayla sepertinya tak sabar melihat makanan yang
disajikan. "Silahkan Neng!" ujar si bibi sembari menyodorkan makan itu.
"Makasih ya bi…," ujar kami berbarengan.
"Hmmm…, lazies…. Yuk buruan makan!" Kayla langsung
menyantap makanannya.
Aku pun mengikutinya setelah berdo'a. Seger sekali, begitu kuseruput
jus jeruknya.
Kantin tak sepenuh tadi dan ternyata anak-anak kelas XII tak lagi
duduk di sampingku. Mungkin mereka sudah selesai. Baguslah.
Aku masih menikmati makananku, dengan tiba-tiba seseorang duduk di
sampingku.
"Hmmm…, ini kosong?" suara yang sedikit serak dan halus
bertanya kepadaku.
Kepalaku menoleh ke samping dan dua orang kakak kelas berdiri di
sampingku meminta dipersilahkan duduk. Yang bertanya padaku aku tak tahu persis
namanya. Kulitnya putih, rambutnya agak sedikit berantakan, dengan baju seragam
yang sedikit dikeluarkan. Tapi yang satunya aku tahu. Yup, Kak Yudhistira. Ia
memilih duduk di samping Kayla. Lha posisi ini yang bikin aku gak nyaman.
Membuatku gugup saja. Geer banget si
gua, emang dia bakalan liatin gua makan gitu?
Makanan yang masih ditenggorokan hampir saja tersedak begitu
melihatnya. Untung Kayla tahu, ia segera menjawab pertanyaan kakak itu.
"Oh, kosong Kak, silahkan!" sambil senyum-senyum gak jelas.
"Oh iya, kenalin gue Randy dan ini temenku Yudhistira,"
tangannya mengajak bersalaman. Aku pun tak enak dan menyambut perkenalnnya itu.
"Delonix Regia…."
Dari caranya ia memperkenalkan diri dan Kak Yudhistira, aku tahu mungkin ia
bukan anak OSIS. Ya, kalo dia anak OSIS ngapain juga ia memperkenalkan Kak
Yudhis. Kan tau yang bikin heboh di MOS itu salah satunya gue.
Belum juga merasa lega karena ternyata tidak semua orang tahu
kejadian di MOS itu. Ia langsung menyambung perkataannya.
"Ohm…, jadi ini yang namanya Delonix Regia, Dhis?"
selorohnya sambil menggoda Kak Yudhis. Jleb, dugaanku salah. Segitu hebohnya
ya? Sampai-sampai yang tak ikut MOS juga tahu. Aku hanya tersenyum.
"….." kak Yudhis hanya diam tak menanggapi. Ia hanya
tersenyum.
"By the way, namamu
siapa?" tanya Kak Randy pada Kayla.
"Kayla…," sapanya ramah semanis mungkin. Huh dasar Kayla
liat yang bening dikit aja ngiler.
Dan kami pun sibuk dengan makanan kami masing-masing setelah pesenan
mereka datang. Aku dan Kayla selesai makan, ketika makanan mereka masih belum
habis.
Sebagai adik kelas yang sopan atau lebih tepatnya berusaha sesopan
mungkin karena masih ada rasa segan dan takut. Kami berpamitan.
"Kami duluan ya Kak?" ujar Kayla.
"Ok siip, " ujar Kak Randy. Kak Yudhis hanya tersenyum.
Bete kenapa Kak Randy yang jawab. Dia hanya tersenyum mungkin dia masih malu
dengan kejadian itu, tapi kenapa waktu dulu ia tak terlihat malu dan gugup,
malah sepertinya gentle banget.
Beberapa meter setelah meninggalkan kantin.
"Ecie yang nervous…" goda Kayla. Tangannya menyikutku.
"Idih apaan? Siapa juga yang nervous. Lu tuh yang sok manis,
apa-apaan sok senyam-senyum gitu," balasku.
"Itu menandakan kalo gue tuh ramah. Lu tuh yang jutek, gak baik
tau. Ntar Kak Yudhis malah jadi ilfeel sama lu," Kayla masih menggodaku.
"Terus aja bahassss….," aku mempercepat langkahku.
Kayla mengejar langkahku dengan masih menggodaku, " Idih
ngambek ni ye?"
Teeeeeeeet…, suara bel menjerit menyuruh kami segera masuk. Ini nih
gara-gara kimia tadi yang telat istirahatnya. Untungnya udah selesai makan.
*****
Pelajaran seni menyambutku. Dan ini salah satu pelajaran yang tak
begitu aku kuasai. Kalo kitanya udah menjudge gak suka pada satu
pelajaran maka efeknya walaupun pelajaran itu mudah bahkan santai tetap aja
akan memberikan tekanan. Dan buktinya sekarang terjadi padaku. Aku begitu
tertekan dengan harus melukis sebuah vas bunga. Ottokie….
****
Hari panas dan kabar buruk kalo sekarang aku harus naik angkot. Lama
nunggunya.
"Re gua pulang duluan ya…," Kayla pamitan. Rumahnya
berlawanan arah denganku ia juga sama naik angkot.
Kami berdua memang mengenaskan kalo melihat orang lain yang pada
dianterin sama pacarnya atau dijemput sama sopirnya. Dan kini aku menunggu mang
sopir angkot di pinggir jalan yang panas. Beberapa angkot yang bukan ke arah
rumahku tampak mengajakku. Aku hanya menolak dengan gelengan kepala. Udah lelah
menunggu, pada kemana sih angkot? Demo? Perasaan gak ada wacana BBM sekarang
mau naik.
Hampir 30 menit lebih aku masih menunggu. Memang angkot yang menuju
ke arah rumahku terbilang langka kalo lewat jalur ini. Jadi wajib dilindungi.
Dan kulihat sekolah sudah tak ramai lagi, sepertinya sudah pada pulang karena
lelah dengan kegiatan hari ini.
Tak lama setelah aku menggerutu. Sebuah motor berhenti di depanku.
Pengemudinya membuka kaca helmnya.
"Pulang kemana?"
suaranya sangat ku kenal. Aku masih terpaku bingung. Untung segera tersadar
dengan suara klakson mobil yang berbunyi.
"Hmmmm…., Cempaka Indah
Kak," suaraku terdengar ragu.
"Mau bareng? Kebetulan
jalurnya sama," ajaknya.
"Gak apa-apa nih Kak? Ntar ada yang marah lagi," tanyaku
sedikit bercanda mencairkan suasana.
"Hmmmm siapa? Tenanglah gak ada kok…, naiklah!" tanpa ba
bi bu ia menyuruhku naik.
"Ok deh." Aku segera naik ke motornya. Selama perjalanan
masih tak ada kata, ia sepertinya serius memperhatikan jalanan dan aku serius
memikirkannya. Tadi di kantin ia sangat dingin bahkan tak menyapaku tapi
sekarang ia sangat ramah dan perhatian.
Setelah masuk pertigaan ia menanyakan arah padaku. Kami masuk ke
perumahan, aku masih mengarahkan jalan. Dan akhirnya kami berhenti di sebuah
rumah yang penuh dengan pohon flamboyan yang bermekaran sampai daunnya pun tak
terlihat. Memang sekarang musim kemarau dan waktunya flamboyan berbunga.
Aku turun, ia melepaskan helmnya.
"Makasih ya Kak, Kakak mau mampir dulu?" tanyaku walau aku
ragu dengan pertanyaannku sendiri. Aku berharap ia tak mampir, aku sudah tak
kuat menahan luapan emosi ini. Nervous, seneng, bingung, dan ragu
bercampur aduk jadi satu.
"Lain kali aja, sekarang Kak duluan ya…, " nada bicaranya
sangat ramah diiringi senyuman. Ia memasangkan kembali helmnya, sejenak ia
terhenti. "Oh iya, salam buat orang rumah ya Re," ia pun menjalankan
motornya dan menyalakan klakson dengan anggukan kepala menoleh ke arahku tanda
ia berpamitan. Aku terpaku masih memandangnya menghilang di tikungan. Hari ini
kesempatan itu muncul. Mudah-mudahan masih ada kesempatan lagi di lain hari.
Di rumah tak ada siapa-siapa, pantesan sepi banget. Kuhampiri kulkas, segernya setelah kuteguk
jus jeruk. Dan senyuman itu masih terbayang. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar