Hari
ini Kara kuliah pagi dan itu hanya dua
SKS lagi. Tanggung banget sih, udah mah gak ada kuliah siang lagi. Sukses hari
ini, sepertinya dihabiskan dengan acara tidur bagi Kara.
Usai
kuliah, para mahasiswa Komunikasi segera berhamburan meninggalkan ruang kelas.
“Ikut
seminar yuk!” ajak Aurel.
Terlihat
raut penuh pertimbangan , “Ah capek ah, gua mau tidur. Lu aja gih!” kilah Kara.
“Ih
Ra, lumayan lho seminarnya gratis, dapat sertifikat udah gitu dapat makan
lagi,” Aurel terus menggoda Kara.
“Masa????
Yang bener Lu????? Kok gua gak tahu sih??” Kara sangat antusias mendengar kata
gratis. Ya bagi Kara yang notabene anak kos, sekali makan gratis kan lumayan
menghemat biaya hidup.
“Beneran,
gua serius. Ini kan acara pembukaan UKM baru. Ya, hitung-hitung promo gitu, dan
kalo lu tertarik ikutan UKM-nya, lu bisa ikutan,” tambah Aurel semakin meyakinkan
Kara.
“Ya
udah yuk berangkat!” tanpa pikir panjang lagi Kara langsung menarik tangan
Aurel menuju Aula.
*****
“Assalamualaikum….,” terdengar MC mengucapkan
salam untuk memulai acara.
Seorang
laki-laki mulai mengambil foto untuk dokumentasi acara. Dengan teliti di mulai
mengarahkan kamera kesetiap penjuru, mulai dari pojok panitia, pembawa acara,
para tamu undangan dan peserta.
Bagi
Kara tujuan utamanya adalah makan gratis. Jadi sekarang ia hanya mengotak-atik
hape yang dipegangnya. Walaupun sesekali ia konsentrasi pada suara narasumber
yang mengisi acara. Namun, tetap saja ia tak kuat bertahan lama untuk
berkonsentrasi penuh.
“Foto
donk!” terdengar suara laki-laki yang sedang mengarahkan kamera kearah Kara dan
Aurel.
Namanya
cewek yang terkenal dengan makhluk narsis. Saat ada kamera siap menbidik, ya….
sudahlah, jadi acara foto-foto deh. Satu, dua foto berhasil diambil sang seksi
dokumentasi.
Usai
mengambil foto Kara dan Aurel, laki-laki itu berlalu dan segera mengambil foto
lagi dengan objek lain. Kara melanjutkan aktifitasnya, selain mendengarkan
narasumber yang berbicara menjelaskan ini dan itu, dan jujur sama sekali tak
ada satupun yang berhasil masuk dalam memori Kara. Kara mulai membuka-buka
majalah Story yang baru saja ia beli di tukang koran, sebelum kuliah tadi.
Tak
berapa lama terdengar lagi suara yang sama, “Foto lagi yah!!” ujar seorang
laki-laki yang memegang kamera dan siap mengambil gambar. Kara dan Aurel mulai
bergaya. Dua foto berhasil diambil dan laki-laki itu pergi lagi, ia berkeliling
untuk mengambil foto baik para peserta, panitia, atau pun para tamu undangan.
Sepeninggalan
laki-laki itu kini Kara mulai mengajak ngobrol Aurel. Dan terjadilah acara
dalam sebuah acara. Dengan nada yang dipelankan Kara dan Aurel terhanyut dalam
topic yang mereka bahas.
Belum
juga lima menit. Suara yang tak asing itu terdengar lagi. Masih dengan ucapan
dan nada yang sama, “Foto lagi yah!!” belum juga Kara dan Aurel tersadar dari
obrolan mereka. Sebuah foto sudah berhasil diambil. Jadilah, gambar dengan muka
dua orang gadis kebingungan. Tampak senyum tersungging diantara kedua bibir
laki-laki itu, ketika ia melihat gambar yang pada layar kamera digitalnya.
“Hmmmm lucu juga,” ia pun berjalan pergi meninggalkan Kara dan Aurel yang masih
terbengong.
“Siapa
sih dia Rel” tanya Kara yang mulai merasa terganggu dengan tingkah laki-laki
itu,
“Tau
tuh, yang pasti dia panitia acara ini,” jawab Aurel sekenanya.
“Iyalah
gua juga tahu kalo itu mah,” tegas Kara.
Tanpa
Kara sadari muka Aurel mulai gusar, “Aduh, perut gua sakit. Gua ke toilet dulu
ya bentar.”
“Perlu
dianter gak?” tanya Kara.
“Ah
gak usah, gua bisa sendiri kok , gua titip tas aja nih,” Aurel segera pergi
dengan tangan yang masih memegang perut.
“Huh
aneh banget, biasanya juga minta dianter.”
Tak
lama setelah Aurel pergi, laki-laki itu kembali menghampiri Kara. Kali ini
dengan ucapan berbeda, walaupun masih dengan kamera di tangannya.
“Hai…,”
sapa laki-laki itu. “Boleh duduk? Mana teman kamu?” belum juga dipersilahkan
dia sudah duduk di kursi Aurel.
“Hmmm…,
ya” dengan bingung Kara hanya mnegucapkan Ya.
Laki-laki
itu menyodorkan tangan untuk bersalaman, “Dika. Namamu?”
“Kara.” Tanpa pilihan Kara menyambut tangan
itu dan bersalaman.
“Anak
komunikasi yah?”
“
Hmmm iya…,” jawab Kara singkat.
“Dari
Majalengka ya??? Sama dong aku juga dari Majalengka,” tanpa ditanya ia
menyebutkan daerah asalnya.
Ingin
Kara menjawab ‘itu tahu. ngapain nanya’, tapi yang keluar dari mulut Kara hanya
kata “Ya.”
“Foto
lagi yah!”
Dalam
pikiran Kara yang terlintas hanya ‘Nih anak stress apa gila sih? Bentar bentar
minta foto. Emang gua seleb apa.’ Ya walau gak bisa dipungkiri GR pasti ada.
“Kan
tadi udah,” jawab Kara singkat.
“Tadi
kan sama teman kamu. Sekarang yang sendiri donk.”
Nih
anak beneran gak waras ya pikir Kara. “Ya…, kan sama….”
Belum
juga perkataan Kara selesai. Dika sudah berhasil mengambil beberapa foto Kara.
Kara mulai menutupi mukanya dengan majalah, ia mulai merasa terganggu.
“Yah
kok ditutup sih mukanya.”
Ingin
Kara berteriak dan bilang, YA KARENA GUE
MERASA TERGANGGU. Tapi gak mungkin kan, gila aja di forum yang bayak orang
begini bisa-bisa gua yang dianggap gak waras. Mana sekarang panitia udah
ngeliat kesini semua lagi dan terlihat beberapa orang muali menoleh ke arah
Kara dan Dika. ‘Sabar sabar,’ hanya dengan mengelus dada Kara menenangkan diri.
Sedikit
Kara membuka majalah yang menutupi wajahnya. Dan terlihat kamera siap mengambil
gambar di depan mukanya dalam jarak kurang dari dua puluh senti. Dan sebuah
gambar pun berhasil diambil.
“Nah,
ini lucu nih,” dengan melihat hasil jepretannya Dika tampak merasa puas.
*****
Saatnya
istirahat dan ini waktunya makan siang. Kara dan Aurel segera mengambil makan
dan mencari tempat makan yang nyaman.
“Lu ke toilet kok lama amat sih,” tahu gak gua
tadi disamperin sama laki-laki itu lagi.
“Dika?”
tanya Aurel yang membuat Kara tersentak kaget.
“Lho
kok Lu tahu sih?”
“Iya
tadi gua ketemu dia pas jalan ke toilet. Dan ternyata dia temen SMP gua.
Pantesan gua ngerasa hapal gitu eh tak tahunya temen SMP. Ya udah gua suruh dia
temenin Lu,” jelas Aurel panjang lebar.
“Ih
lu kok tega benget sih sama gua. Masa lu nyuruh dia nemenin gua, yang
jelas-jelas membuat gua gak nyaman.”
“Lho
kok gak nyaman emang kanapa?” tanya Aurel penasaran.
“Dia
orangnya aneh masa minta foto gue mulu. Kan gua jadi bosen tahu,” dengan muka
kesal Kara mencurahkan kekesalannya pada Aurel.
“Ih
Lu gak tahu sih. Dia tuh orangnya baik tahu, anak HI lagi. Lagian udah saatnya
Lu buka hati jangan mikirin masa lalu terus.”
Acara
makan siang itu diiringi dengan perbincangan ringan antara Kara dan Aurel.
Setelah
dipikir-pikir emang bener juga sih. Udah saatnya gua lupakan masa lalu dan
mulai membuka lembaran baru. Lagi pula Dika lumayan juga dia putih, ganteng,
tinggi ya lumayan lah standar laki-laki Indonesia, pikir Kara.
Usai
acara seminar. Sertifikat punya Kara dan Aurel dipegang Dika. Ketika Kara dan
Aurel hendak meninggalkan aula.
“Hei
tunggu Ra!” terlihat dibelakang setengah berlari kecil Dika memanggil Kara. “Ni
sertifikat kalian,” Dika memberikan sertifikat pada Kara dan Aurel.
“Oh..,
Ok makasih ya!” ujar Aurel sedangkan Kara hanya diam. Dan mereka pun
berpamitan.
“Lu
jahat Ra. Makasih kek,” tukas Aurel begitu Dika sudah pergi.
“Hmmmm….,
kan tadi udah sama Lu.”
“Ya
gak gitu juga kali, Ra. Kayaknya di naksir Lu tuh, gimana nih?”
“Ya
gak gimana gimana.”
“Huh,
gak asik lu.”
*****
Esoknya
ketika Kara mulai memasuki gedung FISIP terlihat anak-anak HI yang sedang
berbincang di taman. Dan terdengar sayup sayup “Tuh anaknya yang itu,” mereka
melihat ke arah Kara. Namanya juga Kara walaupun disekitarnya sedang ngomongin
dia tetep aja cuek. Kara berjalan menuju kelas, dan sialnya dia harus melewati
dulu kelas HI, pasti deh kena.
Benar
saja ketika Kara melewati kelas HI terdengar suara sapaan memanggil, “Kara….”
Yang namanya dipanggil nama pasti menoleh kan. Ya, sama seperti Kara. Saat ini
ia menoleh ke sekelompok laki-laki yang sedang duduk di teras pinggiran kelas,
dan terlihat Dika ada diantara mereka, tapi Kara yakin bukan Dika yang
memanggilnya. Kara melihat Dika yang tampak mengalihkan pandangannya.
Kejadian
itu berakhir selama sebulan. Kara mulai membuka hatinya kembali. Namun
kenyataan pahit menyapa.
“Rel,
kayaknya gua udah bisa membuka hati deh,” curhat Kara pada Aurel.
“Bagus
tuh, sama siapa?”
“Dika,”
jawab Kara pendek.
“Huh????”
“Kok
Huh sih? Kan kata lu gua harus buka hati, lagian dulu lu juga setuju Dika deket
sama gua, malahan lu yang nyuruh dia nemenin gua pas seminar itu”, Kara
menjelaskan alasannya.
“Iya
sih. Tapi mendingan jangan sama Dika deh. Yang lain aja,” ujar Aurel tak
beralaskan.
“Emang
kenapa?”
“Ya
gak papa.”
“Ya
tapi kan harus ada alasannya, biar gua ngerti. Udahlah Rel ada apa sih? Lu suka
sama dia?” desak Kara.
“Huh,
yang bener mana mungkin gua suka sama Dika,” bantah Aurel.
“Ya
terus alasannya?” tanya Kara semakin penasaran.
“Sebenarnya….,
Dika udah punya pacar. Gua juga baru tahu minggu lalu. Gua ketemu dia bareng
pacarnya di kampus, emang beda fakultas tapi dia anak kampus ini juga. Anak
Biologi.”
Kara
kaget dan terhenyak. Seperti mendapat badai di siang bolong. Seminggu setelah
mendengar cerita dari Aurel. Dika bertemu dengan Kara.
Dika
bilang kalau memang dia sudah punya pacar, dan disisi lain dia juga sayang sama
Kara, namun ia ragu dengan perasaannya. Sejak saat itu hati Kara tertutup
kembali. Kara gak mau kalau dia harus menyakiti perasaan orang lain dengan
memaksakan perasaanya yang juga belum sepenuhnya cinta dan masih dalam keraguan.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar