Jumat, 12 Desember 2014

Delonix Regia BAB IV



"Pagi Rere…"
"Pagi Lisa…" sapaku pada teman sebangkuku. Hari ini Kayla duduk di paling belakang. Maklum sekarang pelajaran Kimia, dan dia belum hapal tabel periodik golongan utama. Padahal tetap aja mau duduknya di luar juga pasti kena sama yang namanya Bu Irna yang terkenal galak ini.
Aku sendiri pun bukan karena sudah hapal betul dengan unsur kimia golongan utama ini lantas duduk di depan. Karena sudah tak ada lagi bangku kosong, jadi terpaksa nerimo nasib.
Sambil komat kamit aku terus menghapal,"….Beli Mangga Cari Sisir Baru dan Rapi…." rumus kirata ini sangat membantu. Dikira-kira tapi nyata heheh…., arti kata-kata di atas tak lain adalah Be, Mg, Ca, Sr, Ba dan Ra, alias golongan IIA.
Belum juga selesai menghapal, sang Master sudah datang.
"Pagi anak-anak…" sambil masuk kelas Bu Irna menyapa kami.
"Pagi Buuuu…." koor anak-anak seakan mengeluarkan rasa gugup dan kesal mereka yang masih belum hapal juga.
Ketua kelas segera memberi komando untuk berdo'a. dalam do'a aku hanya berharap mudah-mudahan aku bisa hapal semua unsur di golongan A ini.
Selesai berdo'a Bu Irna langsung memulai tesnya. Tes lisan dengan menyebutkan unsur golongan utama atau golongan A secara acak tergantung Bu Irna yang menyuruh. Huft…., ini kelemahanku. Kalo diurut dari awal aku kemungkinan hapal, lha ini di acak aku selalu lupa di awal.
"Baik Ryan kamu maju…," giliran sang ketua kelas mendapat undian pertama.
"Semangat Ryan…," ucapku memberi semangat ketika Ryan melewati bangkuku.
Terlihat muka gugup Ryan ketika Bu Irna menyuruhnya untuk menyebutkan unsur golongan VIIIA. Dalam hati aku ikut menghapal unsur golongan VIIIA itu. Begitu seterusnya sampai aku dipanggil.
"Selanjutnya, Delonix Regia….," ini yang membuat semua siswa merasa jantung mau copot berharap nama mereka tidak dipanggil.

*****
Udara segar seakan menyambutku ketika aku keluar dari ruangan. Beban yang menggunung seakan terangkat dan menguap mengikuti hembusan angin.
"Hmmmmm…..," helaan nafasku terdengar mendesah mengeluarkan semua beban.
"Re…, makan yuk!" tanpa ba bi bu lagi Kayla menarik tanganku dan memaksaku mengiringi langkahnya menuju kantin.
 "Sabar dikit dong…"
"Perut gua udah gak bisa nahan sabar lagi. Ujian tadi memaksa cacing-cacing diperutku terus berkicau," langkahnya semakin cepat.
Bangku kantin hampir penuh terisi ketika kami datang ke sana. Untung ada sekelompok kakak kelas yang sudah selesai makannya dan hendak pergi. Segera kami menempati tempata duduk itu. Dan tinggal dua bangku kosong yang tersisa.
"Kay, lu yang pesen biar gua yang jagain nih bangku," padahal dalam hati 'males aja harus pesen' heheh.
"Huh lu mah kebiasaan,  ya udah deh berhubung gua yang maksa lu kesini jadi gua yang pesen. Tapi dengan catatn gua gak bayarin. OK?"
"Iya iya, gih cepetan!"
Daripada bete dengerin sekelompok kakak kelas yang ngomongin cowok  mulu, mendingan dengerin musik di MP3. Untung tadi nih MP3 aku masukin ke saku rok.
Alunan musik mampu menghilangkan penat seusai tes kimia tadi. Suara-suara kakak kelas tak lagi kuhiraukan. Kunikmati saja sejenak alunan lagu yang dinyanyikan suara merdunya Afghan-Terima Kasih Cinta. Lirik demi lirik berlalu hingga tak sadar seseorang duduk di sampingku. Hmmmm…., yup Kayla tampak bete yang mungkin dari tadi tak kuhiraukan. Aku melepas headshet dari telingaku.
"Ups…, kukira gak ada orang hehehe…," berusaha merayu Kayla yang bibirnya manyun hampir lima centi.
"Ini neng pesenannya…," si bibi kantin mengntarkan pesanan kami. Dua gelas jus jeruk  dan dua mangkuk mie ayam siap disantap. Kayla sepertinya tak sabar melihat makanan yang disajikan. "Silahkan Neng!" ujar si bibi sembari  menyodorkan makan itu.
"Makasih ya bi…," ujar kami berbarengan.
"Hmmm…, lazies…. Yuk buruan makan!" Kayla langsung menyantap makanannya.
Aku pun mengikutinya setelah berdo'a. Seger sekali, begitu kuseruput jus jeruknya. 
Kantin tak sepenuh tadi dan ternyata anak-anak kelas XII tak lagi duduk di sampingku. Mungkin mereka sudah selesai. Baguslah.
Aku masih menikmati makananku, dengan tiba-tiba seseorang duduk di sampingku.
"Hmmm…, ini kosong?" suara yang sedikit serak dan halus bertanya kepadaku.
Kepalaku menoleh ke samping dan dua orang kakak kelas berdiri di sampingku meminta dipersilahkan duduk. Yang bertanya padaku aku tak tahu persis namanya. Kulitnya putih, rambutnya agak sedikit berantakan, dengan baju seragam yang sedikit dikeluarkan. Tapi yang satunya aku tahu. Yup, Kak Yudhistira. Ia memilih duduk di samping Kayla. Lha posisi ini yang bikin aku gak nyaman. Membuatku gugup saja. Geer banget si  gua, emang dia bakalan liatin gua makan gitu?
Makanan yang masih ditenggorokan hampir saja tersedak begitu melihatnya. Untung Kayla tahu, ia segera menjawab pertanyaan kakak itu. "Oh, kosong Kak, silahkan!" sambil senyum-senyum gak jelas.
"Oh iya, kenalin gue Randy dan ini temenku Yudhistira," tangannya mengajak bersalaman. Aku pun tak enak dan menyambut perkenalnnya itu.
 "Delonix Regia…." Dari caranya ia memperkenalkan diri dan Kak Yudhistira, aku tahu mungkin ia bukan anak OSIS. Ya, kalo dia anak OSIS ngapain juga ia memperkenalkan Kak Yudhis. Kan tau yang bikin heboh di MOS itu salah satunya gue.
Belum juga merasa lega karena ternyata tidak semua orang tahu kejadian di MOS itu. Ia langsung menyambung perkataannya.
"Ohm…, jadi ini yang namanya Delonix Regia, Dhis?" selorohnya sambil menggoda Kak Yudhis. Jleb, dugaanku salah. Segitu hebohnya ya? Sampai-sampai yang tak ikut MOS juga tahu. Aku hanya tersenyum.
"….." kak Yudhis hanya diam tak menanggapi. Ia hanya tersenyum.
"By the way, namamu siapa?" tanya Kak Randy pada Kayla.
"Kayla…," sapanya ramah semanis mungkin. Huh dasar Kayla liat yang bening dikit aja ngiler.
Dan kami pun sibuk dengan makanan kami masing-masing setelah pesenan mereka datang. Aku dan Kayla selesai makan, ketika makanan mereka masih belum habis.
Sebagai adik kelas yang sopan atau lebih tepatnya berusaha sesopan mungkin karena masih ada rasa segan dan takut. Kami berpamitan.
"Kami duluan ya Kak?" ujar Kayla.
"Ok siip, " ujar Kak Randy. Kak Yudhis hanya tersenyum. Bete kenapa Kak Randy yang jawab. Dia hanya tersenyum mungkin dia masih malu dengan kejadian itu, tapi kenapa waktu dulu ia tak terlihat malu dan gugup, malah sepertinya gentle banget.
Beberapa meter setelah meninggalkan kantin.
"Ecie yang nervous…" goda Kayla. Tangannya menyikutku.
"Idih apaan? Siapa juga yang nervous. Lu tuh yang sok manis, apa-apaan sok senyam-senyum gitu," balasku.
"Itu menandakan kalo gue tuh ramah. Lu tuh yang jutek, gak baik tau. Ntar Kak Yudhis malah jadi ilfeel sama lu," Kayla masih menggodaku.
"Terus aja bahassss….," aku mempercepat langkahku.
Kayla mengejar langkahku dengan masih menggodaku, " Idih ngambek ni ye?"
Teeeeeeeet…, suara bel menjerit menyuruh kami segera masuk. Ini nih gara-gara kimia tadi yang telat istirahatnya. Untungnya udah selesai makan.
*****
Pelajaran seni menyambutku. Dan ini salah satu pelajaran yang tak begitu aku kuasai. Kalo kitanya udah menjudge gak suka pada satu pelajaran maka efeknya walaupun pelajaran itu mudah bahkan santai tetap aja akan memberikan tekanan. Dan buktinya sekarang terjadi padaku. Aku begitu tertekan dengan harus melukis sebuah vas bunga. Ottokie….
****
Hari panas dan kabar buruk kalo sekarang aku harus naik angkot. Lama nunggunya.
"Re gua pulang duluan ya…," Kayla pamitan. Rumahnya berlawanan arah denganku ia juga sama naik angkot.
Kami berdua memang mengenaskan kalo melihat orang lain yang pada dianterin sama pacarnya atau dijemput sama sopirnya. Dan kini aku menunggu mang sopir angkot di pinggir jalan yang panas. Beberapa angkot yang bukan ke arah rumahku tampak mengajakku. Aku hanya menolak dengan gelengan kepala. Udah lelah menunggu, pada kemana sih angkot? Demo? Perasaan gak ada wacana BBM sekarang mau naik.
Hampir 30 menit lebih aku masih menunggu. Memang angkot yang menuju ke arah rumahku terbilang langka kalo lewat jalur ini. Jadi wajib dilindungi. Dan kulihat sekolah sudah tak ramai lagi, sepertinya sudah pada pulang karena lelah dengan kegiatan hari ini.
Tak lama setelah aku menggerutu. Sebuah motor berhenti di depanku. Pengemudinya membuka kaca helmnya.
 "Pulang kemana?" suaranya sangat ku kenal. Aku masih terpaku bingung. Untung segera tersadar dengan suara klakson mobil yang berbunyi.
 "Hmmmm…., Cempaka Indah Kak," suaraku terdengar ragu.
 "Mau bareng? Kebetulan jalurnya sama," ajaknya.
"Gak apa-apa nih Kak? Ntar ada yang marah lagi," tanyaku sedikit bercanda mencairkan suasana.
"Hmmmm siapa? Tenanglah gak ada kok…, naiklah!" tanpa ba bi bu ia menyuruhku naik.
"Ok deh." Aku segera naik ke motornya. Selama perjalanan masih tak ada kata, ia sepertinya serius memperhatikan jalanan dan aku serius memikirkannya. Tadi di kantin ia sangat dingin bahkan tak menyapaku tapi sekarang ia sangat ramah dan perhatian.
Setelah masuk pertigaan ia menanyakan arah padaku. Kami masuk ke perumahan, aku masih mengarahkan jalan. Dan akhirnya kami berhenti di sebuah rumah yang penuh dengan pohon flamboyan yang bermekaran sampai daunnya pun tak terlihat. Memang sekarang musim kemarau dan waktunya flamboyan berbunga.
Aku turun, ia melepaskan helmnya.
"Makasih ya Kak, Kakak mau mampir dulu?" tanyaku walau aku ragu dengan pertanyaannku sendiri. Aku berharap ia tak mampir, aku sudah tak kuat menahan luapan emosi ini. Nervous, seneng, bingung, dan ragu bercampur aduk jadi satu.
"Lain kali aja, sekarang Kak duluan ya…, " nada bicaranya sangat ramah diiringi senyuman. Ia memasangkan kembali helmnya, sejenak ia terhenti. "Oh iya, salam buat orang rumah ya Re," ia pun menjalankan motornya dan menyalakan klakson dengan anggukan kepala menoleh ke arahku tanda ia berpamitan. Aku terpaku masih memandangnya menghilang di tikungan. Hari ini kesempatan itu muncul. Mudah-mudahan masih ada kesempatan lagi di lain hari.
Di rumah tak ada siapa-siapa, pantesan sepi banget.  Kuhampiri kulkas, segernya setelah kuteguk jus jeruk. Dan senyuman itu masih terbayang. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar