Tak
ada yang dapat Keyla lakukan selain menunggu, antrian di depan begitu panjang,
tempat duduk pun tak ada yang kosong, yang dia lakukan hanya berdiri mematung
tak seorang pun yang bisa diajak bicara. Keyla melihat nomor antriannya,
tertulis angka 111 mana sekarang baru 60 lagi. Sampai berapa lama lagi aku
terjebak dalam kebosanan ini? Gerutuk Keyla dalam hati.
Dia
adalah Keyla, yang sedang terjebak dalam antrian panjang di bank. Ini semua
gara-gara Mama yang menyuruhnya untuk menabung, dan bodohnya Keyla, dia lupa
kalo hari ini hari Senin awal bulan lagi…, pantaslah banyak orang di bank.
Daripada
bosan merutuki nasib yang malang ini, di alihkan pandangannya pada setiap
penjuru ruangan. Semua pegawai bang pada sibuk melayani para nasabah dari teller,
customer service sampai pak satpam yang gak bosan-bosannya membuka dan menutup
pintu masuk sambil memamerkan senyum pada setiap pengunjung yang datang.
Berbeda halnya dengan para petugas yang teramat sibuk, di sisi lain banyak
terdiam bosan bahkan ada yang kelihatan terkantuk-kantuk, menunggu sang teller
memijit nomor antrian berikutnya.
Jam
sudah menunjukan pukul 11.00 WIB, nomor antrian baru 80, ini artinya Keyla akan
terjebak dengan waktu istirahat. Dan harus rela menunggu lebih lama lagi.
Setelah
lama menunggu tempat duduk yang kosong, akhirnya seorang kakek-kakek beranjak
dari tempat duduknya, dan ini rezeki bagi Keyla yang bisa langsung menyerobot
maju menempati tempat duduk itu yang persis didepan meja teller. Akhirnya….,
badannya bisa sedikit relaks merasakan ketenangan. Walaupun harus tetap
menunggu tapi setidaknya memberikan sedikit rasa nyaman. Diarahkan pandangannya
ke sekeliling, dari samping kiri sampai kanan dan tepat di depan sebelah kiri
tepatnya di meje teller seseorang sedang melayani nasabah ibu-ibu, ia tersenyum
dengan manis melayani sang nasabah. Oh.., so cute! Rambutnya tampak rapi dengan
stelan baju ala kantoran. Kulitnya hitam manis, dan kala tersenyum matanya pun
ikut tersenyum menyiratkan keramahan akan kedamaian yang ia tawarkan.
‘Oh,
God…., dadaku sesak dan sulit untuk bernafas. Mataku masih menatapnya dengan
terkagum-kagum. Dan…, olala dia menyadarinya’ ucap Keyla dalam hati. Bodohnya Keyla
bukannya tersenyum padanya malah memalingkan muka karena takut ketahuan. Segera
dia alihkan pandangan, yang tertuju pada sebuah layar televisi ukuran 32 inci
yang dipasang disebelah kiri meja teller. Keyla merasakan ia masih
terheran-heran dengan sikapnya yang aneh. Aaah…, geer.
Dengan
memperhatikan televisi yang beruukuran 32 inci itu diiringi rasa yang tak
karuan. Nalurinya terus menuntun pada seseorang di balik meja teller sana.
Dengan sedikit ragu-ragu Keyla mencoba melirik dia yang tak diketahui namanya
itu. Masih dengan wajah cute dan kesibukannya. Keyla memandanginya. Dan
alamak…, dia menatap Keyla lagi. Kali ini Keyla tersenyum dan tak disangka dia
membalas senyum Keyla juga… Aigoo.
Waktu
berlalu begitu cepat. Tepat jam satu setelah istirahat selesai nomor antrian
Keyla baru di panggil. Tadinya Keyla berharap dia yang tak diketahui namanya
itu yang melayaninya tapi…, dengan sangat kesal disana seorang perempuan
menyapa Keyla. “Selamat siang Mba, ada yang bisa saya bantu?” ujar sang teller
dengan ramah. Keyla tersenyum dan memberikan kartu tabungan Mamanya dengan uang
di dalamnya tentu saja. seseorang yang tak diketahui namanya itu duduk di
pinggir si Mba yang kini tengah melayani Keyla. Langsung Keyla mengambil
kesempatan kesempatan itu untuk melihat namanya disana tertera “Farid Alamsyah”
oooooh jadi namanya Farid hatinya berkata dengan nada penuh kelegaan.
Setidaknya sekarang Keyla tahu namanya, yah walaupun hanya sekedar nama, tapi
tak apalah.
Ditinggalkannya
bank itu dengan hati yang merasa bahagia, walaupun aku harus menunggu selama
berjam-jam tapi setidaknya ada sesuatu
disana lumayannlah buat cuci mata. Daripada bosan mantengin tv di rumah mending
mantengin orang ganteng walaupun dalam keadaan yang gak banget “menunggu
antrian”.
*****
Sampai
di rumah.
“Tumben anak Mama senyum-senyum
sendiri, ada apa nie?” jail Mamanya dengan menggoda Keyla.
“Gak ada apa-apa kok Ma…,” Keyla
mencoba menyembunyikan rasa senangnya itu. “Oh iya Ma, ntar kalo ke bank lagi,
biar Keyla aja Ok…!”
“Tumben anak Mama mau ke Bank
biasanya juga paling malas kalo di suruh ke Bank, hayo ada apa?” selidik Mamanya
yang penasaran melihat tingkah anaknya yang tidak biasa itu.
“Gak ada apa-apa kok Ma, cuma pengin
aja daripada bosan di rumah,” masih berusaha menyembunyikan perasaannya. “Udah
ah Ma, Keyla mandi dulu,” Keyla pun langsung menuju kamarnya.
Sepeninggla anaknya, Mama Keyla
hanya bisa geleng-geleng kepala, menyaksikan tingkah aneh dari anaknya itu.
Di dalam kamar.
Keyla
masih mengingat kejadian tadi, dan yang menjadi tokoh utama tentunya sang
pangeran teller , kini Keyla
udah tahu namanya namun apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia tahu siapa dia
dan di mana rumahnya? Masa Keyla harus nanya langsung pada orangnya kan gak
elit banget. Pikirannya buntu bagaikan menemukan sembuah gang dengan tembok
besar yang menghadang di hadapannya. Anehnya, hatinya kini masih merasakan
bergejolak padahal udah berjam-jam ia telah meninggalkan tempat kejadian
perkara. Pembunuhan kali…. Argh, masa bodo yang penting aku bisa ketemu dia
lagi, nantinya juga kalo jodoh gak bakalan kemana kok. Ya.,., memang perkataan
itu yang kerap kali dilontarkan oleh orang yang merasa putus akan harapan.
Semuanya kita serahkan pada yang Maha Kuasa. Keyla menasehati sendiri dirinya.
Keesokan
paginya.
Hari
ini hari kamis, liburan masih sepuluh hari. Keyla masih tertidur pulas di
kamarnya, ia hanya terbangun ketika adzan shubuh berkumandang, ia menarik lagi
selimutnya. Kini waktu menunjukan 07.00 WIB. Mentari pagi mulai masuk ke celah
jendela kamar, tirai putih itu tak mampu menahan cahaya matahari yang meronta
masuk ke dalam kamar Keyla. Dengan
sentuhan kehangatan sang mentari membelai muka gadis remaja berambut panjang
itu dan mengusik kesadarannya. Keyla pun mulai tersadar, ia mulai mengucek mata
dengan tangannya, menguap dan mulai terbangun dari ranjangnya. Dengan nafas
lega dan tanpa beban ia membuka jendela dan menyambut kehangatan mentari. Namun,
belum juga lima menit di bawah terdengar teriakan.
“Key,
bangun!!!! Ada Risa nih,” teriak sang Mama di lantai bawah.
Sambil
menepuk jidat seakan teringat suatu hal, “Aduh, mampus gua, hari ini ada janji
sama Risa bagaimana ini??” ia langsung mengambil handuk dan masuk ke kamar
mandi. Hanya dalam waktu 5 menit ia sudah rapi memakai kaus dan celana jeans.
Cukup memakai parfum dan sedikit bedak, tak lupa tas kecil yang selalu ia bawa.
“Aduh
maap Ris, gua lupa sori nunggu bentar
ya! Hehe,” dengan candaan sambil mengacungkan jarinya yang membentuk huruf V ke
udara ia meminta map pada sahabatnya itu.
“Lu,
sih make acara HP di matiin segala lagi..,” belum juga Risa selesai ngomong
Keyla udah kelabakan nyari HPnya,
“Aduh
HP gua dimana ya?” sambil mengobrak-abrik isi tasnya ia mengoceh sekenanya.
“Owh iya gua lupa, tunggu bentar ya….,” ia lari ke kamarnya dan mengambil Hp
yang tergelatak dilantai. Kebiasaan buruknya yang sembaranagn menaruh HP.
“Gimana
udah siap?” setengah kesal Risa bertanya kepada Keyla.
“Udah
ayo!” dengan wajah tanpa dosa keyla menjawab. “Ok yuk berangkat!” Keyla merangkul
bahu sahabatnya itu dan berjalan menuju dapur untuk berpamitan pada Mamanya.
****
“Ok
hari ini kita kemana?” Tanya Keyla.
“….”
“Ih…,
lu kenapa sih. Masih marah ya?” goda Keyla. “Ok, Risa Ku sayang…, hari ini
terserah lu mau kemana gua anterin. Dan sebagai permintaan maap gua, kali ini
gua yang traktir.”
“Beneran?”
“Iya
bener.”
Liburan
kali ini mereka membuta jadwal selama lima hari untuk jalan-jalan, hari ini hari ketiga mereka
jalan-jalan. Dan karena kesalah Keyla. Kali ini Keyla yang menanggung semua
biaya akomodasi. Hehehe.
Dengan
semangat Risa menyebutkan rencananya, “Ok, hari ini kita makan cemilan dulu di
alun-alun gua mau sarapan dulu, biasanya suka banyak yang jualan setelah itu
aku mau bubur kacang Kabita di perempatan jalan Mambo, kemudian ke toko buku,
sekalian bantuin gua cari Novel baru deh siangnya kita makan mpek-mpek plus jus
alpukat Ok!”
“Ah,
gila lu…, ini namanya perampokkan. Bisa bikin kantong gua bobol tahu! Masa
jadwlanya makan mulu?”
“Ya
tadi kan udah janji, gak boleh ingkar!” dengan tawa menggoda Risa mengingatkan
Keyla.
“Ok
deh kanjeng Mami!”
“Ih
emangnya aku kayak kanjeng Mami…, gak liat apa aku langsing kayak gini?”
“Kalo
diliatnya dari atas menara Eiffel sih langsing tapi kalo dari jarak dua ratus
meter masi tetep ndut heheh…” Keyla emang suka ngejailin temannya yang selalu
uring-uringan kalo masalah berat badan, niatnya gak mau nambah ndut tapi
pikirannya makan mulu, kapan langsingnya coba.
Mereka
pun sudah tiba di kedai lontong kari dan bubur ayam. Risa lebih memilih lontong
kari sedangkan Keyla memesan bubur ayam. Sambil menunggu sang penjual
menyajikan menu yang mereka pesan. Risa mulai mengatur kameranya untuk
mengabadikan setiap momen liburan ini, setiap kegiatan yang mereka lakukan
harus ada dokukmentasinya sebagai bukti sejarah. Ceileh segitunya. Intinya sih biar
ada kenangan aja walaupun tempatnya cuma seputar kota tempat tinggal, tapi kalo
ada dokumentasi jadi lebih berkesan. Tak cukup lama pesanan mereka datang. Risa
mulai mengambil beberapa foto dari mulai pesanan mereka yang di anterin si
mamang pedagang, sampai gerobak tampak depan dan samping pun di foto, tentunya
yang paling pokok adalah foto gambar mereka berdua yang lagi makan. This time
to narsis.
Terdengar
suara seorang laki-laki memesan bubur ayam. Entah kenapa Keyla seperti punya
ikatan batin dengan suara itu, suara itu
seolah menarik kepala keyla untuk menengok ke arah datangnya suara itu. Dengan
sedikit ragu-ragu ia menoleh kearah datangnya suara itu. Dan dalam waktu sepersekian
detik jantungnya mulai merasa berdetak tak semestinya ia pun langsung menarik
lagi pandangannya.
Mungkinkah
ini yang namanya takdir. Bangku yang kosong di kedai itu hanya bangku yang
sedang Keyla dan Risa tempati.
Suara
langkah kaki mulai terdengar mendekati tempat duduk Keyla. Saat itu pula, Keyla
tak tahu apa yang harus ia lakukan dadanya begitu sesak, hatinnya bergetar
hebat dan sulit untuk dikendalikan. Tatapannya hanya tertuju pada semangkok
bubur ayam yang ada di hadapannya ia mengunyah dengan perasaan gusar dan gundah,
walaupun sebenarnya tak perlu dikunyah. Risa yang duduk di sampingnya tak
menyadari kegelisahan temannya itu, ia asik dengan lontong karinya dan kamera
di tangannnya.
“Apa
tempat ini masih kosong?” sesosok suara menyapu kesadarannya, dengan ramah sang
laki-laki itu meminta izin untuk duduk disana.
Dengan
nada gemetar dan gugup Keyla menjawab “Oh tentu silahkan duduk!” sambil menengok
dan mempersilahkan duduk, Keyla segera memindahkan tasnya yang tadinya berada
di pinggirnya keatas meja.
Selama
beberapa detik. Hening.
Keyla
berusaha fokus pada apa yang sedang ia makan.
“Hmmm…,
map. Sebelumnya apa kita pernah ketemu? Soalnya saya merasa tidak asing,” tanya
laki-laki itu pada Keyla.
Jeger…,
seperti disambar gledek Keyla merasa menjadi buronan yang tertangkap polisi.
“Hmmm…,”
Sebelum
Keyala menjawab laki-laki itu kembali berkata “Owh iya, sepertinya saya melihat
Anda kemarin di Bank, benar kan?”
Ottoke,
Keyla tak menyangka ingatannya setajam itu. Malu dia, masa ia ingat disaat Keyla
kepergok lagi menatap wajahnya kan gak elit banget. “Hmmm….,”
“Key…,
kita foto berdua yuk! Masa fotonya cuma yang sendiri-sendiri. Mas bisa tolong
fotoin?” dengan wajah polos Risa memberikan
kamera ke laki-laki yang duduk di samping Keyla.
“Oh
tentu.” dengan senang hati laki-laki itu mengambil kamera yang disodorkan Risa
dan memotret beberapa moment Risa dan Keyla. Namun terlihat kegugupan dari
dalam diri Keyla.
“Terimaksih!”
Risa mengambil kembali kamera dari tangan laki-laki itu dan mulai sibuk dengan aktifitasnya
tanpa tahu apa yang sedang dilalami Keyla.
“Kenalkan
nama saya Farid,” sambil mengulurkan tangan laki-laki itu memperkenalkan diri.
Dengan
menahan rasa gugup Keyla menyambut tangan itu, “Keyla”.
Masih
bingung apa yang harus Keyla katakan, akhirnya ia mulai bicara…, “Hmmm…, maap
soal yang kemarin.”
“Soal
apa?”
“Kemarin
saya melihat Anda tidak sopan,” dengan nada yang penuh keraguan Keyla
mengungkapkan sikapnya kemarin.
“Jangan
panggila saya ‘anda’ panggil Farid aja lagian umur saya masih muda kok” Keyla
hanya tersenyum malu, salah lagi dalam hatinya Keyla mengumpat. “Untuk yang kemarin
itu wajar, gak masalah kok,” dengan mengaduk bubur ayamnya Farid memulai topik
baru.
“
Ada acara apa ni?”
“Hmmm…,
ini kami lagi acara liburan. Biasa buat dokumentasi, owh ya maap tadi teman
saya gak sopan menyuruh anda untuk memotret, kenalin ini Risa teman saya,”
sambil menggamit tangan Risa, Keyla memperkenalkan sahabatnya itu .
“Hai”
Risa menyodorkan tangan untuk bersalaman, “Risa”
“Farid”
“Kalian
udah saling kenal ya?” tanya Risa pada Keyla dan Farid.
“Hmmm…,
ya secara kebetulan kemarin kami ketemu” ujar Farid
“Owh…,”
hanya dengan nada owh saja Risa menaggapi.
Mereka
terlibat dalam acara ngobrol pagi di kedai lontong. Topik demi topik silih
berganti. Seperti sudah kenal lama mereka akrab mengobrol. Namun ada sedikit
penekana dan perkataan yang teesbunyi dibalik kata yang dilontarkan Keyla dan
Farid. Seolah mereka punya dunia tersendiri bagi kaliant yang mereka utarakan.
Sesekali mereka tertawa renyah. Waktu yang tak bisa diajak kompromi memutuskan
obrolan mereka.
“Aku
harus segera masuk kantor…, dan kuharap kita bisa ketemu lagi!” ucap Farid
dengan penuh penyesalan.
“Oh
tentu,” jawab Keyla.
Farid
pun pergi sambil membayar makanan yang telah dimakan tadi. Namun sesuatu
tersimpan disana ditangan sang penjual lontong kari.
“Yuk
keburu siang, kita caw” ajak Risa yang sudah tak sabar ke tempat selanjutnya.
Keyla
menghapiri si mamang lontong kari sambil menyodorkan uang.
“Oh…,
sudah di bayar Neng tadi sama si Mas yang duduk dekat si Neng, ia juga
menitipkan ini sama mamang,” Si mang itu memberikan sebuah kartu nama. Disana
tertera jelas “Farid Alamsyah” lengkap dengan alamat, nomor telepon dan
pekerjaannya yang tak lain seorang pegawai bank. “…..tadi kata si Mas situ, ia
lupa dan terburu-buru jadi nitip ini ke Mamang”.
“Owh…,
ok makasih Mang!”
Dengan
perasaan senang campur bingung ia memegangi kartu nama itu. Namun, ia senang
mungkin ini jawaban dari harapnnya kemarin. Percayalah kalo jodoh gak kemana.
THE END J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar