Sabtu, 24 Mei 2014

Delonix Regia BAB III


Jam weker berbunyi tepat jam 05.00. Kali ini tanpa harus mematikan alarm aku langsung beranjak dari tempat tidur dan mandi. Segera shalat usai membersihkan diri.
"Hmmmm….., udara pagi ini segar sekali," gumamku ketika jendela kamar dibuka perlahan dan membiarkan udara segar masuk ke kamar.
"Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku menginjakan kaki di SMP, eh tak taunya sekarang udah SMA lagi," gumamku masih dengan tatapan keluar jendela dan menikmati udara pagi.
Suara yang tak asing lagi mulai terdengar. Yup, suara Mama membangunkanku memang ekstrim. "Rereeeeeeeee…..banguuuuuuuuuuuuuuuuuunnnnn…….. Hari ini pertama masuk sekolah jangan sampai terlambat."
"Iya Mamaku sayang, Rere udah bangun," kubuka pintu kamar dan tampak Mama sedang berdiri mematung keheranan melihat anak semata wayangnya bangun sepagi ini.
"Tumben!?" ujar Mama masih dengan rasa penasaran.
"Ih Mama, kok gitu sih. Bukannya bersyukur kalo anaknya udah bisa bangun pagi tanpa harus diteriakin,"  setengah kecewa aku menanggapi komentar Mama.
"I..i..ya, Mama juga bersyukur. Tapi aneh aja gitu,…." belum juga Mama selesai bicara, segera Papa datang menyela.
"Bukan aneh Ma, sekarang kan Rere udah SMA. Malu sendiri donk masa harus dibangunin terus iya kan sayang?" tatapnya jail ke arahku.
"Ih Papa…" ujarku manja.
"Ya sudah cepetan siap-siap, masa mau ke sekolah pakai baju tidur," goda Papa.
"Walaupun masih pake baju tidur tapi Rere udah Mandi, tinggal ganti baju aja," belaku.
"Udah sholat belum?" tanya Mama.
"Udah Ma…., kalo gitu Rere ganti baju dulu". 
Kuambil seragam sekolah yang dari kemarin sudah kusiapkan lengkap dengan sabuk dan dasi. Kusisir dan kutata rambutku dengan sebuah bandana berhiaskan pita. Sedikit pelembab dan bedak kusapukan ke wajahku. Tak lupa kuoleskan minyak wangi dan lotion. Selesai.
Kuambil tas dan sepatuku. Walau tak bebas menggunakan sepatu, tapi aku bangga bisa memakai sepatu seragam sekolah seperti ini. Senin sampai kamis sekolahku mewajibkan untuk menggunakan sepatu seragam dari sekolah, kalo tidak ya terpaksa kamu harus berjalan hanya dengan beralaskan kaos kaki. Itu juga kalo kaos kaki kamu berwarna putih. Pokoknya hari bebas berekspresi di sekolah adalah hari jumat dan sabtu, itu pun masih terikat dengan aturan-aturan berpakaian lainnya.
 Papa dan Mama sudah siap di ruang makan. Perutku rupanya sudah menanti untuk diisi. Papa memimpin do'a dan acara makan pagi pun dimulai.
Selesai makan aku bersiap memakai sepatu sembari Papa memanaskan mesin mobil. Untung sekolahku sekarang searah dengan kantor Papa jadi gak harus naik angkot.
Seperti biasa Mama selalu bareng Papa kalo berangkat walaupun dekat hanya beberapa komplek dari rumah.  Mamaku seorang guru SD yang sekolahnya lumayan dekat dengan rumah kami.
Begitu Mama turun aku pindah duduk ke depan.
Papa memulai pembicaraan, "Hmmm…., anak Papa udah gede ya…."
Tanpa ragu aku menjawab, "Iya donk…, cantik lagi. Hehehe "
"Hmmm…..," masih dengan pandangan fokus ke jalanan. "MOS kemarin gimana? Rere belum cerita sama Papa."
Kesempatan nih buat komplen  ke Papa yang suka pulang larut malam. "Habisnya Papa keterlaluan pulangnya malam mulu," komentarku dengan menggerutu.
"Tuntutan pekerjaan sayang, mau gimana lagi. Papa juga maunya kalo sore udah di rumah. Jadi gimana MOS nya?"
"Rere ngerti kalo kerjaan Papa banyak. Rere sayang sama Papa….."
"Papa juga sayang sama Rere," balasnya.
Memang walaupun Papa jarang sekali di rumah tapi aku cukup dekat dengan Papa malahan mungkin lebih dekat sama Papa dari pada sama Mama. Sepanjang jalan aku tak henti-hentinya cerita tentang MOS kemarin dari awal pembukaan MOS sampai upacara penutupan. Tak terlewatkan cerita memalukan itu juga, Papa sampai senyum-senyum saat kuceritakan betapa gugupnya aku saat dipanggil gara-gara surat kekaguman itu. Huft…
"Wah…, baru juga berapa hari ternyata anak Papa udah punya gebetan," godanya.
"Aaah Papa…, itu bukan gebetan tapi profesionalisme kesiswaan terhadap panitia MOS," aku mengelak.
"Kok gitu?"
"Iya donk, kan itu tuntutan tugas dari panitia buat bikin surat. Bukan atas dasar suka," aku masih membela diri dari tudingan Papa.
"Ya, terserah apa kata Rere, tapi jangan salahkan kalo nanti bisa jadi suka," Papa masih menggodaku.
"Aaaaah Papa…."
Tepat di depan gerbang utama sekolah mobil yang kunaiki berhenti. Aku pamit dan segera masuk ke sekolah. Di depan gerbang, Pak Satpam sudah siap menyambut dan menangkap para pelanggar tata tertib.
Huft, bukannya MOS udah selesai? Kok sekarang harus sudah mengahadapi kakak-kakak itu lagi? Baru juga masuk gerbang kedua  terlihat anak-anak OSIS bagian keamanan menyambut. Ternyata bukan untuk MOS lagi tapi untuk mengawasi anak-anak yang melanggar tata tertib.  Mungkin takutnya ada yang lolos dari pengawasan Pak Satpam. Bagus ekstra ketat pengawasannya.
Sedikit malu campur gugup aku berusaha ramah dan tersenyum. Dan baru juga beberapa langkah melewati deretan kakak pengamanan itu. Ada hal yang bisa membuatku lebih malu dan gugup lagi. Yup, kulihat Kak Yudhistira sedang menuruni tangga.
 Disana ketika kamu berbelok ke kiri setelah melewati gerbang kedua, maka terlihat tangga menuju lantai 2 dan 3 tempat anak kelas XI dan XII belajar.
"Oh my God, tolong aku…" belum juga do'aku selesai terucap dari dalam hati. Ia tersenyum. 'What ia tersenyum…., manis sekali' pikirku.
Kubalas senyuman itu dan berusaha untuk tidak bertingkah gugup. Hmmm…, pagi ini semakin tambah cerah.
*****
Hari ini sangat berpihak padaku. Thanks God. Pagi-pagi udah dapat senyuman dan sekarang aku sekelas sama Kayla.
Walaupun gak belajar, ya tetap saja namanya hari pertama harus menyiapkan segala perlengkapan kelas dari mulai struktur kelas jadwal piket de el el. Untung ada yang bersedia jadi ketua kelas, walaupun sedikit terpaksa karena dipilih secara paksa.
Selebih acara mengurus kelas baru. Kami mulai perkenalan dengan wali kelas dan teman-teman, sedikit demi sedikit sudah kuhapal. Sepertinya kelas ini cukup cooperative denganku. Mudah-mudahan nyaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar