Kupandangi langit yang berhiaskan bintang, sungguh
indah dan menakjubkan. Namun, dari kecil aku hanya suka pada satu bintang
“Bintang Kejora”. Mungkin ini karena mama yang sering menyanyikanku lagu
Bintang Kejora. Sekarang aku tahu kalau bintang kejora yang dimaksud bukanlah
bintang dalam arti sesungguhnya tapi sebuah planet yang hanya memantulkan
cahaya dari matahari. Venus. Ya seperti namaku ‘Venus’. Ketika kutanyakan
mengapa mama dan papa memberi namaku Venus mereka hanya menjawab, “Karena Venus
artinya dewi kecantikan, jadi kelak kamu bisa tumbuh menjadi putri yang
cantik.” Setiap aku mengingat itu, sering aku tersenyum sendiri. Lucu memang,
sebuah nama yang sangat singkat, padat, dan jelas, namun memiliki arti sangat
mendalam bagiku dan kedua orang tuaku.
Tak pernah aku bosan melihat Venus yang bersinar di
ufuk timur sebelum matahari terjaga, dan terkadang aku menemukannya dikala
matahari sudah terlelap di ufuk barat. Cahaya jingga kemerahan yang membuatku
terpikat akan pesonanya. Seperti sekarang yang kulakukan, mengagumi pesona
cahayanya, walaupun sedikit meredup tapi cahayanya masih mengalahkan cahaya
bintang lainnya. Tak seperti biasanya cahaya yang ia pancarkan terkesan pudar
dan pucat, seperti seorang yang kehilangan auranya di kala sakit.
Malam semakin larut segera kututup jendela kamar dan
bergegas tidur. Terdengar suara HP berbunyi, ‘hmmm, pasti dari Lintang,’
pikirku. Biasanya dia selalu sms aku sebelum tidur. Dan ternyata benar.
From MyLintang
Ven, bsk brangktnya bareng Ney aja ya! Kak gak
bisa jemput. Nite , J
Aneh. Gak biasanya. Tanpa babibu lagi, segera ku
balas smsnya.
To MyLintang
Iya deh, tapi
kalo blh tau…Emang Kak ada perlu apa?
Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Sampai sepuluh
menit kutunggu balasannya namun ponselku tetap saja tak berbunyi. Dengan hati
kesal segera kupejamkan mata.
***
Pukul 04.00 WIB. Mataku sudah terjaga. Kamarku
begitu gelap, segera kunyalakan lampu tidur. Aku terkejut. Kulihat Mama, Papa,
dan adikku Bintang menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan sebuah kue
berhiaskan lilin angka 17 tanda usiaku. Aku tersenyum bahagia.
“Selamat ulang tahun sayang!” Papa memelukku.
“Makasih Pa, aku sayang Papa…,” tak terasa air
mataku terjatuh.
“Tiup dulu donk lilinnya,” Mama membangunkanku dari
rasa terharu.
Aku pun memejamkan mata berdo’a sebelum kutiup lilin
yang berbentuk 17. Selesai meniup lilin, kupotong kuenya. Potongan pertama kuberikan
untuk Mama dan Papa. Yang kedua kuberikan pada adikku tercinta yang masih
berusia tujuh tahun.
“Makasih, Ma…, Pa…, aku sayang kalian” tak kuasa aku
segera memeluk Mama dan Papa. Kurasakan hangat pelukan kasih sayang mereka.
“Mama dan Papa juga sangat sayang sama Venus,
jadilah anak yang berbakti yang selalu menjadi kebanggan kami,” pesan Mamaku.
“Ih, kakak jahat, ade ikutan donk…,” adikku merajuk
ingin dipeluk.
“Oh iya, kakak lupa, heheh…, ayo sini,” kurebahkan
tanganku dan kupeluk adikku.
Terima kasih Tuhan, Engkau memberiku keluarga yang
sangat mencintaiku.
***
Pagi ini matahari bersinar terang. Ponselku tak
berhenti berbunyi, semua pesan dan telpon ucapan selamat ulang tahun terus
berujar dari teman dan kerabat. Namun, tak satupun sms atau telpon dari
Lintang. Aku terdiam dan termenung di
teras depan menunggu Neysa.
“Kok anak Mama belum berangkat? Emangnya Lintang gak
jemput?” tanya Mamaku.
“Hmmm…, katanya ada perlu jadi hari ini gak jemput
Venus,” jawabku masih dengan muka ditekuk.
“Masa yang lagi ulang tahun sedih, senyum donk..,”
dengan senyumnya Mama menyuruhku tersenyum. “Nah gitu baru betul,” ujar Mamaku
ketika melihatku tersenyum. “Oh iya Mama lupa…, pulangnya jangan telat. Mama
dan Papa punya sesuatu buat kamu.”
“Apaan Ma?”
“Nanti juga tahu, sudah sana berangkat Neysa udah
datang tuh!” kulihat Neysa duduk dibalik kemudi motornya. Aku pun segera
berpamitan sama Mama.
“Selamat ulang tahun Venusku sayang,” ucap temanku
begitu aku menghampirinya, ia memelukku.
“Makasih Ney!” kubalas pelukkan sayangnya.
“Kok cuma gitu doank sih? Pokoknya ntar istirahat
kutunggu traktirannya. Ok!”
“Iya deh….”
“Oh iya aku lupa, “ kulihat Neysa membuka tasnya dan
mencari sesuatu. “Ini dariku, tapi dibukanya ntar aja,” ia memberiku sebuah
kado kecil berbalut kertas kado warna pink.
“Makasih ya,
Ney…”
“Yoha, yuk berangkat!” ajak Neysa.
Kumasukkan kado kecil itu ke dalam tasku. Kami pun
berangkat.
***
Pagi itu di
sekolah kuharap dapat bertemu denganya. Namun, tak sedikitpun batang hidungnya
kelihatan. Saat istirahat, kutunggu smsnya, namun tak satupun sms datang
darinya. Kucari ia dikantin,
perpustakaan, dan kuberanikan diri datang ke kelasnya. Dan kudengar dari kakak
kelas itu hari ini ia tak masuk. Cemas menghampiriku, segera kutelpon
ponselnya. Tetap tak ada jawaban. Puluhan sms kukirim tak satupun dibalasnya.
Sampai bel pulang berbunyi, masih tak ada kabar darinya.
***
Kuhempaskan tubuhku dikasur saat aku tiba dikamarku.
Kupejamkan mata melepaskan semua kepenatan hari ini. Sungguh tenang, rumah
begitu sepi tak ada celotehan adikku. Mama dan adikku sedang belanja, dan Papa
masih di kantor. Tiba-tiba ponselku berbunyi, tanpa melihat namanya segera
kuangkat telpon yang masuk.
“Hallo…,” sapaku dengan nada malas.
“Bisakah kau buka pintunya!” terdengar suara yang
sangat kukenal di seberang sana.
Segera aku berlari menuju pintu masuk ruang tamu.
Kecewa. Tak kutemukan seorang pun di sana. Ponselku berbunyi lagi, tanda sms
masuk.
From MyLintang
Kutunggu
ditempat pertama bertemu! Miss U ^^
Masih dengan seragam sekolah melekat ditubuhku, aku
kembali ke sekolah. Aku tahu tempat yang dimaksud Lintang. Segera aku panggil
taksi yang lewat dan berangkat menuju sekolah.
Setahun lalu ketika tahun ajaran baru dimulai. Aku
bertemu dengannya di kelas X-A. Di hari pertama, aku kesiangan dan terlambat
masuk kelas, dan dia jadi panitia MOS (baca: masa orientasi siswa) sekaligis
kakak pendampingku. Kalimat pertama yang kuucapkan adalah ketika aku memintanya
untuk membukakan pintu, ‘Bisakah Kakak membuka pintunya!”
Tepat ketika kubuka pintu kelas itu, tampak ia
tersenyum dengan sebuah chocolate cake
dan lilin yang menyala di atasnya. Setelah berdo’a, kutiup lilinnya dan
kuberikan potongan kue untuknya.
“Selamat ulang tahun Venusku, semoga selalu bersinar
cantik seperti bintang timur,” dengan rayuannya ia mengucapkan selamat ulang
tahun. Hati yang kesal sedikit demi sedikit luruh, walaupun masih tersisa
serpihan kesal itu tapi kuakui aku bahagia.
“Masih marah ya?” ia membaca raut mukaku yang masih
kesal.
“Kenapa gak balas smsku? Kenapa gak angkat telponku?
Pake acara gak masuk sekolah lagi!” semua emosi yang dari pagi kupendam
kucurahkan dalam pertanyaanku.
“Oh jadi itu yang membuat putriku cemberut? Kenapa
gak tanya, ‘kenapa gak mengucapkan selamat ulang tahun padaku?’ gitu,” dia
masih menggodaku.
Aku pun segera membalas perkataananya, “Itu juga.”
“Baiklah. Yang pertama aku gak angkat telpon dan gak
balas sms karena ponselku ketinggalan di rumah. Dan yang kedua kenapa gak
masuk? Karena hari ini aku mengantar Mama ke Bandung jadi terpaksa bolos. Dan
yang terakhir, alasan aku gak menjadi orang pertama mengucapkan selamat ulang
tahun karena aku ingin menjadi orang yang terakhir mengucapkan selamat ulang
tahun dan berharap menjadi laki-laki terkhir dalam hidupmu,” jelasnya panjang
lebar.
Hatiku lega mendengar penjelasannya, dan walaupun
sedikit gombal namun aku suka kata-kata terakhirnya ‘Menjadi laki-laki terakhir
dalam hidupmu’. Semoga.
***
Aku pulang dengan bahagia dan sekotak kado dari
Lintang.
Hari ini sangat indah. Terima kasih Tuhan, Engkau
selalu memberiku orang-orang yang menyayangiku. Senja yang merajuk malam,
mengantarkan sang surya dalam peraduannya. Kulihat kejora itu tersenyum pucat
di ufuk barat.
Terdengar suara ketukan pintu kamarku. Aku pun
segera beranjak dari kebiasaanku memandang sang kejora. Kubuka pintu kamarku,
kulihat Mama dan Papa berdiri di balik pintu kamarku.
Mama dan Papa duduk di kasurku, sedang aku menarik
kursi belajarku. Kutatap raut wajah mereka seperti ada hal penting ingin
dikatakan.
Kulihat wajah Mama yang sedikit ditekuk ketika ia
hendak bicara, “Sayang…, mulai sekarang kamu bisa kembali pada kehidupanmu yang
seharusnya. Menjadi dirimu yang sesungguhnya.” Raut muka yang sedih semakin
terlihat kala kupandang wajahnya.
Aku bingung. Sama sekali tak mengerti apa yang baru
saja dikatakan Mamaku. “Maksud Mama apa? Aku gak ngerti,” tanyaku penuh
kebingungan.
“Venus yang sering kau pandangi dan kau kagumi itu,
disanalah tempatmu seharusnya berada bersama rakyat dan keluargamu,” penjelasan
Papa semakin membuatku tak mengerti arah pembicaraan ini.
“ Tujuh belas tahun yang lalu. Kami mendapat tugas
untuk menjagamu di bumi ini. Dewi Venus X yang tak lain adalah Mamamu yang
sebenarnya, memberi amanat pada kami untuk menjagamu dari Dewa Pluto yang
berusaha mencuri cahaya Negeri Venouscity. Sekarang, cahaya Venus semakin
memudar karena energi cahaya Dewi Venus X semakin melemah, dan sebagai
keturunan dari Dewi Venus kau berhak menjadi pewaris tahta Negeri Venouscity
dan menjadi penerang bagi Negeri Venouscity,” jelas Mama dan Papaku panjang
lebar.
“Apa-apaan ini? Ini gila dan tak masuk akal.
Bagaimana mungkin aku adalah Putri Negeri Venouscity yang kedengarannya saja
seperti sebuah dongeng pengantar tidur,” bantahku dengan rasa tak percaya pada
semua perkataan orang tuaku.
“Tapi ini benar sayang…, kau lihat bintang yang
sering kau pandangi itu. Venus. Cahayanya redup dan itu karena kekuatan cahaya Dewi
Venus X semakin lemah. Sekarang, Venus membutuhkan energi cahaya baru yaitu
dirimu yang akan menggantikan Dewi Venus X,” Mamaku menjelaskan dengan nada
yang tenang.
Kulihat bintang timur itu. Memang benar cahayanya
semakin meredup. Tapi yang kuatahu planet itu hanya memantulkan cahaya
matahari. Tak pernah kudengar adanya sebuah negeri, kerajaan atau apapun itu
yang mendiami sebuah planet. Ditambah lagi jarak Venus yang dekat dengan
matahari, tak akan ada makhluk yang bertahan hidup disana.
Jadi kalau seperti itu. Apakah aku alien si makhluk
luar angkasa? Tapi kenapa wujudku seperti makhluk bumi?
Inilah kenyataannya, sebuah misteri kehidupan yang
sulit dipercaya jika mengandalkan logika dan ilmu pengetahuan saja. Setelah
perdebatan yang cukup panjang antara aku dan kedua orang tuaku, aku baru bisa
memahami dan menerima takdir ini.
Kini aku terdiam menatap sang kejora yang meredup dan
sebuah kalung pemberian Dewi Venus X berbandul bulat warna putih. Namun, jika
kalung ini dipakai bandul putih itu akan berwarna jingga, inilah yang dimaksud
kekuatan cahaya yang dimiliki keturunan Dewi Venus.
***
Hari ini sebelum mentari terbangun aku harus segera
bergegas meninggalkan bumi. Sedangkan orang tua yang mengasuhku dan Bintang
akan tetap tinggal di bumi. Mereka memutuskan untuk menetap di bumi dan
membangun keluarga di sini. Dan setelah aku pergi semua orang tak akan pernah
mengingatku dalam memori mereka, tapi aku akan selalu mengingatnya. Orang-orang
yang menyayangiku, Mama, Papa, Bintang, Neysa, Lintang dan teman-temanku yang
lain tak akan mengingatku. Semua itu terjadi untuk tetap menjaga kedamaian bumi
dan Venus.
Aku hanya bisa berpamitan pada Mama dan Papa. Dengan
untaian air mata kami pun berpisah. Hati ini semakin menjerit dan terluka tak
bisa berpamitan dengan Lintang dan Neysa, walaupun sekedar melihatnya. Tak
kusangka pertemuan kemarin menjadi yang terakhir bagiku. Hanya kotak musik
dengan lagu bintang kejora sebuah kado dari Neysa menjadi kenangan untukku, dan
sebuah cincin bermata jingga menghiasi jemariku pemberian Lintang.
Aku memasuki sebuah pesawat luar angkasa dengan
desain unik dan elegan, semuanya terlihat cantik. Para penjaga tampak sibuk
menyambut kedatanganku. Pesawat pun terbang meninggalkan bumi.
***
Tiba di Venouscity
aku dituntun seorang penjaga memasuki sebuah ruangan yang didominasi warna
jingga. Semua ornamen antik dihiasi bunga-bunga berwarna jingga, menjadi daya
tarik tersendiri. Tampak sesosok tubuh
berbaring dikasur berkelambu jingga. Sangat rapuh dan tak berdaya. Mukanya
pucat kelabu. Aku mendekatinya. Wajahnya sangat cantik dan mirip denganku. Ia
tersenyum melihatku, tapi terlihat butiran air mata dipelupuk matanya.
“Maapkan Ibu…., Ibu tak bisa menjagamu,” butiran air
mata itu terjatuh.
“Ibu….,” aku menyapanya dan tak kuasa hatiku merajuk
memeluknya. Tak pernah aku merasakan ikatan batin yang begitu kuat sebelumnya.
Inikah yang dinamakan ikatan antara ibu dan anak? Mungkin. Aku merasakan
pelukan kasih sayang rindu dalam dekapannya. Kami pun tak kuasa menahan tangis.
Setelah puas melepas rindu, pelukan pun terurai.
“Kalungmu?” ibu melihat leherku dan terlihat heran karena tak ada kalung di
sana.
Aku mengeluarkan kalung itu dari tasku, “Aku ingin Ibu
yang memakaikannya untukku!”
Kini kalung itu melingkar dileherku. Bandulnya
berubah menjadi jingga, kurasakan sesuatu yang begitu kuat terdorong dari
jiwaku. Kulihat ruangan yang kutempati semakin bersinar memancarkan warna
jingga. Kupandangi pemandangan dibalik jendela. Semuanya bersinar jingga.
“Syukurlah, semuanya telah kembali seperti dulu.
Energi cahaya telah kembali dan sekarang kau telah menjadi Dewi Venus XI. Ibu
harap kau selalu menjaga cahayamu untuk kedamaian Venus di angkasa,” kuatatap
ibuku dan wajahnya tampak berseri dan bercahaya, tak seperti semula. Begitu
besar kekuatan energi cahaya dariku dan kalung ini. “Istirahatlah, besok akan
segera dilaksanakan upacara peneyerahan tahta, sekaligus ada hal penting yang
ingin ibu tunjukan padamu,” Ibu menambahkan.
“Baiklah,” aku pun keluar dari ruangan itu dan
seorang penjaga menuntunku ke sebuah ruangan yang tak kalah luasnya dari kamar
ibuku. Tempat tidur yang besar masih dengan kelambu jingga. Meja rias
berhiaskan mawar putih kesuakaanku, dan semua interior berwarna jingga.
Kuhempaskan tubuhku, teringat bayangan Lintang. Aku rindu padanya. Tak ingatkah
ia padaku? Begitu banyak yang ingin kuceritakan padanya, tapi itu semua hanya
sekedar angan-angan.
***
Hari ini dengan memakai gaun mewah berwarna jingga
aku berdiri di depan sebuah singgasana. Semua orang yang hadir mengenakan
pakaian berwarna jingga. Dengan ditanggalkannya mahkota berwarna jingga
dikepalaku, aku resmi menjadi Dewi Venus XI. Semoga aku dapat melaksanakan
tugasku dengan baik.
Selesai upacara ibu membawaku ke sebuah taman. Semua
bunga berwarna jingga bermekaran. Seseorang duduk di bangku taman. Kami
menghampirinya. Aku terkejut melihat sosok yang sekarang di hadapanku ini.
Orang yang begitu aku rindukan tiba-tiba muncul di depanku. Hatiku menangis
terharu melihatnya. Tanpa sadar kini tinggal kami berdua di taman, ibu meninggalkanku
dan membiarkan aku melepas rindu dengannya.
“Lintang…,” ucapku terbata. Masih dengan rasa tak
percaya.
“Hmmm…,” hanya dengan senyum dan anggukan kepala
dirinya mengiyakan ucapanku.
“Kenapa di sini? Darimana kau tahu aku di sini?”
“Karena aku ada untukmu,” ia merebahkan tangannya
dan memelukku.
Sekarang aku tahu bahwa sejak dulu Lintang
ditakdirkan menjadi pendampingku. Lintang sama sepertiku yang tak lain adalah
penduduk Venouscity dan ia pun dikirim ke bumi untuk menjagaku. Dengan Lintang
disisiku aku dapat menjalankan tugasku dengan tenang menyinari seluruh Negeri
Venouscity.
“Walaupun kau dewi tapi bagiku kau tetap Venusku
yang dulu,” bisiknya ditelingaku.
Dengan kebahagiaan kusinari Negeri Venouscity agar
Venusku tetap menjadi kejora dikala matahari terlelep dan hendak terbangun.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar