Kepingan mawar itu masih ada. Hanya tak
dapat dirangkai utuh seperti sedia kala.
Langkahnya masih terdengar dari jarak yang
cukup dekat. Sedikit berlari mengejar langkahku yang semakin kencang. Mungkin
jika tak banyak orang ia nekat berteriak dan memaksaku bicara. Namun aku teguh
pada pendirianku, semuanya harus diakhiri, ini tak baik bagiku dan dirinya.
Tak selamanya ego dipertahankan masih ada
perasaan yang harus kau perhatikan. Kau dan dia berhak bahagia namun caranya
bukan seperti ini. Kau bilang, kau bahagia. Tapi tak tanyakah kau pada dirinya
apakah dia bahagia dengan caramu seperti ini? Ku yakin tidak.
Gumpalan awan putih dan teriknya matahari
terus mengiringi langkahku yang sesekali berlari. Suara langkah kaki tak lagi
mengejarku. Aku tak berani menengok ke belakang. Kuharap tak bertemu lagi.
Tiga bulan berlalu. Semuanya berjalan
seperti biasanya. Kulangkahkan kaki menuju sebuah pusat perbelanjaan,
persediaan bulanan semakin menipis. Terpaksa aku pergi sendiri. Ibu tak bisa
menemaniku karena ada kepentingan yang tak bisa ia tinggalkan.
Pelataran parkir tampak penuh dengan
kendaraan bermotor. Aku terpaksa memarkir motorku dikawasan parkir roda empat.
Pengunjung sangat ramai. Maklum, ini minggu di awal bulan. Kaum gaji nampaknya
sedang berpesta. Tak hanya kawasan kebutuhan sehari-hari namun kawasan
kebutuhan sampingan pun dipadati pengunjung. Segera kumasuki kawasan
perlengkapan sehari-hari dan mengambil beberapa barang yang kubutuhkan. Dalam
beberapa menit saja troliku sudah hampir penuh. Aku pun beralih ke bagian
perlengkapan mandi dan mengambil beberapa barang. Baru saja hendak mengambil
sebuah pasta gigi terdengar seseorang memanggilku.
Suara yang samar-samar kukenal. "Alya…?" tanyanya.
Aku pun menengok, dan dia tak jauh dariku
hanya berjarak beberapa langkah. Aku hanya bergumam belum sempat menjawab
sapaan itu. Tenggorokanku seakan tercekat dan bibirku kelu. Emosiku membuncah
membuatku terdiam beberapa saat. "Alya…?" tanyanya lagi. Aku pun
tersadar dan hanya dapat menjawab dengan
gumaman. "Hmmmm…!"
"Alya. Ini aku Rena, kau ingat teman
SMP mu dulu!"
Sadarku belum sepenuhnya. Masih membutuhkan
proses untuk mencerna setiap perkatannya. Aku ingat kau Rena, tapi dengan orang
disampingmu aku ingin, aku tak mengingatnya namun mengapa sekarang dia hadir
dihadapankaku. Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala dan seulas
senyum.
Rena memperkenalkan orang disampingnya yang
sedari tadi tertunduk dan tak berani menatapku. “Kenalkan Al, ini Rian
tunanganku.”
Raut muka Rian tampak bingung dan bersalah.
Seperti orang yang baru kenal kami berjabat tangan. Perasanku hampa dan kaku.
Kupikir tiga bulan mampu mengubah dan mengahapus semuanya dan ternyata tak
sepenuhnya. Kepingan mawar itu masih ada namun kini segera harus kubuang dan
kukubur jauh. Keputusanku tepat. Aku tak
ragu lagi. Tak akan kumengharapmu lagi. Semoga kau bahagia.
Kepingan
mawar milikmu sudah kubuang dan menghitam. Kuharap esok ada setangkai mawar
baru yang utuh.
Jleb moment banget ya teh :D
BalasHapusmudah2an gak kealamin ya heheh :)
BalasHapus