Sabtu, 09 September 2017

Diam

Jika tak dapat menyentuhnya dengan ocehan
Pula tak dapat disentuh lewat chatingan
Hanya diam yang bisa digunakan menyampaikan perasaan
Ini diam bukan diam sediam-diamnya, karena hati terus bergumam
Bukan dalam rengekan tapi doa disepertiga malam
Pun tahu tak ada harapan, entah mengapa selalu mencari kemungkinan dalam celah kesempatan



Senin, 07 Maret 2016

Bahagia Itu Sederhana..., Seperti Ini

Hai..., kedua. Hai pertamanya sudah tahun kemarin hihihi
Ah hari ini aku ingin berbagi kebahagiann yang dulu tak pernah terbayangkan, dan kukira hanya omong kosong.
Dari teori yang kupelajari ada beberapa metode yang menggunakan "pertanyaan" sebagai apersepsi dan materi yang akan dipelajari. Dulu..., terkadang aku suka bingung dan malu kalo di suruh bertanya, sedangkan guru dan dosen memaksa untuk bertanya, di sinilah aku merasa bahwa pertanyaan adalah petaka bagiku.
Baru kusadari bahwa kebagiaan itu sederhana. Tatkala seorang anak datang membawa buku dan setumpuk pertanyaan, disanalah aku tahu apa yang belum ia kuasai sehingga menjadi catatan tersendiri bagiku. 
Dengan pertanyaan membuat kita lebih mudah untuk memahami mereka, mendiagnosa apa yang belum mereka kuasai.

Kuceritakan sedikit kisahku...
Hari itu, Sabtu 5 Maret 2016 seorang anak datang padaku karena aku menyuruhnya belajar tambahan. Ia adalah anak yang biasanya malas kalau disuruh tambahan terutama di hari libur... (Sabtu sekolahnya libur). Awalnya dia datang masih setengah terpaksa. Namun, lama-kelamaan dia mulai tahu apa yang dibutuhkannya setelah kuberi sepuluh soal matematika. Beberapa soal kubantu karena ia belum mengerti. Beberapa kali ia bertanya karena ia tak paham. Kujelaskan materinya secara singkat tanpa mengurangi inti dari pokok bahasan yang harus ia kuasai. 
Dan hal yang sangat membuatku bahagia disela-sela ia mengerjakan soal ia terdiam sejenak dan berkata...., "Kak, nanti setelah ini ajarin aku materi kecepatan, debit, dan skala" pintanya. 
Ucapannya membuatku terdiam sejenak, aku bahagia ia memahami apa yang ia butuhkan, aku bahagia walaupun pertamanya ia terpaksa dan sedikit marah padaku tapi sekarang ia tahu bahwa ini penting baginya. 


Yaaaah... itulah sedikit ceriaku di Sabtu pagi kemarin..., dari sana aku sadar bahwa dulu seorang guru yang selalu meminta kita untuk bertanya bukannya bermaksud untuk menyiksa kita tapi pertanyaan itu penting baginya untuk memahami kita. Memahami apa yang kita butuhkan. Bersyukurlah kalau teman-teman mendapatkan guru yang selalu meminta kalian untuk bertanya..., :) 
#KomenYaKalauKalianPernahMengalamiHalYangSama  
  

Senin, 23 November 2015

Say Hai...

Berapa lama tak menulis..., tak membuka akun ini.
Mungkin terlalu sibuk dengan pikiran yang semerawut hingga saat ini aku ingin menulis. Bukan untuk mengumbar apa yang aku alami tapi sedikit sharing saja. Tak bermaksud untuk menyombongkan, karena aku tak berhak untuk itu. Hanya saja saat ini, aku ingin menumpahkan segala apa yang ada dipikiranku hingga lupa apa yang kurasakan hari ini....,

Tak perlu dibaca, ini tak penting. Jika mengganggu tutup saja!!!

Ada yang bilang suatu keputusan yang kau ambil adalah salah satu langkah menentukan keputusanmu. Yup benar..., mungkin ini yang kualami saat ini. Sesuai dengan latar belakang ku..., aku mengajar. Ini bahagia bagiku saat menatap anak-anak yang memahami apa yang kusampaikan, saat melihat mereka berhasil melewati kesulitan, sedikit demi sedikit rasa nyaman dengan keadaanku mulai kutemukan. Namun, tatkala melihat apa yang kuharapkan di masa lalu..., aku merasa serakah. Tak cukup ini saja...., aku butuh suatu kehidupan yang lebih. Egois, serakah, tak bersyukur..., kufur nikmat, kadang aku mengutuk diriku disela-sela doaku saat menghadap-Nya..., 

Ku coba utuk berdamai dengan pikiran dan perasaanku..., dengan melihat orang-orang di sekitarku. Masih banyak hal harus aku syukuri..., berbagai cara aku lakukan untuk berdamai dengan segala konflik yang aku ciptakan sendiri dalam benakku, mencoba lebih mendekatkan diri pada-Nya, ini yang membuatku merasa tenang. Melihat keadaan orang lain yang mungkin lebih membutuhkan bantuan..., setidaknya ini membuatku lebih bersyukur. Dengan naik angkutan umum aku dapat melihat kehidupan dari berbagai sisi..., dan aku sadar Tuhan itu adil..., dan memiliki caranya sendiri agar umatnya lebih bersyukur.

18.48 di atas meja kerjaku saat ini. aku merasa lebih tenang.... kuharap aku lebh berdamai dengan keadaan. Ikuti alurNya, dekatkan diri, dan lihatlah sekeliling..., 

Jumat, 09 Januari 2015

THE TELLER


Tak ada yang dapat Keyla lakukan selain menunggu, antrian di depan begitu panjang, tempat duduk pun tak ada yang kosong, yang dia lakukan hanya berdiri mematung tak seorang pun yang bisa diajak bicara. Keyla melihat nomor antriannya, tertulis angka 111 mana sekarang baru 60 lagi. Sampai berapa lama lagi aku terjebak dalam kebosanan ini? Gerutuk Keyla dalam hati.
Dia adalah Keyla, yang sedang terjebak dalam antrian panjang di bank. Ini semua gara-gara Mama yang menyuruhnya untuk menabung, dan bodohnya Keyla, dia lupa kalo hari ini hari Senin awal bulan lagi…, pantaslah banyak orang di bank.
Daripada bosan merutuki nasib yang malang ini, di alihkan pandangannya pada setiap penjuru ruangan. Semua pegawai bang pada sibuk melayani para nasabah dari teller, customer service sampai pak satpam yang gak bosan-bosannya membuka dan menutup pintu masuk sambil memamerkan senyum pada setiap pengunjung yang datang. Berbeda halnya dengan para petugas yang teramat sibuk, di sisi lain banyak terdiam bosan bahkan ada yang kelihatan terkantuk-kantuk, menunggu sang teller memijit nomor antrian berikutnya.
Jam sudah menunjukan pukul 11.00 WIB, nomor antrian baru 80, ini artinya Keyla akan terjebak dengan waktu istirahat. Dan harus rela menunggu lebih lama lagi.
Setelah lama menunggu tempat duduk yang kosong, akhirnya seorang kakek-kakek beranjak dari tempat duduknya, dan ini rezeki bagi Keyla yang bisa langsung menyerobot maju menempati tempat duduk itu yang persis didepan meja teller. Akhirnya…., badannya bisa sedikit relaks merasakan ketenangan. Walaupun harus tetap menunggu tapi setidaknya memberikan sedikit rasa nyaman. Diarahkan pandangannya ke sekeliling, dari samping kiri sampai kanan dan tepat di depan sebelah kiri tepatnya di meje teller seseorang sedang melayani nasabah ibu-ibu, ia tersenyum dengan manis melayani sang nasabah. Oh.., so cute! Rambutnya tampak rapi dengan stelan baju ala kantoran. Kulitnya hitam manis, dan kala tersenyum matanya pun ikut tersenyum menyiratkan keramahan akan kedamaian yang ia tawarkan.
‘Oh, God…., dadaku sesak dan sulit untuk bernafas. Mataku masih menatapnya dengan terkagum-kagum. Dan…, olala dia menyadarinya’ ucap Keyla dalam hati. Bodohnya Keyla bukannya tersenyum padanya malah memalingkan muka karena takut ketahuan. Segera dia alihkan pandangan, yang tertuju pada sebuah layar televisi ukuran 32 inci yang dipasang disebelah kiri meja teller. Keyla merasakan ia masih terheran-heran dengan sikapnya yang aneh. Aaah…, geer.
Dengan memperhatikan televisi yang beruukuran 32 inci itu diiringi rasa yang tak karuan. Nalurinya terus menuntun pada seseorang di balik meja teller sana. Dengan sedikit ragu-ragu Keyla mencoba melirik dia yang tak diketahui namanya itu. Masih dengan wajah cute dan kesibukannya. Keyla memandanginya. Dan alamak…, dia menatap Keyla lagi. Kali ini Keyla tersenyum dan tak disangka dia membalas senyum Keyla juga… Aigoo.
Waktu berlalu begitu cepat. Tepat jam satu setelah istirahat selesai nomor antrian Keyla baru di panggil. Tadinya Keyla berharap dia yang tak diketahui namanya itu yang melayaninya tapi…, dengan sangat kesal disana seorang perempuan menyapa Keyla. “Selamat siang Mba, ada yang bisa saya bantu?” ujar sang teller dengan ramah. Keyla tersenyum dan memberikan kartu tabungan Mamanya dengan uang di dalamnya tentu saja. seseorang yang tak diketahui namanya itu duduk di pinggir si Mba yang kini tengah melayani Keyla. Langsung Keyla mengambil kesempatan kesempatan itu untuk melihat namanya disana tertera “Farid Alamsyah” oooooh jadi namanya Farid hatinya berkata dengan nada penuh kelegaan. Setidaknya sekarang Keyla tahu namanya, yah walaupun hanya sekedar nama, tapi tak apalah.
Ditinggalkannya bank itu dengan hati yang merasa bahagia, walaupun aku harus menunggu selama berjam-jam tapi  setidaknya ada sesuatu disana lumayannlah buat cuci mata. Daripada bosan mantengin tv di rumah mending mantengin orang ganteng walaupun dalam keadaan yang gak banget “menunggu antrian”.
*****
Sampai di rumah.
            “Tumben anak Mama senyum-senyum sendiri, ada apa nie?” jail Mamanya dengan menggoda Keyla.
            “Gak ada apa-apa kok Ma…,” Keyla mencoba menyembunyikan rasa senangnya itu. “Oh iya Ma, ntar kalo ke bank lagi, biar Keyla aja Ok…!”
            “Tumben anak Mama mau ke Bank biasanya juga paling malas kalo di suruh ke Bank, hayo ada apa?” selidik Mamanya yang penasaran melihat tingkah anaknya yang tidak biasa itu.
            “Gak ada apa-apa kok Ma, cuma pengin aja daripada bosan di rumah,” masih berusaha menyembunyikan perasaannya. “Udah ah Ma, Keyla mandi dulu,” Keyla pun langsung menuju kamarnya.
            Sepeninggla anaknya, Mama Keyla hanya bisa geleng-geleng kepala, menyaksikan tingkah aneh dari anaknya itu.
            Di dalam kamar.
Keyla masih mengingat kejadian tadi, dan yang menjadi tokoh utama tentunya sang pangeran teller            , kini Keyla udah tahu namanya namun apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia tahu siapa dia dan di mana rumahnya? Masa Keyla harus nanya langsung pada orangnya kan gak elit banget. Pikirannya buntu bagaikan menemukan sembuah gang dengan tembok besar yang menghadang di hadapannya. Anehnya, hatinya kini masih merasakan bergejolak padahal udah berjam-jam ia telah meninggalkan tempat kejadian perkara. Pembunuhan kali…. Argh, masa bodo yang penting aku bisa ketemu dia lagi, nantinya juga kalo jodoh gak bakalan kemana kok. Ya.,., memang perkataan itu yang kerap kali dilontarkan oleh orang yang merasa putus akan harapan. Semuanya kita serahkan pada yang Maha Kuasa. Keyla menasehati sendiri dirinya.
Keesokan paginya.
Hari ini hari kamis, liburan masih sepuluh hari. Keyla masih tertidur pulas di kamarnya, ia hanya terbangun ketika adzan shubuh berkumandang, ia menarik lagi selimutnya. Kini waktu menunjukan 07.00 WIB. Mentari pagi mulai masuk ke celah jendela kamar, tirai putih itu tak mampu menahan cahaya matahari yang meronta masuk ke dalam kamar Keyla.  Dengan sentuhan kehangatan sang mentari membelai muka gadis remaja berambut panjang itu dan mengusik kesadarannya. Keyla pun mulai tersadar, ia mulai mengucek mata dengan tangannya, menguap dan mulai terbangun dari ranjangnya. Dengan nafas lega dan tanpa beban ia membuka jendela dan menyambut kehangatan mentari. Namun, belum juga lima menit di bawah terdengar teriakan.
“Key, bangun!!!! Ada Risa nih,” teriak sang Mama di lantai bawah.
Sambil menepuk jidat seakan teringat suatu hal, “Aduh, mampus gua, hari ini ada janji sama Risa bagaimana ini??” ia langsung mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Hanya dalam waktu 5 menit ia sudah rapi memakai kaus dan celana jeans. Cukup memakai parfum dan sedikit bedak, tak lupa tas kecil yang selalu ia bawa.
“Aduh maap Ris, gua lupa  sori nunggu bentar ya! Hehe,” dengan candaan sambil mengacungkan jarinya yang membentuk huruf V ke udara ia meminta map pada sahabatnya itu.
“Lu, sih make acara HP di matiin segala lagi..,” belum juga Risa selesai ngomong Keyla udah kelabakan nyari HPnya,
“Aduh HP gua dimana ya?” sambil mengobrak-abrik isi tasnya ia mengoceh sekenanya. “Owh iya gua lupa, tunggu bentar ya….,” ia lari ke kamarnya dan mengambil Hp yang tergelatak dilantai. Kebiasaan buruknya yang sembaranagn menaruh HP.
“Gimana udah siap?” setengah kesal Risa bertanya kepada Keyla.
“Udah ayo!” dengan wajah tanpa dosa keyla menjawab. “Ok yuk berangkat!” Keyla merangkul bahu sahabatnya itu dan berjalan menuju dapur untuk berpamitan pada Mamanya.
****
“Ok hari ini kita kemana?” Tanya Keyla.
“….”
“Ih…, lu kenapa sih. Masih marah ya?” goda Keyla. “Ok, Risa Ku sayang…, hari ini terserah lu mau kemana gua anterin. Dan sebagai permintaan maap gua, kali ini gua yang traktir.”
“Beneran?”
“Iya bener.”
Liburan kali ini mereka membuta jadwal selama lima hari untuk  jalan-jalan, hari ini hari ketiga mereka jalan-jalan. Dan karena kesalah Keyla. Kali ini Keyla yang menanggung semua biaya akomodasi. Hehehe.
Dengan semangat Risa menyebutkan rencananya, “Ok, hari ini kita makan cemilan dulu di alun-alun gua mau sarapan dulu, biasanya suka banyak yang jualan setelah itu aku mau bubur kacang Kabita di perempatan jalan Mambo, kemudian ke toko buku, sekalian bantuin gua cari Novel baru deh siangnya kita makan mpek-mpek plus jus alpukat Ok!”
“Ah, gila lu…, ini namanya perampokkan. Bisa bikin kantong gua bobol tahu! Masa jadwlanya makan mulu?”
“Ya tadi kan udah janji, gak boleh ingkar!” dengan tawa menggoda Risa mengingatkan Keyla.
“Ok deh kanjeng Mami!”
“Ih emangnya aku kayak kanjeng Mami…, gak liat apa aku langsing kayak gini?”
“Kalo diliatnya dari atas menara Eiffel sih langsing tapi kalo dari jarak dua ratus meter masi tetep ndut heheh…” Keyla emang suka ngejailin temannya yang selalu uring-uringan kalo masalah berat badan, niatnya gak mau nambah ndut tapi pikirannya makan mulu, kapan langsingnya coba.
Mereka pun sudah tiba di kedai lontong kari dan bubur ayam. Risa lebih memilih lontong kari sedangkan Keyla memesan bubur ayam. Sambil menunggu sang penjual menyajikan menu yang mereka pesan. Risa mulai mengatur kameranya untuk mengabadikan setiap momen liburan ini, setiap kegiatan yang mereka lakukan harus ada dokukmentasinya sebagai bukti sejarah. Ceileh segitunya. Intinya sih biar ada kenangan aja walaupun tempatnya cuma seputar kota tempat tinggal, tapi kalo ada dokumentasi jadi lebih berkesan. Tak cukup lama pesanan mereka datang. Risa mulai mengambil beberapa foto dari mulai pesanan mereka yang di anterin si mamang pedagang, sampai gerobak tampak depan dan samping pun di foto, tentunya yang paling pokok adalah foto gambar mereka berdua yang lagi makan. This time to narsis.
Terdengar suara seorang laki-laki memesan bubur ayam. Entah kenapa Keyla seperti punya ikatan batin dengan suara itu,  suara itu seolah menarik kepala keyla untuk menengok ke arah datangnya suara itu. Dengan sedikit ragu-ragu ia menoleh kearah datangnya suara itu. Dan dalam waktu sepersekian detik jantungnya mulai merasa berdetak tak semestinya ia pun langsung menarik lagi pandangannya.
Mungkinkah ini yang namanya takdir. Bangku yang kosong di kedai itu hanya bangku yang sedang Keyla dan Risa tempati.
Suara langkah kaki mulai terdengar mendekati tempat duduk Keyla. Saat itu pula, Keyla tak tahu apa yang harus ia lakukan dadanya begitu sesak, hatinnya bergetar hebat dan sulit untuk dikendalikan. Tatapannya hanya tertuju pada semangkok bubur ayam yang ada di hadapannya ia mengunyah dengan perasaan gusar dan gundah, walaupun sebenarnya tak perlu dikunyah. Risa yang duduk di sampingnya tak menyadari kegelisahan temannya itu, ia asik dengan lontong karinya dan kamera di tangannnya. 
“Apa tempat ini masih kosong?” sesosok suara menyapu kesadarannya, dengan ramah sang laki-laki itu meminta izin untuk duduk disana.
Dengan nada gemetar dan gugup Keyla menjawab “Oh tentu silahkan duduk!” sambil menengok dan mempersilahkan duduk, Keyla segera memindahkan tasnya yang tadinya berada di pinggirnya keatas meja.
Selama beberapa detik. Hening.
Keyla berusaha fokus pada apa yang sedang ia makan.
“Hmmm…, map. Sebelumnya apa kita pernah ketemu? Soalnya saya merasa tidak asing,” tanya laki-laki itu pada Keyla.
Jeger…, seperti disambar gledek Keyla merasa menjadi buronan yang tertangkap polisi.
“Hmmm…,”
Sebelum Keyala menjawab laki-laki itu kembali berkata “Owh iya, sepertinya saya melihat Anda kemarin di Bank, benar kan?”
Ottoke, Keyla tak menyangka ingatannya setajam itu. Malu dia, masa ia ingat disaat Keyla kepergok lagi menatap wajahnya kan gak elit banget. “Hmmm….,”
“Key…, kita foto berdua yuk! Masa fotonya cuma yang sendiri-sendiri. Mas bisa tolong fotoin?” dengan wajah polos Risa memberikan  kamera ke laki-laki yang duduk di samping Keyla.
“Oh tentu.” dengan senang hati laki-laki itu mengambil kamera yang disodorkan Risa dan memotret beberapa moment Risa dan Keyla. Namun terlihat kegugupan dari dalam diri Keyla.
“Terimaksih!” Risa mengambil kembali kamera dari tangan laki-laki itu dan mulai sibuk dengan aktifitasnya tanpa tahu apa yang sedang dilalami Keyla.
“Kenalkan nama saya Farid,” sambil mengulurkan tangan laki-laki itu memperkenalkan diri.
Dengan menahan rasa gugup Keyla menyambut tangan itu, “Keyla”.
Masih bingung apa yang harus Keyla katakan, akhirnya ia mulai bicara…, “Hmmm…, maap soal yang kemarin.”
“Soal apa?”
“Kemarin saya melihat Anda tidak sopan,” dengan nada yang penuh keraguan Keyla mengungkapkan sikapnya kemarin.
“Jangan panggila saya ‘anda’ panggil Farid aja lagian umur saya masih muda kok” Keyla hanya tersenyum malu, salah lagi dalam hatinya Keyla mengumpat. “Untuk yang kemarin itu wajar, gak masalah kok,” dengan mengaduk bubur ayamnya Farid memulai topik baru.
“ Ada acara apa ni?”
“Hmmm…, ini kami lagi acara liburan. Biasa buat dokumentasi, owh ya maap tadi teman saya gak sopan menyuruh anda untuk memotret, kenalin ini Risa teman saya,” sambil menggamit tangan Risa, Keyla memperkenalkan sahabatnya itu .
“Hai” Risa menyodorkan tangan untuk bersalaman, “Risa”
“Farid”
“Kalian udah saling kenal ya?” tanya Risa pada Keyla dan Farid.
“Hmmm…, ya secara kebetulan kemarin kami ketemu” ujar Farid
“Owh…,” hanya dengan nada owh saja Risa menaggapi.
Mereka terlibat dalam acara ngobrol pagi di kedai lontong. Topik demi topik silih berganti. Seperti sudah kenal lama mereka akrab mengobrol. Namun ada sedikit penekana dan perkataan yang teesbunyi dibalik kata yang dilontarkan Keyla dan Farid. Seolah mereka punya dunia tersendiri bagi kaliant yang mereka utarakan. Sesekali mereka tertawa renyah. Waktu yang tak bisa diajak kompromi memutuskan obrolan mereka.
“Aku harus segera masuk kantor…, dan kuharap kita bisa ketemu lagi!” ucap Farid dengan penuh penyesalan.
“Oh tentu,” jawab Keyla.
Farid pun pergi sambil membayar makanan yang telah dimakan tadi. Namun sesuatu tersimpan disana ditangan sang penjual lontong kari.
“Yuk keburu siang, kita caw” ajak Risa yang sudah tak sabar ke tempat selanjutnya.
Keyla menghapiri si mamang lontong kari sambil menyodorkan uang.
“Oh…, sudah di bayar Neng tadi sama si Mas yang duduk dekat si Neng, ia juga menitipkan ini sama mamang,” Si mang itu memberikan sebuah kartu nama. Disana tertera jelas “Farid Alamsyah” lengkap dengan alamat, nomor telepon dan pekerjaannya yang tak lain seorang pegawai bank. “…..tadi kata si Mas situ, ia lupa dan terburu-buru jadi nitip ini ke Mamang”.
“Owh…, ok makasih Mang!”
Dengan perasaan senang campur bingung ia memegangi kartu nama itu. Namun, ia senang mungkin ini jawaban dari harapnnya kemarin. Percayalah kalo jodoh gak kemana. 


THE END J



Kepingan Mawar


Kepingan mawar itu masih ada. Hanya tak dapat dirangkai utuh seperti sedia kala.
Langkahnya masih terdengar dari jarak yang cukup dekat. Sedikit berlari mengejar langkahku yang semakin kencang. Mungkin jika tak banyak orang ia nekat berteriak dan memaksaku bicara. Namun aku teguh pada pendirianku, semuanya harus diakhiri, ini tak baik bagiku dan dirinya.
Tak selamanya ego dipertahankan masih ada perasaan yang harus kau perhatikan. Kau dan dia berhak bahagia namun caranya bukan seperti ini. Kau bilang, kau bahagia. Tapi tak tanyakah kau pada dirinya apakah dia bahagia dengan caramu seperti ini? Ku yakin tidak.
Gumpalan awan putih dan teriknya matahari terus mengiringi langkahku yang sesekali berlari. Suara langkah kaki tak lagi mengejarku. Aku tak berani menengok ke belakang. Kuharap tak bertemu lagi.
Tiga bulan berlalu. Semuanya berjalan seperti biasanya. Kulangkahkan kaki menuju sebuah pusat perbelanjaan, persediaan bulanan semakin menipis. Terpaksa aku pergi sendiri. Ibu tak bisa menemaniku karena ada kepentingan yang tak bisa ia tinggalkan.
Pelataran parkir tampak penuh dengan kendaraan bermotor. Aku terpaksa memarkir motorku dikawasan parkir roda empat. Pengunjung sangat ramai. Maklum, ini minggu di awal bulan. Kaum gaji nampaknya sedang berpesta. Tak hanya kawasan kebutuhan sehari-hari namun kawasan kebutuhan sampingan pun dipadati pengunjung. Segera kumasuki kawasan perlengkapan sehari-hari dan mengambil beberapa barang yang kubutuhkan. Dalam beberapa menit saja troliku sudah hampir penuh. Aku pun beralih ke bagian perlengkapan mandi dan mengambil beberapa barang. Baru saja hendak mengambil sebuah pasta gigi terdengar seseorang memanggilku.
Suara yang samar-samar kukenal.  "Alya…?" tanyanya.
Aku pun menengok, dan dia tak jauh dariku hanya berjarak beberapa langkah. Aku hanya bergumam belum sempat menjawab sapaan itu. Tenggorokanku seakan tercekat dan bibirku kelu. Emosiku membuncah membuatku terdiam beberapa saat. "Alya…?" tanyanya lagi. Aku pun tersadar  dan hanya dapat menjawab dengan gumaman. "Hmmmm…!"
"Alya. Ini aku Rena, kau ingat teman SMP mu dulu!"
Sadarku belum sepenuhnya. Masih membutuhkan proses untuk mencerna setiap perkatannya. Aku ingat kau Rena, tapi dengan orang disampingmu aku ingin, aku tak mengingatnya namun mengapa sekarang dia hadir dihadapankaku. Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala dan seulas senyum.
Rena memperkenalkan orang disampingnya yang sedari tadi tertunduk dan tak berani menatapku. “Kenalkan Al, ini Rian tunanganku.”
Raut muka Rian tampak bingung dan bersalah. Seperti orang yang baru kenal kami berjabat tangan. Perasanku hampa dan kaku. Kupikir tiga bulan mampu mengubah dan mengahapus semuanya dan ternyata tak sepenuhnya. Kepingan mawar itu masih ada namun kini segera harus kubuang dan kukubur  jauh. Keputusanku tepat. Aku tak ragu lagi. Tak akan kumengharapmu lagi. Semoga kau bahagia.      
 Kepingan mawar milikmu sudah kubuang dan menghitam. Kuharap esok ada setangkai mawar baru yang utuh.  

Jumat, 12 Desember 2014

Delonix Regia BAB IV



"Pagi Rere…"
"Pagi Lisa…" sapaku pada teman sebangkuku. Hari ini Kayla duduk di paling belakang. Maklum sekarang pelajaran Kimia, dan dia belum hapal tabel periodik golongan utama. Padahal tetap aja mau duduknya di luar juga pasti kena sama yang namanya Bu Irna yang terkenal galak ini.
Aku sendiri pun bukan karena sudah hapal betul dengan unsur kimia golongan utama ini lantas duduk di depan. Karena sudah tak ada lagi bangku kosong, jadi terpaksa nerimo nasib.
Sambil komat kamit aku terus menghapal,"….Beli Mangga Cari Sisir Baru dan Rapi…." rumus kirata ini sangat membantu. Dikira-kira tapi nyata heheh…., arti kata-kata di atas tak lain adalah Be, Mg, Ca, Sr, Ba dan Ra, alias golongan IIA.
Belum juga selesai menghapal, sang Master sudah datang.
"Pagi anak-anak…" sambil masuk kelas Bu Irna menyapa kami.
"Pagi Buuuu…." koor anak-anak seakan mengeluarkan rasa gugup dan kesal mereka yang masih belum hapal juga.
Ketua kelas segera memberi komando untuk berdo'a. dalam do'a aku hanya berharap mudah-mudahan aku bisa hapal semua unsur di golongan A ini.
Selesai berdo'a Bu Irna langsung memulai tesnya. Tes lisan dengan menyebutkan unsur golongan utama atau golongan A secara acak tergantung Bu Irna yang menyuruh. Huft…., ini kelemahanku. Kalo diurut dari awal aku kemungkinan hapal, lha ini di acak aku selalu lupa di awal.
"Baik Ryan kamu maju…," giliran sang ketua kelas mendapat undian pertama.
"Semangat Ryan…," ucapku memberi semangat ketika Ryan melewati bangkuku.
Terlihat muka gugup Ryan ketika Bu Irna menyuruhnya untuk menyebutkan unsur golongan VIIIA. Dalam hati aku ikut menghapal unsur golongan VIIIA itu. Begitu seterusnya sampai aku dipanggil.
"Selanjutnya, Delonix Regia….," ini yang membuat semua siswa merasa jantung mau copot berharap nama mereka tidak dipanggil.

*****
Udara segar seakan menyambutku ketika aku keluar dari ruangan. Beban yang menggunung seakan terangkat dan menguap mengikuti hembusan angin.
"Hmmmmm…..," helaan nafasku terdengar mendesah mengeluarkan semua beban.
"Re…, makan yuk!" tanpa ba bi bu lagi Kayla menarik tanganku dan memaksaku mengiringi langkahnya menuju kantin.
 "Sabar dikit dong…"
"Perut gua udah gak bisa nahan sabar lagi. Ujian tadi memaksa cacing-cacing diperutku terus berkicau," langkahnya semakin cepat.
Bangku kantin hampir penuh terisi ketika kami datang ke sana. Untung ada sekelompok kakak kelas yang sudah selesai makannya dan hendak pergi. Segera kami menempati tempata duduk itu. Dan tinggal dua bangku kosong yang tersisa.
"Kay, lu yang pesen biar gua yang jagain nih bangku," padahal dalam hati 'males aja harus pesen' heheh.
"Huh lu mah kebiasaan,  ya udah deh berhubung gua yang maksa lu kesini jadi gua yang pesen. Tapi dengan catatn gua gak bayarin. OK?"
"Iya iya, gih cepetan!"
Daripada bete dengerin sekelompok kakak kelas yang ngomongin cowok  mulu, mendingan dengerin musik di MP3. Untung tadi nih MP3 aku masukin ke saku rok.
Alunan musik mampu menghilangkan penat seusai tes kimia tadi. Suara-suara kakak kelas tak lagi kuhiraukan. Kunikmati saja sejenak alunan lagu yang dinyanyikan suara merdunya Afghan-Terima Kasih Cinta. Lirik demi lirik berlalu hingga tak sadar seseorang duduk di sampingku. Hmmmm…., yup Kayla tampak bete yang mungkin dari tadi tak kuhiraukan. Aku melepas headshet dari telingaku.
"Ups…, kukira gak ada orang hehehe…," berusaha merayu Kayla yang bibirnya manyun hampir lima centi.
"Ini neng pesenannya…," si bibi kantin mengntarkan pesanan kami. Dua gelas jus jeruk  dan dua mangkuk mie ayam siap disantap. Kayla sepertinya tak sabar melihat makanan yang disajikan. "Silahkan Neng!" ujar si bibi sembari  menyodorkan makan itu.
"Makasih ya bi…," ujar kami berbarengan.
"Hmmm…, lazies…. Yuk buruan makan!" Kayla langsung menyantap makanannya.
Aku pun mengikutinya setelah berdo'a. Seger sekali, begitu kuseruput jus jeruknya. 
Kantin tak sepenuh tadi dan ternyata anak-anak kelas XII tak lagi duduk di sampingku. Mungkin mereka sudah selesai. Baguslah.
Aku masih menikmati makananku, dengan tiba-tiba seseorang duduk di sampingku.
"Hmmm…, ini kosong?" suara yang sedikit serak dan halus bertanya kepadaku.
Kepalaku menoleh ke samping dan dua orang kakak kelas berdiri di sampingku meminta dipersilahkan duduk. Yang bertanya padaku aku tak tahu persis namanya. Kulitnya putih, rambutnya agak sedikit berantakan, dengan baju seragam yang sedikit dikeluarkan. Tapi yang satunya aku tahu. Yup, Kak Yudhistira. Ia memilih duduk di samping Kayla. Lha posisi ini yang bikin aku gak nyaman. Membuatku gugup saja. Geer banget si  gua, emang dia bakalan liatin gua makan gitu?
Makanan yang masih ditenggorokan hampir saja tersedak begitu melihatnya. Untung Kayla tahu, ia segera menjawab pertanyaan kakak itu. "Oh, kosong Kak, silahkan!" sambil senyum-senyum gak jelas.
"Oh iya, kenalin gue Randy dan ini temenku Yudhistira," tangannya mengajak bersalaman. Aku pun tak enak dan menyambut perkenalnnya itu.
 "Delonix Regia…." Dari caranya ia memperkenalkan diri dan Kak Yudhistira, aku tahu mungkin ia bukan anak OSIS. Ya, kalo dia anak OSIS ngapain juga ia memperkenalkan Kak Yudhis. Kan tau yang bikin heboh di MOS itu salah satunya gue.
Belum juga merasa lega karena ternyata tidak semua orang tahu kejadian di MOS itu. Ia langsung menyambung perkataannya.
"Ohm…, jadi ini yang namanya Delonix Regia, Dhis?" selorohnya sambil menggoda Kak Yudhis. Jleb, dugaanku salah. Segitu hebohnya ya? Sampai-sampai yang tak ikut MOS juga tahu. Aku hanya tersenyum.
"….." kak Yudhis hanya diam tak menanggapi. Ia hanya tersenyum.
"By the way, namamu siapa?" tanya Kak Randy pada Kayla.
"Kayla…," sapanya ramah semanis mungkin. Huh dasar Kayla liat yang bening dikit aja ngiler.
Dan kami pun sibuk dengan makanan kami masing-masing setelah pesenan mereka datang. Aku dan Kayla selesai makan, ketika makanan mereka masih belum habis.
Sebagai adik kelas yang sopan atau lebih tepatnya berusaha sesopan mungkin karena masih ada rasa segan dan takut. Kami berpamitan.
"Kami duluan ya Kak?" ujar Kayla.
"Ok siip, " ujar Kak Randy. Kak Yudhis hanya tersenyum. Bete kenapa Kak Randy yang jawab. Dia hanya tersenyum mungkin dia masih malu dengan kejadian itu, tapi kenapa waktu dulu ia tak terlihat malu dan gugup, malah sepertinya gentle banget.
Beberapa meter setelah meninggalkan kantin.
"Ecie yang nervous…" goda Kayla. Tangannya menyikutku.
"Idih apaan? Siapa juga yang nervous. Lu tuh yang sok manis, apa-apaan sok senyam-senyum gitu," balasku.
"Itu menandakan kalo gue tuh ramah. Lu tuh yang jutek, gak baik tau. Ntar Kak Yudhis malah jadi ilfeel sama lu," Kayla masih menggodaku.
"Terus aja bahassss….," aku mempercepat langkahku.
Kayla mengejar langkahku dengan masih menggodaku, " Idih ngambek ni ye?"
Teeeeeeeet…, suara bel menjerit menyuruh kami segera masuk. Ini nih gara-gara kimia tadi yang telat istirahatnya. Untungnya udah selesai makan.
*****
Pelajaran seni menyambutku. Dan ini salah satu pelajaran yang tak begitu aku kuasai. Kalo kitanya udah menjudge gak suka pada satu pelajaran maka efeknya walaupun pelajaran itu mudah bahkan santai tetap aja akan memberikan tekanan. Dan buktinya sekarang terjadi padaku. Aku begitu tertekan dengan harus melukis sebuah vas bunga. Ottokie….
****
Hari panas dan kabar buruk kalo sekarang aku harus naik angkot. Lama nunggunya.
"Re gua pulang duluan ya…," Kayla pamitan. Rumahnya berlawanan arah denganku ia juga sama naik angkot.
Kami berdua memang mengenaskan kalo melihat orang lain yang pada dianterin sama pacarnya atau dijemput sama sopirnya. Dan kini aku menunggu mang sopir angkot di pinggir jalan yang panas. Beberapa angkot yang bukan ke arah rumahku tampak mengajakku. Aku hanya menolak dengan gelengan kepala. Udah lelah menunggu, pada kemana sih angkot? Demo? Perasaan gak ada wacana BBM sekarang mau naik.
Hampir 30 menit lebih aku masih menunggu. Memang angkot yang menuju ke arah rumahku terbilang langka kalo lewat jalur ini. Jadi wajib dilindungi. Dan kulihat sekolah sudah tak ramai lagi, sepertinya sudah pada pulang karena lelah dengan kegiatan hari ini.
Tak lama setelah aku menggerutu. Sebuah motor berhenti di depanku. Pengemudinya membuka kaca helmnya.
 "Pulang kemana?" suaranya sangat ku kenal. Aku masih terpaku bingung. Untung segera tersadar dengan suara klakson mobil yang berbunyi.
 "Hmmmm…., Cempaka Indah Kak," suaraku terdengar ragu.
 "Mau bareng? Kebetulan jalurnya sama," ajaknya.
"Gak apa-apa nih Kak? Ntar ada yang marah lagi," tanyaku sedikit bercanda mencairkan suasana.
"Hmmmm siapa? Tenanglah gak ada kok…, naiklah!" tanpa ba bi bu ia menyuruhku naik.
"Ok deh." Aku segera naik ke motornya. Selama perjalanan masih tak ada kata, ia sepertinya serius memperhatikan jalanan dan aku serius memikirkannya. Tadi di kantin ia sangat dingin bahkan tak menyapaku tapi sekarang ia sangat ramah dan perhatian.
Setelah masuk pertigaan ia menanyakan arah padaku. Kami masuk ke perumahan, aku masih mengarahkan jalan. Dan akhirnya kami berhenti di sebuah rumah yang penuh dengan pohon flamboyan yang bermekaran sampai daunnya pun tak terlihat. Memang sekarang musim kemarau dan waktunya flamboyan berbunga.
Aku turun, ia melepaskan helmnya.
"Makasih ya Kak, Kakak mau mampir dulu?" tanyaku walau aku ragu dengan pertanyaannku sendiri. Aku berharap ia tak mampir, aku sudah tak kuat menahan luapan emosi ini. Nervous, seneng, bingung, dan ragu bercampur aduk jadi satu.
"Lain kali aja, sekarang Kak duluan ya…, " nada bicaranya sangat ramah diiringi senyuman. Ia memasangkan kembali helmnya, sejenak ia terhenti. "Oh iya, salam buat orang rumah ya Re," ia pun menjalankan motornya dan menyalakan klakson dengan anggukan kepala menoleh ke arahku tanda ia berpamitan. Aku terpaku masih memandangnya menghilang di tikungan. Hari ini kesempatan itu muncul. Mudah-mudahan masih ada kesempatan lagi di lain hari.
Di rumah tak ada siapa-siapa, pantesan sepi banget.  Kuhampiri kulkas, segernya setelah kuteguk jus jeruk. Dan senyuman itu masih terbayang. J

Me and Math 2



Geometri oh geometri. Ternyata aku harus berurusan denganmu diakhir kuliahku. Aku tahu ini bukan salahmu. Ini resiko bagiku karena mnegambil matematika. Tapi tanpa sadar aku malah berjalan ke arahmu, jika tidak mengapa aku harus mengambil garis paralel sebagai materi dalam skripsiku. Ditengah kebingungan dalam dua pilihan aku lebih memilihnya, dan dari kedua pilihan judul yang kubuat semuanya berkaitan dengan geometri padahal aku membenci geometri. Mungkin ini yang namanya jarak benci dan cinta itu sangat tipis.
Di tengah munculnya rasa suka pada garis paralel dan aku pun sedikit demi sedikit mulai menguasainya. Nyatanya, takdir tak berpihak padaku, peraturan berganti dan materi itu tak ada dalam kurikulum lama. Aku pun berganti materi mulai melihat lagi materi apa yang akan kuambil. Semua rencana ditata ulang, beberapa janji terpaksa dibatalkan dan mungkin semua teman seangkatanku sama repotnya denganku. Berapa kali pun membuka dan meresapi semua materi tapi tetap selalu tertuju pada geometri. Akhirnya aku putuskan move on pada jenis dan besar sudut, okey masih geometri.
Sedikit demi sedikit aku harus mulai menyukai materi baru ini. Tapi, kenapa aku masih tak suka matakuliah geometri padahal tiga SKS. Seberapa besar berusaha tetap saja itu tak berhasil. Ditambah lagi, ada bahasan irisan bangun ruang. Huaaaa....., mimpi buruk kelas III SMA terulang. Dari dulu aku tak bisa menguasai ini, daya bayangku terlalu lemah bukan aku tak mau berusaha yah... Buktinya beberapa pertemuan kemarin aku berusaha konsentrasi ketika dosen menjelaskan mengenai irisan bangun ruang. Pada beberapa soal aku konsentrasi, oke aku bisa konsentrasi penuh dan diakhiri dengan helaan nafas panjang karena masih tak mengerti. Rasanya pengen menangis. Aku terlalu bodoh untuk ini.
Oh mata kuliah ini menambah dosaku..., karena sering tak fokus dan berbisik dalam hati kenapa harus seperti ini sih. Padahal udahlah ini bidang tak usah diiris-iris kan utuh lebih bagus estetikanya. Maapku untuk dosen yang tak mampu memperhatikan dengan baik.