Kamis, 22 Mei 2014

Delonix Regia BAB II


Walaupun sudah pernah mengikuti masa orientasi di SMP dulu, namun tetap saja ada rasa takut dan deg-degan ketika kegiatan itu muncul lagi saat masuk SMA. Sepertiku yang sudah dua hari ini mengikuti masa orientasi, dan hari ini aku senang sekali. Karena hari ini adalah hari terakhir masa orientasi, sejak pukul 06.00 aku sudah berada di sekolah. Semua siswa sudah dikumpulkan di lapangan basket, lengkap dengan atribut dan segala macam persyaratan.
Seseorang menyikutku dari samping. Dengan suara berbisik karena takut ketahuan panitia aku bertanya, “Kenapa Kay?”
“Aduh, surat gua ketinggalan. Gimana nih?” bisiknya tak kalah pelan dengan suara angin.
“Surat apaan?” tanyaku polos.
“Yaelah, masa lo lupa sih. Itu tuh, surat buat kakak panitia. Jangan bilang lu belum bikin?”
“Emang belum,” jawabku polos. “Gua lupa. Habisnya persyaratannya banyak banget. Jadi gua belum sempat bikin.”
“Terus kita gimana nih?” terdengar suara yang panik dalam pertanyaan Kayla.
“Ya udah, tenang aja. Kan masih ada waktu istirahat. Kita bikin pas istirahat,” ujarku menenangkan.
“Terus, kalo sekarang dikumpulinnya gimana?”
“Terima nasib. Paling juga disuruh nyanyi, hehehe,” jawabku bercanda.
“Ah lu mah, bukannya ngasih solusi malah bikin masalah…..” ucapan Kayla tertahan begitu seorang kakak panitia melihat kami. Aku pun segera menundukan kepala, berusaha menghindari tatapannya.
Mampus bisikku dalam hati. Setelah beberapa menit, kukira aku akan mendapat teguran. Namun, dugaanku salah. Tampakknya kakak panitia itu tergolong kakak panitia baik, bukan seperti kakak-kakak bagian keamanan yang sangar bin galak.
Kulihat lurus ke depan, ternyata ia sudah tak ada. Syukurlah…, batinku lega.
Seperti hari-hari sebelumnya. Agenda pertama adalah mengecek semua peralatan dan persyaratan yang harus di bawa hari ini. Dengan jantung yang berdegup kencang aku berdo’a dalam hati. Mudah-mudahan surat buat panitia tidak di kumpulkan sekarang Ya Allah. Begitu do’a itu kuucap berulang-ulang. Aku yakin Kayla pun sedang berdo’a yang sama sepertiku, atau mungkin beberapa peserta pun ada yang bernasib sama sepertiku?
Suara yang keras menghentikkan do’a dalam hatikku, “Baiklah, yang terakhir kumpulkan surat yang telah kalian buat di rumah untuk kakak panitia di sini…” suara itu seakan pukulan telak dan membuatku jatuh tersungkur.
“Aduh gimana nih, Re?” suara Kayla semakin panik.
“Kalian gak bawa suratnya?” terdengar seorang kakak panitia menegur kami dari belakang.
“Hmmm…., iya Kak. Gimana ya kak?” jawabku memelas.
“Kok tanya ke Kakak, coba tanya sama Kak Rika di depan gih!” jawabnya. Sudah kuduga walaupun menunjukan tampang sememelas apapun gak bakalan deh ada kakak panitia yang mau bikinin atau seenggaknya ngasih solusi kek. 
Belum juga kami memberanikan diri ke depan. Sudah terdengar lagi instruksi, “Ada yang gak bawa atau belum bikin suratnya, coba tunjuk tangan?” terdengar suara cempreng Kak Rika menyabit semua perhatian para peserta.
Aku, Kayla, dan tampak seorang laki-laki tunjuk tangan. Deg-degan, malu bercampur nervous, membuat mukaku berubah terasa panas dingin.
“Baiklah, sekarang kalian maju kedepan,” tunjuknya padaku dan Kayla ditambah seorang peserta laki-laki dari gugus lain.
Aku dan Kayla segera maju ke depan. Semua mata peserta dan panitia tampak tertuju pada kami bertiga. Dengan nada sama kecutnya, Kak Rika menyuruh kami membuat surat itu hanya dalam waktu tiga menit.
Kami pun segera kembali ke barisan. Dengan tergesa-gesa kubuka tasku dan segera mengambil alat tulis. Ketika alat tulis sudah kupegang semua, aku terhenti. Aduh ini surat buat siapa ya? Mana kakak panitia laki-lakinya pada gak hapal lagi. Sejenak aku berfikir. Oh iya, kalo gak salah ada yang namanya Yudhistira, masa bodoh deh walaupun kagak tahu orangnya yang penting namanya ada di jajaran panitia, batinku. Segera kutuliskan beberapa kalimat dalam surat itu dan kumasukan dalam amplop yang kudapat dari teman di belakangku. Untungnya ia berbaik hati memberikan sisa amplopnya padaku.
Acara demi acara sudah berlalu. Kini tinggal acara pentas seni dan upacara penutupan. Gugusku hanya menampilkan sebuah drama pendek yang berceRika tentang kenakalan remaja. CeRika klasik yang semua orang sudah bisa menebaknya. Tapi tak apa yang penting tampil dan bebas dari hukuman. Aku sudah tak sabar ingin segera acara pentas seni ini berlalu dan cepat-cepat upacara penutupan kemudian pulang dan istirahat. Mungkin hanya aku yang tampak bergumal malas menunggu acara berakhir, disamping para peserta lain yang tampak antusias menyaksikan penampilan drama dari kakak panitia.
“Ok, sekarang kita lanjutkan dengan acara selanjutnya yaitu….,” sengaja ucapan Kak Rika dibuat terpotong untuk mengundang rasa penasaran pendengar. Syukurlah acaranya segera berakhir, bisikku pelan diiringi helaan napas panjang. Namun, rasa syukur itu segera tertahan ketika Kak Rika melanjutkan perkataannya, “…sekarang Kakak akan bacakan surat-surat pilihan yang telah kalian tulis dan kirimkan pada Kakak panitia di depan. Ditangan Kakak sudah ada dua buah surat, mau yang mana dulu?” tanya Kak Rika memberika option pada kami. Terdengat suara gemuruh para peserta yang menyuarakan pendapat mereka. “Baiklah yang ini dulu ya…,” jawab Kak Rika menentukan option. Ia mulai membuka surat itu dan membaca kalimat pertama yang begitu puitis. Alhamdulillah itu bukan punyaku, hatiku lega. Gila aja kalo suratku yang dibacakan, pasti deh jadi artis sehari.
Gemuruh suara peserta semakin menjadi, mempertanyakan siapa pengirim surat itu. Kak Rika kembali bicara, “Sebelum Kakak bacakan pengirimnya ada yang mau jujur gak?” tanyanya. Hening. Semua peserta tampak mematung dan terdiam. “Baiklah, Kakak sebutkan saja pengirimnya. Adrian dari gugus 3,” para peserta di gugus tiga sudah mulai ribut dan semuanya tertuju pada sesosok remaja laki-laki berkulit putih. Tanpa di komando semua peserta pun mengarahkan pandangannya pada gugus tiga, sama sepertiku yang ingin menjawab rasa penasaran siapa gerangan yang menulis puisi seindah itu. “Ok Adrian, bisa maju kedepan!” pinta Kak Rika.
“Ntar aja Kak, biar sekalian sama penulis surat yang satunya. Penasaran nih, siapa orang kedua yang tulisannya indah,” seorang Kakak panitia tampak nyeletuk.
“Kalo begitu kita pending dulu, dan sekarang kita berlanjut pada surat yang kedua,” aku semakin bosan dengan suasana seperti ini, terlalu kekanak-kanakan, pikirku.
Kak Rika mulai membacakan kalimat demi kalimat dalam surat itu. Dan sebuah untaian kalimat pun berbunyi:
Aku tak dapat membuat sebuah surat yang romantis seperti yang disuruh Kakak panitia. Tapi kuharap sebuah tulisan pendek ini dapat mewakilinya. Kakak simak baik-baik ya… (sebuah emotion smiley ucap Kak Rika yang berusaha membacakan lengkap isi surat itu).  
Namamu sungguh kukenal
Seorang ksatria dalam sebuah dongeng
Bijak, adil dan baik hati adalah karakter pribadinya
Ya, namamu Yudhistira bak nama dalam kisah Pandawa
Namun sayang dirimu masih belum kukenal
Kuharap esok kumengenalmu
Seperti kumengenal Yudhistira dalam kisahnya.”
Kak Rika berhenti membaca surat itu dan suara yang tak kalah berisiknya segera memenuhi ruang udara dalam aula ini. Aku semakin gerah, dadaku bergetar hebat, tanganku panas dingin. Aku menunduk disaat Kak Rika membacakan nama pengirim surat itu lengkap dengan gugusnya. Ya, benar namaku dipanggil, dan sekarang semua hal yang tidak aku inginkan pun terjadi. Kurasakan pandangan semua orang tertuju padaku, dan Kayla, yang dari tadi duduk di sampingku menegurku, “Itu punyamu? Wah so sweet,” ujarnya.
Setengah berbisik aku menyanggah, “gila so sweet dari mana. Sekarang gua malu tahu.”
“Ih tapi sumpah, kata-katanya indah. Ajarin dong!” pintanya.
“Lu tuh ya. Masih sempat-sempatnya bercanda. Bukannya cari jalan keluar,” aku semakin kesal dengan Kayla.
“Gampang, sekarang mendingan lu cepetan kedepan daripada lu jadi bahan tontonan lebih lama. Lagian semua orang udah pada tahu,” nasehat yang benar-benar tak kuharapkan meluncur dari mulut Kayla.
Kudengar namaku terus dipanggil. Dan seseorang yang yang suratnya tadi dibaca juga sudah ke depan. Tinggal aku yang masih ragu di tempat.
Akhirnya dengan dorongan teman-teman disampingku. Dan untuk segera mengakhiri kebodohanku aku memberanikan diri maju ke depan.
  Di depan aku semakin gugup. Dan tak kusangka seseorang yang kusebut dalam suratku masuk ke aula dari pintu samping bersama seorang perempuan yang kuyakini dialah yang menjadi tujuan surat Andrian teman senasibku ini.
Entah apa yang aku pikirkan, aku hanya tertunduk menyembunyikan rasa malu. Tak kuhiraukan suara Kak Rika yang terus mengoceh dan teriakan teman-teman. Sesekali kudengar suara seorang laki-laki dan perempuan saling menjawab pertanyaan Kak Rika. Ku yakin itu suara Kak Yudhistira dan si penerima surat dari Andrian.
Aku tersadar dari lamunanku ketika sebuah tangan terjulur kepadaku. Dengan ragu kutatap wajahnya. Jantungku semakin hebat berdetak. Ia pun berkata dengan sebuah senyuman, “Thanks ya suratnya, puisinya bagus…” Kami pun bersalaman.
Dan tak kusangaka ia memberiku sebuah kado kecil. Aku pun menerimanya dengan seulas senyuman dan ucapan terima kasih. Ia pun berlalu.
Akhirnya Kak Rika segera mengakhiri acara ini. MOS pun berakhir dengan upacara penutupan, namun senyuman itu mungkin tak kan pernah berakhir dalam bayanganku.
****
Di rumah. 
 Hari ini begitu melelahkan. Tak hanya fisik tapi juga menguras mental dan emosiku. Huft….., kuhempaskan tubuhku yang lelah di atas kasur. Hampir saja aku terlelap jika suara teriakan Mama tak membangunkanku.
"Rere……, mandi dulu jangan langsung tidur!!!" Mama tau aja kalo aku mau tidur, padahal dia sedang di ruang tengah dan aku di kamar. Daripada dimarahin, aku segera beranjak dari tempat tidur dan menjawab perintah Mama, "Iya Maaaa…."
Setengah jam cukup membersihkan semua kotoran, keringat dan rasa lelah yang seharian hinggap di tubuhku. Seperti mandi besar, rasanya aku baru saja terlepas dari segala najis dan sekarang aku sudah siap untuk menyambut hari esok.
Tanpa sadar seulas senyum menghiasi bibirku yang tipis ketika keluar dari kamar mandi. Kukenakan baju tidur dan segera turun. Kulihat Mama sedang nonton TV di ruang tengah. "Ma…, Rere makan dulu ya, laper!" keluhku. Mama hanya menjawab dengan anggukan saja, begini kalo ibu-ibu udah ketagihan sinetron, bisa-bisa lupa sama anak dan suami. Ya sudahlah, lama kalo di bahas. Aku segera ke ruang makan dan tak sabar lagi perutku minta diisi begitu mencium aroma masakan.
Sepiring nasi dengan ikan bakar dan sepotong puding cukup mengusir rasa lapar.
"Serius amat Ma, emang sinetron apaan?" tanyaku penasaran.
"Biasa sinetron favorit….," jawab Mama masih dengan pandangan ke layar televisi.
CeRika biasa, seorang tokoh anak SMA yang sedang berulang tahun dan mendapat kejutan dari teman. Sebuah kado spesial dari pacarnya yang membuat teman-temannya terkagum-kagum. Buket mawar merah dan boneka panda.
Begitu melihat adegan itu, aku tersadar. "O ya…, kadoku?"
Mama yang mendengar ucapanku merasa heran, "Kado apa Re? sekarang kan, bukan ulang tahunmu!"
"Enggak kok Ma, lagian siapa juga yang ulang tahun, Kalo gitu Rere ke kamar dulu deh…, daah Mama," pamitku pada Mama yang masih heran denganku karena tiba-tiba menciumnya dan segera berlalu ke kamar.
Di kamar. Kutemukan sebuah kado kecil berbungkus kertas warna coklat. Jantungku berdegup hebat. Perlahan kubuka dan kurobek kertas warna coklat itu. Kudapati sebuah dus berbentuk balok. Dan kulihat setangkai flamboyan dengan daun yang sedikit layu, tersenyum dalam kotak itu.
Senang. Deg-degan. Dan heran kenapa dia tahu aku suka flamboyan. Atau mungkin dia hanya mengartikan namaku saja? Ya, mungkin dia hanya mengartikan namaku saja.
Secarik kertas post it menempel dalam kotak itu. Tertulis.
"Delonix Regia artinya Flamboyan, semoga kau suka dengan flamboyan ini dan terima kasih atas suratnya. Puisinya bagus :) Mudah-mudahan esok kita bisa berteman."
Huaaaaa….., senangnya baru kali ini ada orang yang belum ku kenal tapi dengan cepat dia tahu arti namaku dan juga bunga kesukaanku. Senyum itu semakin jelas ketika kubaca lagi tulisannya. Kusimpan tulisan dan flamboyan itu dalam album foto, jadi kelak bunga itu mengering tetap tak akan rusak.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar