“Zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan yang
bernama Hastinapura, lahirlah tiga orang pangeran dari pasangan Raja Pandu dan
Dewi Kunti. Mereka adalah Yudhistira, Bima, dan Arjuna. Raja Pandu sangat
bahagia mendengar beRika kelahiran putranya itu. Kebahagiannya berlipat ganda
setelah kemudian ia juga dikaruniai dua putra kembar Nakula dan Sadewa dari istrinya
Madri. Namun, takdir berkata lain. Madri harus berpulang dari dunia, sehingga
Nakula dan Sadewa pun diasuh Kunti.
Sedangkan di
sisi lain, Gandari istri Dretarastra merasa cemburu mendengar Kunti telah
dikaruniai tiga orang putra. Akhirnya ia memohon pada seorang pertapa sakti
untuk mengabulkan permintaanya. Dengan bantuan pertapa sakti itu Gandari hamil
dan melahirkan 100 putranya. Duryodana adalah anak sulung Dretarastra, yang
kemudian disusul Dursasana dan ke-98 saudaranya.
Walaupun
Drestarasta adalah saudara Pandu, tapi perseteruan antara putra Drestarastra
dengan putra Pandu tak dapat dielakkan. Ksatria Pandawa yang terdiri dari
Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa harus melawan para Korawa yang tak
lain adalah putra Drestarastra.
Para Ksatria
Pandawa memiliki kekuatan dan kehebatan. Yudhistira yang terkenal bijaksana,
dan memiliki nilai moral yang tinggi. Bima dengan badannya yang kuat dan
terkenal mahir dalam berperang. Arjuna yang terkenal paling tampan dan pandai
memanah, ia juga pandai berperang. Nakula yang pandai memainkan pedang dan
Sadewa yang pandai ilmu astronomi. Walaupun hanya lima orang, namun dengan
kekuatan dan kehebatannya, Pandawa mampu melawan 100 orang Korawa,”
seorang laki-laki yang sedari tadi berceRika tampak menghela napas dan menutup
bukunya, ketika bel sekolah berbunyi yang diiringi suara gaduh anak didiknya
yang kecewa. Namun seorang gadis kecil tampak mengacungkan tangannya.
Melihat
anak didiknya mengacungkan tangan guru itu bertanya, “Ada apa Rere? Apa ada
yang ingin Rere sampaikan?”
Denga
antusias gadis kecil itu bertanya, “Lalu Pak, bagaimana Pandawa bisa melawan
Korawa?”
“Nah,
kalo mau tahu jawabannya, kita lanjutkan minggu depan. Sekarang bereskan
perlengkapan kalian dan berdo’a, karena bel pulang sudah berbunyi,” ujar sang
guru.
Walaupun
masih penasaran dengan ceRika Pandawa itu, tapi ketika mendengar jawaban dan perintah
guru mereka, anak-anak segera membereskan alat tulisnya.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar