Hari ini sekolah libur. Hatiku senang sekali. Aku
bisa main sepuasnya dengan wayang-wayangku. Mereka masih tertata rapi dalam
sebuah lemari kaca di samping meja belajarku.
Tiga buah wayang yang aku punya adalah para tokoh
Pandawa dalam cerita Mahabharata. Yudhistira, Bima, dan Arjuna. Baru ketiga
tokoh itu yang Mama belikan untukku. Itu juga aku dapatkan disaat nilai raporku
bagus. Jadi, aku harus terus berusaha keras dan tekun belajar agar dua tokoh
Pandawa lainnya bisa kumiliki.
Sejak kecil, Mama sering menceritakan kepadaku kisah
Pandawa Lima sebelum aku tidur. Dengan gaya mendongeng Mama yang khas membuat
aku menyukai kelima tokoh Pandawa itu. Kisah Yudhistira yang bijaksana, Bima
yang kuat dan tangguh, Arjuna si tampan yang pandai memanah, dan si kembar
Nakula dan Sadewa menjadi pengantar sebelum aku terlelap.
Kebiasaan sejak TK itu masih terbawa sampai sekarang,
walaupun aku sudah duduk di kelas tiga SD.
Bedanya, dulu Mama yang membacakannya untukku. Namun sekarang, aku
sendiri yang membaca bukunya sebelum tidur.
Aku mulai mengambil tiga buah wayangku dari lemari.
Dengan hati-hati kupegang ketiga buah wayang golek itu dan mulai memainkkannya
seperti main boneka-bonekaan. Aku tidak bisa memainkannya seperti dalang dalam
acara-acara pewayangan. Lagi pula Mama selalu bilang, “Kamu itu anak perempuan,
masa mainannya dalang-dalangan.”
Disaat aku tengah asik memainkan wayang-wayangku,
terdengar suara pintu kamarku dibuka. “Sinta mainnya di bawah ya, barengan sama
Riyan!” pinta Mama membujukku.
“Riyan itu suka jailin Sinta di sekolah. Sinta gak
mau ah main sama Riyan,” jawabku malas.
“Kalo Sinta gak mau main, ya sudah biar Mama aja
yang main sama Riyan. Kami mau bikin kue nastar, nanti Sinta jangan minta ya!” Mama
mulai menggodaku. Mama tahu kalo aku paling suka makan kue nastar.
Akhirnya karena takut gak dikasih kue nastar, aku
menuruti permintaan Mama. Aku dan Riyan main wayang-wayangan, sementara Mama
dan tante Rita mamanya Riyan sibuk membuat kue di dapur.
Ternyata Riyan juga suka main wayang-wayangan, ia
juga mempunyai beberapa koleksi wayang di rumahnya. Riyan memainkan
wayang-wayang itu seperti dalang yang sedang bercerita. Sekarang Riyan sedang
memainkan tokoh Bima di tangannya, “Wahai Kakakku biar aku saja yang menghadapi
para Korawa itu,” ucap Riyan dengan suara keras. Sebuah dialog ketika Bima
meminta izin pada Yudhistira untuk melawan penjahat Korawa yang terus membuat
kekacauan.
Tokoh Yudhistira dan Arjuna masih ditanganku. Riyan
meminta tokoh Yudhistira untuk dimainkannya. “Sini berikan padaku
Yudhistiranya!” pintanya memaksaku.
“Ih gak boleh, kamu kan udah pegang Bima. Lagian
wayang ini milikku bukan milikmu,” jawabku kekeh.
Karena aku bersikeras tidak mau memberikan tokoh
Yudhistira pada Riyan, jadi aku dan Riyan saling tarik menarik memperebutkan
Yudhistira. Dan sesuatu yang paling tidak aku inginkan pun terjadi. Kepala
wayang yang dipegang Riyan terputus dari badannya yang dipegang olehku.
Sebuah benda yang berharga bagiku, kini rusak
gara-gara Riyan. Aku marah dan menangis. Mama dan tante Rita segera menghampiri
kami, ketika mendengar tangisanku. Mama berusaha membujukku dan mendiamkan
tangisanku. Tante Rita merasa bersalah dan beberapa kali minta maap padaku,
tapi Riyan hanya diam.
****
Dua hari sejak kejadian itu aku masih sedih.
Walaupun Yudhistira sudah diperbaiki tetap saja tak seutuh yang dulu. Kini
tinggal Bima dan Arjuna yang masih gagah di dalam lemariku, sementara
Yudhistira terkulai lemah di samping Bima.
Mama masuk ke kamarku disaat aku masih memandangi
wayang-wayangku. Ia mendekatiku. Kulihat Mama membawa sebuah jinjingan. “Apa
itu Ma?” tanyaku penasaran melihat jinjingan yang dibawa Mama.
“Ini dari Riyan, tadi ia memberikannya pada Mama.
Katanya sebagai permintaan maap karena telah merusak wayangmu,” Mama memberikan
jinjingan itu padaku.
Aku membukanya. Tampak wayang Yudhistira yang masih
baru, dan dua buah wayang Nakula dan Sadewa. Mataku terbelalak kaget, selain
pengganti wayangku yang rusak aku mendapat dua tokoh Pandawa yang selama ini
kuinginkan.
“Sekarang, Sinta sudah gak marah lagi sama Riyan
kan?” tanya Mama.
Aku terdiam sebentar, “Sinta sudah maapin Riyan kok
Ma, lagian Sinta sekarang sadar kalo bukan Riyan saja yang salah. Sinta juga
salah, coba kalo waktu itu Sinta langsung memberikan wayang itu pada Riyan.
Pasti gak bakalan patah,” sesalku.
“Hmmm anak Mama pintar. Mulai sekarang Sinta gak
boleh marahan lagi sama Riyan. Baiknya Sinta juga minta maap dan bilang terima
kasih sama Riyan,” nasehat Mama sembari mengelus rambutku dan memelukku.
“Besok aku akan menemui Riyan dan minta maap
padanya, sekalian Sinta mau bilang terima kasih untuk wayang-wayangnya.
Sekarang tokoh Pandawa Sinta sudah lengkap,” ucapaku dalam pelukan Mama.
Kulihat Mama tersenyum mendengar perkataanku. Sekarang aku pun merasa lega. Ternyata
dengan saling memaapkan semuanya terasa ringan. TAMAT