Minggu, 28 September 2014

Me and Math


Berbicara matematika mungkin bagi beberapa orang amat membosankan atau bahkan menyeramkan. Sama sepertiku yang tak begitu suka pada matematika namun tak dapat dibilang benci  juga pada matematika, hanya terdapat beberapa bagian yang aku tak suka darinya. Anehnya takdirku selalu menuntunku ke arahnya, yups kini aku mahasiswa tingkat empat yang harus menyusun skripsi berbau matematika.
Pertama kali mendengar kata matematika adalah waktu menginjak SD kelas satu. Orang tua temanku bercerita kalau dirinya khawatir jika anaknya tak mampu mengikuti matematika. Pada saat itu aku berpikir bahwa matematika adalah sesuatu yang sangat menyeramkan, kukira matematika itu sejenis upacara ynag harus menjawab soal sambil berdiri. (Ah pikiran anak baru masuk SD yang konyol...heheh). Akhirnya setelah ada penjelasan dari ibu gurunya, matematika itu berhitung lho. Di SD aku tak begitu menderita dengan keberadaan matematika malah bisa dibilang prestasiku cukup gemilang. Aku masih bisa mengikuti pelajaran matematika, malah sering adu kecepatan menjawab perkalian aku selalu kesatu (bangga) dan lagi saat kelas enam gurunya selalu memberi teka-teki atau soal untuk dikerjakan. Selesai guru memberikan soal untuk dikerjakan kebiasaan guru tersebut keluar kelas dulu sejenak, dan disaat masuk kembali tak berapa lama aku langsung memberikan hasil jawabanku, dan hadiahnya aku selalu lebih dulu istirahat dibanding teman lainnya (oh senangnya). Benarkan aku tak begitu buruk untuk matematika? Tapi entahla di SMP, aku mulai menemukan duri dalam diri matematika.
SMP mungkin awal ketidak sukaanku pada matematika. Prestasiku tak segemilang dulu tapi aku masih bisa mengikuti hanya aku sedikit kelelahan. Walaupun aljabar masih bisa ku kejar namun yang berbau geometri kiranya cukup membuatku lelah. Ungtunglah gurunya yang pengertian dan mampu membimbingku sehingga ketidaksukaanku pada matematika tak berubah jadi benci.
Masa-masa SMA cukup membuatku semakin tertinggal dengan matematika, ia berlari cukup kencang namun aku sekencang-kencangnya berlari tak mampu menyusul. Kelas I masih bisa karena tak banyak bahasan tentang geometri hanya masih dasarnya saja, puncaknya di kelas II ketika aku harus berhadapan dengan logaritma dan trigonometri. Hasil ulanganku pada materi tersebut bisa dibilang jelek. Aku masih ingat dikelasku sampai dipasang banner ukuran besar yang memuat rumus trigonometri dan logaritma, niatnya untuk mempermudah dalam menghapal dan bisa dijadikan contekan saat ulangan (hehhe... jangan tiru niat buruk itu ya..., ambil positifnya saja) tapi tetap saja saat ulangan guru matematika menyuruh untuk melepasnya sementara (argh strategi kami kiranya tak berhasil). Yang lebih menambah ketidaksukaanku pada matematika terutama kedua materi tersebut saat harus  tes lisan tentang setiap rumus trigonometri dan logaritma. Untungnya aku lulus dari tes tersebut berkat sin, cos, tan, di berbagai kuadran. Selain kedua materi tersebut, bagian geometri bangun ruang dan matriks masih menghantui dan menjadi mimpi burukku di SMA. Sehingga saat aku memilih jurusan untuk masuk perguruan tinggi aku menghindari matematika dan jurusan yang memuat trigonometri, logaritma, dan geometri bangun ruang. Tapi seperti yang kukatakan tadi, takdir menuntunku ke arah matematika.
Tanpa sengaja aku memilih PGSD. Ya bisa dibilang ini merupakan pilihan yang tak disengaja disaat-saat terakhir penentuan pendaftaran, karena saat itu aku diperbolehkan memilih tiga jurusan dan aku memilihnya sebagai tempat yang ketiga. Kukiran di sini aku tak akan bertemu matematika, ternyata aku salah. Di semester pertama saja aku harus berhadapan dengan matematika pada konsep dasar matematika. Tapi aku tak semelehakan di SMA ketika harus berhadapan dengan konsep dasar matematika. Lulus dengan nilai yang memuaskan cukup untuk modal awal dan memberiku keyakinan bahwa aku tak terlalu bodoh dalam matematika. Semester berikutnya harus berhadapan dengan pendidikan matematika I, entahlah aku sangat menyukainya karena muatannya adalah bagaimana cara mengajarkan matematika di SD dan materinya pun lebih banyak tentang cara mengajarkannya  begitu pun dengan pendidikan matematika II. Mungkin aku telah jatuh cinta pada matematika, atau lebih tepatnya aku jatuh cinta mengajar matematika di SD, ya... aku jatuh cinta dan suka mengajarkan anak-anak tentang matematika karena dengan itu aku belajar sabar dan keuletan darinya.
Disaat harus memilih konsentrasi aku cukup bingung, aku ingin masuk konsentrasi matematika tapi aku takut tak bisa mengikutinya. Melihat kurikulum bahwa geometri tertera di sana itu semakin mebuatku takut untuk masuk konsentrasi matematika. Tapi, aku bertekad jika dalam pendidikan matematika II nilaiku memuaskan itu menandakan aku mampu di bidang ini. Akhirnya nilai itu keluar dan sangat memuaskan, aku memilih matematika. Matakuliah-matakuliah di semester V dan VI tentang matematika masih bisa kuikuti dengan baik. Semester inilah yang aku takutkan, geometri dihadapanku. Yups.., sekarang aku berdiri di semester tujuh yang harus berhadapan dengan geometri, baru pembuktian teorema saja aku harus bersusah payah untuk mengikuti, ah mungkin otakku payah untuk ini. Sampai-sampai aku menggerutu saat dosen menjelaskan untuk membuktikan teorema tentang garis sejajar, “ah sudahlah kalo sudah banyak terbukti tak usah dibuktikan lagi...” gerutuku dalam hati (maap ya Pak). Tapi berkat bantuan teman-teman akhirnya aku bisa membuktikannya (Yihaa). Tapi entahlah kedepannya..., aku harap tak semenyeramkan yang aku pikirkan tentang geometri ini. Aku tak tahu apakah cintaku pada matematika yang mulai tumbuh akan terhapus lagi? Tapi satu yang kuyakini aku tak sendiri, masih ada teman yang siap membantuku, aku yakin itu. Harapanku satu, aku lulus dengan matematika tersenyum padaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar