Jumat, 09 Januari 2015

Kepingan Mawar


Kepingan mawar itu masih ada. Hanya tak dapat dirangkai utuh seperti sedia kala.
Langkahnya masih terdengar dari jarak yang cukup dekat. Sedikit berlari mengejar langkahku yang semakin kencang. Mungkin jika tak banyak orang ia nekat berteriak dan memaksaku bicara. Namun aku teguh pada pendirianku, semuanya harus diakhiri, ini tak baik bagiku dan dirinya.
Tak selamanya ego dipertahankan masih ada perasaan yang harus kau perhatikan. Kau dan dia berhak bahagia namun caranya bukan seperti ini. Kau bilang, kau bahagia. Tapi tak tanyakah kau pada dirinya apakah dia bahagia dengan caramu seperti ini? Ku yakin tidak.
Gumpalan awan putih dan teriknya matahari terus mengiringi langkahku yang sesekali berlari. Suara langkah kaki tak lagi mengejarku. Aku tak berani menengok ke belakang. Kuharap tak bertemu lagi.
Tiga bulan berlalu. Semuanya berjalan seperti biasanya. Kulangkahkan kaki menuju sebuah pusat perbelanjaan, persediaan bulanan semakin menipis. Terpaksa aku pergi sendiri. Ibu tak bisa menemaniku karena ada kepentingan yang tak bisa ia tinggalkan.
Pelataran parkir tampak penuh dengan kendaraan bermotor. Aku terpaksa memarkir motorku dikawasan parkir roda empat. Pengunjung sangat ramai. Maklum, ini minggu di awal bulan. Kaum gaji nampaknya sedang berpesta. Tak hanya kawasan kebutuhan sehari-hari namun kawasan kebutuhan sampingan pun dipadati pengunjung. Segera kumasuki kawasan perlengkapan sehari-hari dan mengambil beberapa barang yang kubutuhkan. Dalam beberapa menit saja troliku sudah hampir penuh. Aku pun beralih ke bagian perlengkapan mandi dan mengambil beberapa barang. Baru saja hendak mengambil sebuah pasta gigi terdengar seseorang memanggilku.
Suara yang samar-samar kukenal.  "Alya…?" tanyanya.
Aku pun menengok, dan dia tak jauh dariku hanya berjarak beberapa langkah. Aku hanya bergumam belum sempat menjawab sapaan itu. Tenggorokanku seakan tercekat dan bibirku kelu. Emosiku membuncah membuatku terdiam beberapa saat. "Alya…?" tanyanya lagi. Aku pun tersadar  dan hanya dapat menjawab dengan gumaman. "Hmmmm…!"
"Alya. Ini aku Rena, kau ingat teman SMP mu dulu!"
Sadarku belum sepenuhnya. Masih membutuhkan proses untuk mencerna setiap perkatannya. Aku ingat kau Rena, tapi dengan orang disampingmu aku ingin, aku tak mengingatnya namun mengapa sekarang dia hadir dihadapankaku. Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala dan seulas senyum.
Rena memperkenalkan orang disampingnya yang sedari tadi tertunduk dan tak berani menatapku. “Kenalkan Al, ini Rian tunanganku.”
Raut muka Rian tampak bingung dan bersalah. Seperti orang yang baru kenal kami berjabat tangan. Perasanku hampa dan kaku. Kupikir tiga bulan mampu mengubah dan mengahapus semuanya dan ternyata tak sepenuhnya. Kepingan mawar itu masih ada namun kini segera harus kubuang dan kukubur  jauh. Keputusanku tepat. Aku tak ragu lagi. Tak akan kumengharapmu lagi. Semoga kau bahagia.      
 Kepingan mawar milikmu sudah kubuang dan menghitam. Kuharap esok ada setangkai mawar baru yang utuh.  

2 komentar: