Jam weker berbunyi tepat jam 05.00. Kali ini tanpa harus mematikan
alarm aku langsung beranjak dari tempat tidur dan mandi. Segera shalat usai
membersihkan diri.
"Hmmmm….., udara pagi ini segar sekali," gumamku ketika
jendela kamar dibuka perlahan dan membiarkan udara segar masuk ke kamar.
"Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin
aku menginjakan kaki di SMP, eh tak taunya sekarang udah SMA lagi,"
gumamku masih dengan tatapan keluar jendela dan menikmati udara pagi.
Suara yang tak asing lagi mulai terdengar. Yup, suara Mama
membangunkanku memang ekstrim.
"Rereeeeeeeee…..banguuuuuuuuuuuuuuuuuunnnnn…….. Hari ini pertama masuk
sekolah jangan sampai terlambat."
"Iya Mamaku sayang, Rere udah bangun," kubuka pintu kamar
dan tampak Mama sedang berdiri mematung keheranan melihat anak semata wayangnya
bangun sepagi ini.
"Tumben!?" ujar Mama masih dengan rasa penasaran.
"Ih Mama, kok gitu sih. Bukannya bersyukur kalo anaknya udah
bisa bangun pagi tanpa harus diteriakin,"
setengah kecewa aku menanggapi komentar Mama.
"I..i..ya, Mama juga bersyukur. Tapi aneh aja gitu,…."
belum juga Mama selesai bicara, segera Papa datang menyela.
"Bukan aneh Ma, sekarang kan Rere udah SMA. Malu sendiri donk
masa harus dibangunin terus iya kan sayang?" tatapnya jail ke arahku.
"Ih Papa…" ujarku manja.
"Ya sudah cepetan siap-siap, masa mau ke sekolah pakai baju
tidur," goda Papa.
"Walaupun masih pake baju tidur tapi Rere udah Mandi, tinggal
ganti baju aja," belaku.
"Udah sholat belum?" tanya Mama.
"Udah Ma…., kalo gitu Rere ganti baju dulu".
Kuambil seragam sekolah yang dari kemarin sudah kusiapkan lengkap
dengan sabuk dan dasi. Kusisir dan kutata rambutku dengan sebuah bandana
berhiaskan pita. Sedikit pelembab dan bedak kusapukan ke wajahku. Tak lupa
kuoleskan minyak wangi dan lotion. Selesai.
Kuambil tas dan sepatuku. Walau tak bebas menggunakan sepatu, tapi
aku bangga bisa memakai sepatu seragam sekolah seperti ini. Senin sampai kamis
sekolahku mewajibkan untuk menggunakan sepatu seragam dari sekolah, kalo tidak
ya terpaksa kamu harus berjalan hanya dengan beralaskan kaos kaki. Itu juga
kalo kaos kaki kamu berwarna putih. Pokoknya hari bebas berekspresi di sekolah
adalah hari jumat dan sabtu, itu pun masih terikat dengan aturan-aturan
berpakaian lainnya.
Papa dan Mama sudah siap di
ruang makan. Perutku rupanya sudah menanti untuk diisi. Papa memimpin do'a dan
acara makan pagi pun dimulai.
Selesai makan aku bersiap memakai sepatu sembari Papa memanaskan
mesin mobil. Untung sekolahku sekarang searah dengan kantor Papa jadi gak harus
naik angkot.
Seperti biasa Mama selalu bareng Papa kalo berangkat walaupun dekat
hanya beberapa komplek dari rumah.
Mamaku seorang guru SD yang sekolahnya lumayan dekat dengan rumah kami.
Begitu Mama turun aku pindah duduk ke depan.
Papa memulai pembicaraan, "Hmmm…., anak Papa udah gede
ya…."
Tanpa ragu aku menjawab, "Iya donk…, cantik lagi. Hehehe "
"Hmmm…..," masih dengan pandangan fokus ke jalanan.
"MOS kemarin gimana? Rere belum cerita sama Papa."
Kesempatan nih buat komplen
ke Papa yang suka pulang larut malam. "Habisnya Papa keterlaluan
pulangnya malam mulu," komentarku dengan menggerutu.
"Tuntutan pekerjaan sayang, mau gimana lagi. Papa juga maunya
kalo sore udah di rumah. Jadi gimana MOS nya?"
"Rere ngerti kalo kerjaan Papa banyak. Rere sayang sama
Papa….."
"Papa juga sayang sama Rere," balasnya.
Memang walaupun Papa jarang sekali di rumah tapi aku cukup dekat
dengan Papa malahan mungkin lebih dekat sama Papa dari pada sama Mama.
Sepanjang jalan aku tak henti-hentinya cerita tentang MOS kemarin dari awal pembukaan MOS
sampai upacara penutupan. Tak terlewatkan cerita memalukan itu juga, Papa sampai senyum-senyum
saat kuceritakan
betapa gugupnya aku saat dipanggil gara-gara surat kekaguman itu. Huft…
"Wah…, baru juga berapa hari ternyata anak Papa udah punya
gebetan," godanya.
"Aaah Papa…, itu bukan gebetan tapi profesionalisme kesiswaan
terhadap panitia MOS," aku mengelak.
"Kok gitu?"
"Iya donk, kan itu tuntutan tugas dari panitia buat bikin
surat. Bukan atas dasar suka," aku masih membela diri dari tudingan Papa.
"Ya, terserah apa kata Rere, tapi jangan salahkan kalo nanti
bisa jadi suka," Papa masih menggodaku.
"Aaaaah Papa…."
Tepat di depan gerbang utama sekolah mobil yang kunaiki berhenti.
Aku pamit dan segera masuk ke sekolah. Di depan gerbang, Pak Satpam sudah siap
menyambut dan menangkap para pelanggar tata tertib.
Huft, bukannya MOS udah selesai? Kok sekarang harus sudah
mengahadapi kakak-kakak itu lagi? Baru juga masuk gerbang kedua terlihat anak-anak OSIS bagian keamanan
menyambut. Ternyata bukan untuk MOS lagi tapi untuk mengawasi anak-anak yang
melanggar tata tertib. Mungkin takutnya
ada yang lolos dari pengawasan Pak Satpam. Bagus ekstra ketat pengawasannya.
Sedikit malu campur gugup aku berusaha ramah dan tersenyum. Dan baru
juga beberapa langkah melewati deretan kakak pengamanan itu. Ada hal yang bisa
membuatku lebih malu dan gugup lagi. Yup, kulihat Kak Yudhistira sedang
menuruni tangga.
Disana ketika kamu berbelok
ke kiri setelah melewati gerbang kedua, maka terlihat tangga menuju lantai 2
dan 3 tempat anak kelas XI dan XII belajar.
"Oh my God, tolong aku…" belum juga do'aku selesai terucap
dari dalam hati. Ia tersenyum. 'What ia tersenyum…., manis sekali' pikirku.
Kubalas senyuman itu dan berusaha untuk tidak bertingkah gugup.
Hmmm…, pagi ini semakin tambah cerah.
*****
Hari ini sangat berpihak padaku. Thanks God. Pagi-pagi udah dapat
senyuman dan sekarang aku sekelas sama Kayla.
Walaupun gak belajar, ya tetap saja namanya hari pertama harus
menyiapkan segala perlengkapan kelas dari mulai struktur kelas jadwal piket de
el el. Untung ada yang bersedia jadi ketua kelas, walaupun sedikit terpaksa
karena dipilih secara paksa.
Selebih acara mengurus kelas baru. Kami mulai perkenalan dengan wali
kelas dan teman-teman, sedikit demi sedikit sudah kuhapal. Sepertinya kelas ini
cukup cooperative denganku.
Mudah-mudahan nyaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar