Sabtu, 02 November 2013

Adilkah Ini???


Angin malam menembus tulang rusukku. Sangat  dingin dan membekukan hatiku yang hampa. Tak ada kasih sayang, tak ada perhatian dan tak ada yang peduli lagi siapa aku sekarang. Kupeluk adikku yang tengah tertidur pulas. Kutahu dalam tidurnya tak senyaman dan seindah dulu. Kuselimuti ia dengan baju hangatku, kuharap dapat menahan dinginnya cuaca malam ini. Kusapu rambutnya dengan penuh kasih sayang, mataku basah dan tak terasa menetes membasahi pipi. Dadaku bergetar menahan gejolak emosi agar tangisku tak menjadi. Hatiku terus berkata ‘kamu harus kuat, kamu bisa’.  Aku harus bisa melewati semua ini. Kini hanya aku dan adikku tak ada yang lain. Ayah…, Ibu…., kau melihat kami maka Rhidoilah kami. Hanya itu yang tertanam dalam benakku sekarang.
Langit yang begitu hitam tak mampu memberikan cahaya bintang walaupun sedetik. Semua toko tertutup rapat tak ada celah untuk berlindung. Hanya lorong antar toko yang kini mampu melindungi kami dan dengan sehelai karton bekas sebagai alas tidur yang kini kuanggap nyaman. Semuanya berbeda. Tak seperti dulu dengan kasur empuk dan atap yang kokoh dalam bangunan yang gagah. Sekarang semuanya rapuh, seperti hatiku yang rapuh tak punya panutan untuk berlindung. Kasih sayang yang utuh dari Ayah dan Ibu kini telah tiada. Semuanya berbalik. Sekarang akulah yang harus member kasih sayang itu pada adikku. Bisakah aku menggantikan mereka walau hanya sekedar mengisi celah yang kosong dalam hati adikku?
“Mama…, Mama…, Mama…” adikku  terus memanggil Mama dalam tidurnya. Melihatnya seperti ini semakin ingin kumenjerit dan lari. ‘Tuhan masih adilkah ini bagiku??? Inikah bukti kasih sayangmu padaku???’ semakin ku mengeluh semakin ku khilap pada nikmat-Nya.
Kuusap kepalanya dengan penuh kasih sayang dan kubisikan kata untuk menenangkan tidurnya, “Mama disana, ditempat yang indah sedang melihat kita. Adek tidurlah yang nyenyak. Mama pun akan senang”, hanya itu yang bisa kulontarkan dari mulutku yang kembali terkunci dengan kepahitan.
Malam semakin larut. Angin pun semakin menusuk. Kutarik sehelai kain untuk menyelimuti badanku dan adikku. Berbantalkan tas jinjing berisi pakaian yang bisa kubawa dari rumah, aku mulai tertidur sembari memeluk adikku yang kini mulai tenang dalam tidurnya.
*****
Semburat merah di ufuk timur pertanda sang fajar terbangun dari peraduannya.  Beberapa toko sudah buka dan para pedagang mulai membereskan dagangan mereka. Raisya tersadar, dirinya terbangun dalam keramaian. Ia mulai membereskan barang-barangnya dan mencoba membangunkan adiknya. “La…, Dila bangun sayang…!”  
Dengan enggan adikku bangun dari tidurnya, ia tersenyum. Hari ini kami harus melanjutkan hidup dan meningalkan masa lalu kami yang kelam. “Kak, laper…!” aku terpekik dalam kesedihan, apa yang harus kulakukan sedangkan tak sedikitpun uang tersisa dalam dompetku. Tapi, ah ya…., aku teringat jam tanganku masih melingkar dipergelangan tanganku. Akhirnya kuputuskan untuk menjualnya.
Kami berjalan menyusuri jalanan pasar mencari toko jam yang sudah buka. Tepat di sebuah tikungan pertigaan aku melihat toko yang baru dibuka oleh pemiliknya. Tanpa pikir panjang aku dan adikku langsung menemui pemilik toko itu dan menawarkan jam yang kini berada dalam genggaman tanganku. Membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mendapatkan harga yang sesuai dari kedua belah pihak. Akhirnya jam itu berhasil dijual dengan harga seratus ribu rupiah, lumayan uang ini cukup untuk hidup kami selama beberapa hari kedepan.
Adikku terus merengek kelaparan, tepat didepan kami terdapat sebuah warung nasi kuning. Kami masuk ke warung itu dan memesan dua piring nasi kuning berikut teh manisnya. Kuamati warung itu, kecil dan sederhana. Seorang ibu yang melayani kami tampak sibuk melayani pelanggan lain. Kami makan dengan lahap, segelas teh manis mampu memberiku semangat pagi ini.
Selesai makan aku menghampiri seorang gadis yang seumuran denganku, yang memang kulihat dari tadi sibuk melayani pelanggan yang akan membayar.  Langkahku semakin dekat dan samar-samar kulihat wajahnya yang memang tak asing lagi bagiku. Kini aku berada didepannya, namun ingatanku masih belum tahu siapakah orang yang berada dihadapanku ini. Aku menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan. Ia menyapaku ragu, “Dina…?” mukanya ragu-ragu.
Lantas aku hanya bisa menjawab, “I…,Iya…,aku Dina?” aku masih bingung tak dapat mengenali sosok yang kini berada di hadapanku.
Ia membaca kebinguanganku, “Din, ini aku Lara temen SMP dulu masih ingat gak?”
Aku memutar memoriku dan akhirnya aku bisa menemukan jawaban dari kebingunganku ini, ya aku ingat dia Lara teman SMP ku dulu waktu kami duduk di kelas tiga SMP kami sekelas. “Oh, aku ingat. Lara gimana kabarmu?” sembari merangkul tubuhnya yang lebih kecil dari tubuhku.
“Alhamdulillah baik Din, kamu sendiri gimana?” ia tampak bingung melihat keadaanku yang sedikit kumal, tak seperti dulu yang selalu rapi dan wangi.
“Yang seperti kamu lihat, keadaanku lagi gak baik,” air matakku hampir jatuh, tapi mampu kutahan, semua ingatan kelam itu menerpa memoriku.
“Din, apa yang terjadi? Itu adikmu kan?” tampak Lara melihat adikku yang sedang duduk di sebuah kursi pelanggan dengan tas jinjing berisi baju kami disampingnya.
Mataku menuntun melihat kearah adikku yang masih menikmati makannnya. “Iya, Ra….” dengan nada lirih yang tak mampu kutahan air mata pun jatuh.
“Baiklah, sekarang kamu duduk dulu, tenangkan pikiranmu, kalo kamu gak keberatan boleh kok ceritakan masalahmu, mungkin aku bisa bantu,” dengan penuh perhatian Lara menenangkanku. Kini kami duduk disebuah bangku kosong dekat dengan adikku yang masih menikmati makanannya.
“Sejak seminggu yang lalu keluarga kami mendapat musibah….,” kata-kata yang terpendam selama ini keluar dari mulutku begitu saja terdorong oleh emosi yang masih menyeruak dalam batinku. “Perusahaan ayah bangkrut, kami harus mengganti semua kerugian, aku juga gak tahu persis inti permasalahannya. Namun ketika pulang sekolah, kulihat rumah dan semua barang-barangku disita, ayah dibawa ke kantor polisi. Aku melihat ibu yang menangis memeluk adikku. Sejak saat itu, hidup keluargaku berantakan,” sesak itu keluar seiring dengan mengalirnya kata-kata curahan hatiku.
“Lalu ibumu?” Lara bertanya dengan nada lirih.
“Ibu…, sejak lama ibu sudah sakit-sakitan. Ia tak tahan menghadapi semua musibah ini, dua hari setelah itu, ibu terkena serangan jantung dan tak sempat dilarikan ke rumah sakit…., ibu meninggalkan kami,” seakan mengorek luka masa lalu hatikku semakin menjerit.
“….., tak ada satu pun keluargaku yang datang. Aku tahu, mungkin ini balasan bagi kami yang selalu jauh dan tak peduli pada keluarga besar kami. Ayah dengan sifatnya yang keras kepala, membuat paman dan bibiku tak pernah lagi menginjakan kaki di rumah kami sejak setahun yang lalu. Sedangkan ibu, sejak menikah dengan ayah ia sudah tak berkerabat.”
“Yang tabah ya Din, jadi sekarang kalian tinggal dimana?”
“Aku tak tahu, sejak kemarin kami hanya mengikuti langkah kaki kami dan sekarang kami sampai disini. Aku tak tahu harus pergi kemana. Aku bingung Ra….,” air mata yang memaksa jatuh kuseka dengan jariku.
“…,hmmmsekarang begini saja. Sementara kau mencari tempat tinggal bagaimana kalau kamu dan adikmu tinggal dirumah kami. Itu juga kalau kalian bersedia tinggal di gubuk yang kecil,” dengan hati-hati Lara mengajak aku dan adikku tinggal dirumahnya. Aku tahu mungkin ia canggung dengan kebiasaanku yang dulu selalu hidup serba mewah.
“Apa orang tuamu gak keberatan?” aku bertanya memastikan.
“Kami hanya tinggal berdua, aku dan ibuku. Aku yakin ibuku pasti mengizinkan, atau sekarang aku bicara dulu pada ibuku, kalian tunggu dulu sebentar disini!” Lara pun segera menemui ibunya yang masih sibuk menjajakan makanan yang baru ia masak di sebuah etalase.
Kuperhatikan ibunya yang seusia dengan ibuku. Melihatnya aku seperti melihat bayangan ibu. Air mata yang kering kini basah kembali. Kudengar adikku memanggil, segera kuseka air mataku. Aku pun segera mendekati adikku, sesekali kulihat Lara yang tampakknya sedang menjelaskan keadaanku sekarang, ketika aku menengok kearah mereka dan ibunya tampak tersenyum padakku. Dari senyumnya kulihat keramahan hatinya, inginku berlari memeluknya seperti memeluk ibuku, jiwa yang rindu belaian seorang ibu ini memberontak dalam kegamangan jiwa. Aku hanya bisa membalas seyumannya sembari menganggukan kepala tanda hormat.
Aku sibuk membersihkan baju adikku yang tak sengaja terkena tumpahan air teh manis. Tanpa kusadari Lara dan ibunya sudah berdiri di sampingku. Aku pun segera berdiri dan memberi salam.
“Nak Dina?” sapa ibunya Lara. Suaranya begitu lembut di telinga.
“Iya, Bu…., saya Dina ini adikku Dila,” adikku segera memberi salam ketika kuperkenalkan dirinya.
“Ibu sudah dengar semuanya dari Lara. Kalau kalian mau, kalian boleh tinggal dirumah kami, kebetulan di rumah hanya ada Lara dan Ibu. Tapi …., rumah ibu kecil dan mungkin layaknya disebut gubuk,” dengan sedikit ragu ibunya Lara menjelaskan kedaannya.
“Saya sangat berterima kasih ibu sudah mengizinkan kami tinggal bersama ibu. Bagaimana kami membalas semua ini….,,” sebelum aku melanjutkan perkataanku ibunya Lara segera memotongnya.
“Ssst, kita semua saudara malah ibu senang Lara jadi ada temannya, mulai sekarang Dila anggap ibu sebagai ibu kandung Dila sendiri, jangan sungkan,” dengan penuh perhatian beliau mengelus kepalaku, aku pun tak kuasa untuk tak memelukanya. Kurasakan dekapannya sangat hangat seperti mendapat kasih sayang yang kemarin pernah hilang. Kini mulai kulihat mentari cerah setelah mendung menyibak langit.
*****
 Aku, Lara dan adikku menelusuri sebuah gang sempit seperti jalan tikus. Lingkungan yanga cukup ramai walau sedikit kotor namun terlihat rasa kekeluargaan yang erat antar penduduknya. Hal ini terlihat ketika terdengar sapaan disetiap kami melewati sekelompok orang yang sedang santai di depan rumah, ataupun ketika kami berpapasan dengan yang lainnya. Tampaknya mereka akrab sekali dengan Lara. Sangat berbeda sekali dengan lingkungan tempat tinggalku dulu, sangat individualisme. Tak pernah ada sapaan, tak ada senyuman, kami semua sibuk dengan kegiatan kami masing-masing, termasuk aku dan keluargaku yang tak pernah mengenal kata tetangga.
“Itu rumahku yang bercat putih,” tunjuk Lara ke sebuah rumah yang kecil dan sangat sederhana.
Aku menuntun adikku yang sudah lelah. Akhirnya kami sampai juga, sembari menghela napas, Lara segera membuka pintu. Kami masuk, ruang tamu yang berukuran 3x4 meter terisi dengan sebuah kursi dan meja yang menghadap pintu dan dibelakangnya tampak televise ukuran 14 inci diatas sebuag meja kayu kecil. Disamping ruang tamu ada dua buah pintu, Lara segera menjelaskan ketika mataku melihat ke arah pintu itu.
“Ini kamarku….,” tunjuk Lara kesebuah pintu kamar pertama “…dan ini kamar ibuku dan yang disana dapur,” tampak sebuah dapur dan kamar mandi ketika kami berjalan lurus setelah melewati ruang tamu. “Nanti, kamu dan adikku tidur di kamarku, aku dan Ibu tidur di kamar Ibu…,” jelas Lara.
“Makasih banyak Ra…,” tak sadar aku memeluk tubuh Lara. Ia memelukku erat dengan penuh kelembutan.
Dulu aku begitu acuh tak pernah melirik orang seperti Lara, tak pernah berpikir kehidupan orang yang berada di sekitarku. Aku begitu angkuh, tak pernah bersyukur akan nikmat-Nya. Yang kubisa hanya mengeluh dan selalu berpikir ini tak adil ketika aku mendapat sebuah masalah, sampai aku kehilangan semuanya aku sadar bahwa Allah selalu adil pada setiap hamba-Nya.
Aku yang selalu hidup mewah tapi tak mengerti akan arti sebuah kehidupan. Namun Lara yang hidup serba kecukupan ia memiliki semuanya, kasih sayang dari orang disekitarnya yang selalu menganggap keberadaanya. Inilah keadilan yang Allah tunjukan padaku.
The End



Tidak ada komentar:

Posting Komentar