Sabtu, 26 Oktober 2013

Venusku



Kupandangi langit yang berhiaskan bintang, sungguh indah dan menakjubkan. Namun, dari kecil aku hanya suka pada satu bintang “Bintang Kejora”. Mungkin ini karena mama yang sering menyanyikanku lagu Bintang Kejora. Sekarang aku tahu kalau bintang kejora yang dimaksud bukanlah bintang dalam arti sesungguhnya tapi sebuah planet yang hanya memantulkan cahaya dari matahari. Venus. Ya seperti namaku ‘Venus’. Ketika kutanyakan mengapa mama dan papa memberi namaku Venus mereka hanya menjawab, “Karena Venus artinya dewi kecantikan, jadi kelak kamu bisa tumbuh menjadi putri yang cantik.” Setiap aku mengingat itu, sering aku tersenyum sendiri. Lucu memang, sebuah nama yang sangat singkat, padat, dan jelas, namun memiliki arti sangat mendalam bagiku dan kedua orang tuaku.
Tak pernah aku bosan melihat Venus yang bersinar di ufuk timur sebelum matahari terjaga, dan terkadang aku menemukannya dikala matahari sudah terlelap di ufuk barat. Cahaya jingga kemerahan yang membuatku terpikat akan pesonanya. Seperti sekarang yang kulakukan, mengagumi pesona cahayanya, walaupun sedikit meredup tapi cahayanya masih mengalahkan cahaya bintang lainnya. Tak seperti biasanya cahaya yang ia pancarkan terkesan pudar dan pucat, seperti seorang yang kehilangan auranya di kala sakit.
Malam semakin larut segera kututup jendela kamar dan bergegas tidur. Terdengar suara HP berbunyi, ‘hmmm, pasti dari Lintang,’ pikirku. Biasanya dia selalu sms aku sebelum tidur. Dan ternyata benar.
From MyLintang
 Ven, bsk brangktnya bareng Ney aja ya! Kak gak bisa jemput. Nite , J
Aneh. Gak biasanya. Tanpa babibu lagi, segera ku balas smsnya.
To MyLintang
Iya deh, tapi kalo blh tau…Emang Kak ada perlu apa?
Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Sampai sepuluh menit kutunggu balasannya namun ponselku tetap saja tak berbunyi. Dengan hati kesal segera kupejamkan mata.
***
Pukul 04.00 WIB. Mataku sudah terjaga. Kamarku begitu gelap, segera kunyalakan lampu tidur. Aku terkejut. Kulihat Mama, Papa, dan adikku Bintang menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan sebuah kue berhiaskan lilin angka 17 tanda usiaku. Aku tersenyum bahagia.
“Selamat ulang tahun sayang!” Papa memelukku.
“Makasih Pa, aku sayang Papa…,” tak terasa air mataku terjatuh.
“Tiup dulu donk lilinnya,” Mama membangunkanku dari rasa terharu.
Aku pun memejamkan mata berdo’a sebelum kutiup lilin yang berbentuk 17. Selesai meniup lilin, kupotong kuenya. Potongan pertama kuberikan untuk Mama dan Papa. Yang kedua kuberikan pada adikku tercinta yang masih berusia tujuh tahun.
“Makasih, Ma…, Pa…, aku sayang kalian” tak kuasa aku segera memeluk Mama dan Papa. Kurasakan hangat pelukan kasih sayang mereka.
“Mama dan Papa juga sangat sayang sama Venus, jadilah anak yang berbakti yang selalu menjadi kebanggan kami,” pesan Mamaku.
“Ih, kakak jahat, ade ikutan donk…,” adikku merajuk ingin dipeluk.
“Oh iya, kakak lupa, heheh…, ayo sini,” kurebahkan tanganku dan kupeluk adikku.
Terima kasih Tuhan, Engkau memberiku keluarga yang sangat mencintaiku.
***
Pagi ini matahari bersinar terang. Ponselku tak berhenti berbunyi, semua pesan dan telpon ucapan selamat ulang tahun terus berujar dari teman dan kerabat. Namun, tak satupun sms atau telpon dari Lintang. Aku terdiam  dan termenung di teras depan menunggu Neysa.
“Kok anak Mama belum berangkat? Emangnya Lintang gak jemput?” tanya Mamaku.
“Hmmm…, katanya ada perlu jadi hari ini gak jemput Venus,” jawabku masih dengan muka ditekuk.
“Masa yang lagi ulang tahun sedih, senyum donk..,” dengan senyumnya Mama menyuruhku tersenyum. “Nah gitu baru betul,” ujar Mamaku ketika melihatku tersenyum. “Oh iya Mama lupa…, pulangnya jangan telat. Mama dan Papa punya sesuatu buat kamu.”
“Apaan Ma?”
“Nanti juga tahu, sudah sana berangkat Neysa udah datang tuh!” kulihat Neysa duduk dibalik kemudi motornya. Aku pun segera berpamitan sama Mama.
“Selamat ulang tahun Venusku sayang,” ucap temanku begitu aku menghampirinya, ia memelukku.
“Makasih Ney!” kubalas pelukkan sayangnya.
“Kok cuma gitu doank sih? Pokoknya ntar istirahat kutunggu traktirannya. Ok!”
“Iya deh….”
“Oh iya aku lupa, “ kulihat Neysa membuka tasnya dan mencari sesuatu. “Ini dariku, tapi dibukanya ntar aja,” ia memberiku sebuah kado kecil berbalut kertas kado warna pink.
 “Makasih ya, Ney…”
“Yoha, yuk berangkat!” ajak Neysa.
Kumasukkan kado kecil itu ke dalam tasku. Kami pun berangkat.
***
 Pagi itu di sekolah kuharap dapat bertemu denganya. Namun, tak sedikitpun batang hidungnya kelihatan. Saat istirahat, kutunggu smsnya, namun tak satupun sms datang darinya.  Kucari ia dikantin, perpustakaan, dan kuberanikan diri datang ke kelasnya. Dan kudengar dari kakak kelas itu hari ini ia tak masuk. Cemas menghampiriku, segera kutelpon ponselnya. Tetap tak ada jawaban. Puluhan sms kukirim tak satupun dibalasnya. Sampai bel pulang berbunyi, masih tak ada kabar darinya.
***
Kuhempaskan tubuhku dikasur saat aku tiba dikamarku. Kupejamkan mata melepaskan semua kepenatan hari ini. Sungguh tenang, rumah begitu sepi tak ada celotehan adikku. Mama dan adikku sedang belanja, dan Papa masih di kantor. Tiba-tiba ponselku berbunyi, tanpa melihat namanya segera kuangkat telpon yang masuk.
“Hallo…,” sapaku dengan nada malas.
“Bisakah kau buka pintunya!” terdengar suara yang sangat kukenal di seberang sana.
Segera aku berlari menuju pintu masuk ruang tamu. Kecewa. Tak kutemukan seorang pun di sana. Ponselku berbunyi lagi, tanda sms masuk.
From MyLintang
Kutunggu ditempat pertama bertemu! Miss U ^^  
Masih dengan seragam sekolah melekat ditubuhku, aku kembali ke sekolah. Aku tahu tempat yang dimaksud Lintang. Segera aku panggil taksi yang lewat dan berangkat menuju sekolah.
Setahun lalu ketika tahun ajaran baru dimulai. Aku bertemu dengannya di kelas X-A. Di hari pertama, aku kesiangan dan terlambat masuk kelas, dan dia jadi panitia MOS (baca: masa orientasi siswa) sekaligis kakak pendampingku. Kalimat pertama yang kuucapkan adalah ketika aku memintanya untuk membukakan pintu, ‘Bisakah Kakak membuka pintunya!”
Tepat ketika kubuka pintu kelas itu, tampak ia tersenyum dengan sebuah chocolate cake dan lilin yang menyala di atasnya. Setelah berdo’a, kutiup lilinnya dan kuberikan potongan kue untuknya.
“Selamat ulang tahun Venusku, semoga selalu bersinar cantik seperti bintang timur,” dengan rayuannya ia mengucapkan selamat ulang tahun. Hati yang kesal sedikit demi sedikit luruh, walaupun masih tersisa serpihan kesal itu tapi kuakui aku bahagia.
“Masih marah ya?” ia membaca raut mukaku yang masih kesal.
“Kenapa gak balas smsku? Kenapa gak angkat telponku? Pake acara gak masuk sekolah lagi!” semua emosi yang dari pagi kupendam kucurahkan dalam pertanyaanku.
“Oh jadi itu yang membuat putriku cemberut? Kenapa gak tanya, ‘kenapa gak mengucapkan selamat ulang tahun padaku?’ gitu,” dia masih menggodaku.
Aku pun segera membalas perkataananya, “Itu juga.”
“Baiklah. Yang pertama aku gak angkat telpon dan gak balas sms karena ponselku ketinggalan di rumah. Dan yang kedua kenapa gak masuk? Karena hari ini aku mengantar Mama ke Bandung jadi terpaksa bolos. Dan yang terakhir, alasan aku gak menjadi orang pertama mengucapkan selamat ulang tahun karena aku ingin menjadi orang yang terakhir mengucapkan selamat ulang tahun dan berharap menjadi laki-laki terkhir dalam hidupmu,” jelasnya panjang lebar.
Hatiku lega mendengar penjelasannya, dan walaupun sedikit gombal namun aku suka kata-kata terakhirnya ‘Menjadi laki-laki terakhir dalam hidupmu’. Semoga.
*** 
Aku pulang dengan bahagia dan sekotak kado dari Lintang.
Hari ini sangat indah. Terima kasih Tuhan, Engkau selalu memberiku orang-orang yang menyayangiku. Senja yang merajuk malam, mengantarkan sang surya dalam peraduannya. Kulihat kejora itu tersenyum pucat di ufuk barat.
Terdengar suara ketukan pintu kamarku. Aku pun segera beranjak dari kebiasaanku memandang sang kejora. Kubuka pintu kamarku, kulihat Mama dan Papa berdiri di balik pintu kamarku.
Mama dan Papa duduk di kasurku, sedang aku menarik kursi belajarku. Kutatap raut wajah mereka seperti ada hal penting ingin dikatakan.
Kulihat wajah Mama yang sedikit ditekuk ketika ia hendak bicara, “Sayang…, mulai sekarang kamu bisa kembali pada kehidupanmu yang seharusnya. Menjadi dirimu yang sesungguhnya.” Raut muka yang sedih semakin terlihat kala kupandang wajahnya.
Aku bingung. Sama sekali tak mengerti apa yang baru saja dikatakan Mamaku. “Maksud Mama apa? Aku gak ngerti,” tanyaku penuh kebingungan.
“Venus yang sering kau pandangi dan kau kagumi itu, disanalah tempatmu seharusnya berada bersama rakyat dan keluargamu,” penjelasan Papa semakin membuatku tak mengerti arah pembicaraan ini.
“ Tujuh belas tahun yang lalu. Kami mendapat tugas untuk menjagamu di bumi ini. Dewi Venus X yang tak lain adalah Mamamu yang sebenarnya, memberi amanat pada kami untuk menjagamu dari Dewa Pluto yang berusaha mencuri cahaya Negeri Venouscity. Sekarang, cahaya Venus semakin memudar karena energi cahaya Dewi Venus X semakin melemah, dan sebagai keturunan dari Dewi Venus kau berhak menjadi pewaris tahta Negeri Venouscity dan menjadi penerang bagi Negeri Venouscity,” jelas Mama dan Papaku panjang lebar.
“Apa-apaan ini? Ini gila dan tak masuk akal. Bagaimana mungkin aku adalah Putri Negeri Venouscity yang kedengarannya saja seperti sebuah dongeng pengantar tidur,” bantahku dengan rasa tak percaya pada semua perkataan orang tuaku.
“Tapi ini benar sayang…, kau lihat bintang yang sering kau pandangi itu. Venus. Cahayanya redup dan itu karena kekuatan cahaya Dewi Venus X semakin lemah. Sekarang, Venus membutuhkan energi cahaya baru yaitu dirimu yang akan menggantikan Dewi Venus X,” Mamaku menjelaskan dengan nada yang tenang.
Kulihat bintang timur itu. Memang benar cahayanya semakin meredup. Tapi yang kuatahu planet itu hanya memantulkan cahaya matahari. Tak pernah kudengar adanya sebuah negeri, kerajaan atau apapun itu yang mendiami sebuah planet. Ditambah lagi jarak Venus yang dekat dengan matahari, tak akan ada makhluk yang bertahan hidup disana.
Jadi kalau seperti itu. Apakah aku alien si makhluk luar angkasa? Tapi kenapa wujudku seperti makhluk bumi?
Inilah kenyataannya, sebuah misteri kehidupan yang sulit dipercaya jika mengandalkan logika dan ilmu pengetahuan saja. Setelah perdebatan yang cukup panjang antara aku dan kedua orang tuaku, aku baru bisa memahami dan menerima takdir ini.
Kini aku terdiam menatap sang kejora yang meredup dan sebuah kalung pemberian Dewi Venus X berbandul bulat warna putih. Namun, jika kalung ini dipakai bandul putih itu akan berwarna jingga, inilah yang dimaksud kekuatan cahaya yang dimiliki keturunan Dewi Venus.
***
Hari ini sebelum mentari terbangun aku harus segera bergegas meninggalkan bumi. Sedangkan orang tua yang mengasuhku dan Bintang akan tetap tinggal di bumi. Mereka memutuskan untuk menetap di bumi dan membangun keluarga di sini. Dan setelah aku pergi semua orang tak akan pernah mengingatku dalam memori mereka, tapi aku akan selalu mengingatnya. Orang-orang yang menyayangiku, Mama, Papa, Bintang, Neysa, Lintang dan teman-temanku yang lain tak akan mengingatku. Semua itu terjadi untuk tetap menjaga kedamaian bumi dan  Venus.
Aku hanya bisa berpamitan pada Mama dan Papa. Dengan untaian air mata kami pun berpisah. Hati ini semakin menjerit dan terluka tak bisa berpamitan dengan Lintang dan Neysa, walaupun sekedar melihatnya. Tak kusangka pertemuan kemarin menjadi yang terakhir bagiku. Hanya kotak musik dengan lagu bintang kejora sebuah kado dari Neysa menjadi kenangan untukku, dan sebuah cincin bermata jingga menghiasi jemariku pemberian Lintang.
Aku memasuki sebuah pesawat luar angkasa dengan desain unik dan elegan, semuanya terlihat cantik. Para penjaga tampak sibuk menyambut kedatanganku. Pesawat pun terbang meninggalkan bumi.
***
 Tiba di Venouscity aku dituntun seorang penjaga memasuki sebuah ruangan yang didominasi warna jingga. Semua ornamen antik dihiasi bunga-bunga berwarna jingga, menjadi daya tarik tersendiri.  Tampak sesosok tubuh berbaring dikasur berkelambu jingga. Sangat rapuh dan tak berdaya. Mukanya pucat kelabu. Aku mendekatinya. Wajahnya sangat cantik dan mirip denganku. Ia tersenyum melihatku, tapi terlihat butiran air mata dipelupuk matanya.
“Maapkan Ibu…., Ibu tak bisa menjagamu,” butiran air mata itu terjatuh.
“Ibu….,” aku menyapanya dan tak kuasa hatiku merajuk memeluknya. Tak pernah aku merasakan ikatan batin yang begitu kuat sebelumnya. Inikah yang dinamakan ikatan antara ibu dan anak? Mungkin. Aku merasakan pelukan kasih sayang rindu dalam dekapannya. Kami pun tak kuasa menahan tangis.
Setelah puas melepas rindu, pelukan pun terurai. “Kalungmu?” ibu melihat leherku dan terlihat heran karena tak ada kalung di sana.
Aku mengeluarkan kalung itu dari tasku, “Aku ingin Ibu yang memakaikannya untukku!”
Kini kalung itu melingkar dileherku. Bandulnya berubah menjadi jingga, kurasakan sesuatu yang begitu kuat terdorong dari jiwaku. Kulihat ruangan yang kutempati semakin bersinar memancarkan warna jingga. Kupandangi pemandangan dibalik jendela. Semuanya bersinar jingga.
“Syukurlah, semuanya telah kembali seperti dulu. Energi cahaya telah kembali dan sekarang kau telah menjadi Dewi Venus XI. Ibu harap kau selalu menjaga cahayamu untuk kedamaian Venus di angkasa,” kuatatap ibuku dan wajahnya tampak berseri dan bercahaya, tak seperti semula. Begitu besar kekuatan energi cahaya dariku dan kalung ini. “Istirahatlah, besok akan segera dilaksanakan upacara peneyerahan tahta, sekaligus ada hal penting yang ingin ibu tunjukan padamu,” Ibu menambahkan.
“Baiklah,” aku pun keluar dari ruangan itu dan seorang penjaga menuntunku ke sebuah ruangan yang tak kalah luasnya dari kamar ibuku. Tempat tidur yang besar masih dengan kelambu jingga. Meja rias berhiaskan mawar putih kesuakaanku, dan semua interior berwarna jingga. Kuhempaskan tubuhku, teringat bayangan Lintang. Aku rindu padanya. Tak ingatkah ia padaku? Begitu banyak yang ingin kuceritakan padanya, tapi itu semua hanya sekedar angan-angan.
***
Hari ini dengan memakai gaun mewah berwarna jingga aku berdiri di depan sebuah singgasana. Semua orang yang hadir mengenakan pakaian berwarna jingga. Dengan ditanggalkannya mahkota berwarna jingga dikepalaku, aku resmi menjadi Dewi Venus XI. Semoga aku dapat melaksanakan tugasku dengan baik.
Selesai upacara ibu membawaku ke sebuah taman. Semua bunga berwarna jingga bermekaran. Seseorang duduk di bangku taman. Kami menghampirinya. Aku terkejut melihat sosok yang sekarang di hadapanku ini. Orang yang begitu aku rindukan tiba-tiba muncul di depanku. Hatiku menangis terharu melihatnya. Tanpa sadar kini tinggal kami berdua di taman, ibu meninggalkanku dan membiarkan aku melepas rindu dengannya.
“Lintang…,” ucapku terbata. Masih dengan rasa tak percaya.
“Hmmm…,” hanya dengan senyum dan anggukan kepala dirinya mengiyakan ucapanku.
“Kenapa di sini? Darimana kau tahu aku di sini?”
“Karena aku ada untukmu,” ia merebahkan tangannya dan memelukku.
Sekarang aku tahu bahwa sejak dulu Lintang ditakdirkan menjadi pendampingku. Lintang sama sepertiku yang tak lain adalah penduduk Venouscity dan ia pun dikirim ke bumi untuk menjagaku. Dengan Lintang disisiku aku dapat menjalankan tugasku dengan tenang menyinari seluruh Negeri Venouscity.
“Walaupun kau dewi tapi bagiku kau tetap Venusku yang dulu,” bisiknya ditelingaku.
Dengan kebahagiaan kusinari Negeri Venouscity agar Venusku tetap menjadi kejora dikala matahari terlelep dan hendak terbangun.
TAMAT
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar