Sabtu, 26 Oktober 2013

Just Photo



Hari ini Kara kuliah pagi dan itu hanya  dua SKS lagi. Tanggung banget sih, udah mah gak ada kuliah siang lagi. Sukses hari ini, sepertinya dihabiskan dengan acara tidur  bagi Kara.
Usai kuliah, para mahasiswa Komunikasi segera berhamburan meninggalkan ruang kelas.
“Ikut seminar yuk!” ajak Aurel.
Terlihat raut penuh pertimbangan , “Ah capek ah, gua mau tidur. Lu aja gih!” kilah Kara.
“Ih Ra, lumayan lho seminarnya gratis, dapat sertifikat udah gitu dapat makan lagi,”  Aurel terus menggoda  Kara.
“Masa???? Yang bener Lu????? Kok gua gak tahu sih??” Kara sangat antusias mendengar kata gratis. Ya bagi Kara yang notabene anak kos, sekali makan gratis kan lumayan menghemat biaya hidup.
“Beneran, gua serius. Ini kan acara pembukaan UKM baru. Ya, hitung-hitung promo gitu, dan kalo lu tertarik ikutan UKM-nya, lu bisa ikutan,” tambah Aurel semakin meyakinkan Kara.   
“Ya udah yuk berangkat!” tanpa pikir panjang lagi Kara langsung menarik tangan Aurel menuju Aula.
*****
 “Assalamualaikum….,” terdengar MC mengucapkan salam untuk memulai  acara.
Seorang laki-laki mulai mengambil foto untuk dokumentasi acara. Dengan teliti di mulai mengarahkan kamera kesetiap penjuru, mulai dari pojok panitia, pembawa acara, para tamu undangan dan peserta.
Bagi Kara tujuan utamanya adalah makan gratis. Jadi sekarang ia hanya mengotak-atik hape yang dipegangnya. Walaupun sesekali ia konsentrasi pada suara narasumber yang mengisi acara. Namun, tetap saja ia tak kuat bertahan lama untuk berkonsentrasi penuh.
“Foto donk!” terdengar suara laki-laki yang sedang mengarahkan kamera kearah Kara dan Aurel.
Namanya cewek yang terkenal dengan makhluk narsis. Saat ada kamera siap menbidik, ya…. sudahlah, jadi acara foto-foto deh. Satu, dua foto berhasil diambil sang seksi dokumentasi.
Usai mengambil foto Kara dan Aurel, laki-laki itu berlalu dan segera mengambil foto lagi dengan objek lain. Kara melanjutkan aktifitasnya, selain mendengarkan narasumber yang berbicara menjelaskan ini dan itu, dan jujur sama sekali tak ada satupun yang berhasil masuk dalam memori Kara. Kara mulai membuka-buka majalah Story yang baru saja ia beli di tukang koran, sebelum kuliah tadi.
Tak berapa lama terdengar lagi suara yang sama, “Foto lagi yah!!” ujar seorang laki-laki yang memegang kamera dan siap mengambil gambar. Kara dan Aurel mulai bergaya. Dua foto berhasil diambil dan laki-laki itu pergi lagi, ia berkeliling untuk mengambil foto baik para peserta, panitia, atau pun  para tamu undangan.
Sepeninggalan laki-laki itu kini Kara mulai mengajak ngobrol Aurel. Dan terjadilah acara dalam sebuah acara. Dengan nada yang dipelankan Kara dan Aurel terhanyut dalam topic yang mereka bahas.
Belum juga lima menit. Suara yang tak asing itu terdengar lagi. Masih dengan ucapan dan nada yang sama, “Foto lagi yah!!” belum juga Kara dan Aurel tersadar dari obrolan mereka. Sebuah foto sudah berhasil diambil. Jadilah, gambar dengan muka dua orang gadis kebingungan. Tampak senyum tersungging diantara kedua bibir laki-laki itu, ketika ia melihat gambar yang pada layar kamera digitalnya. “Hmmmm lucu juga,” ia pun berjalan pergi meninggalkan Kara dan Aurel yang masih terbengong.
“Siapa sih dia Rel” tanya Kara yang mulai merasa terganggu dengan tingkah laki-laki itu,
“Tau tuh, yang pasti dia panitia acara ini,” jawab Aurel sekenanya.
“Iyalah gua juga tahu kalo itu mah,” tegas Kara.
Tanpa Kara sadari muka Aurel mulai gusar, “Aduh, perut gua sakit. Gua ke toilet dulu ya bentar.”
“Perlu dianter gak?” tanya Kara.
“Ah gak usah, gua bisa sendiri kok , gua titip tas aja nih,” Aurel segera pergi dengan tangan yang masih memegang perut.
“Huh aneh banget, biasanya juga minta dianter.”
Tak lama setelah Aurel pergi, laki-laki itu kembali menghampiri Kara. Kali ini dengan ucapan berbeda, walaupun masih dengan kamera di tangannya.
“Hai…,” sapa laki-laki itu. “Boleh duduk? Mana teman kamu?” belum juga dipersilahkan dia sudah duduk di kursi Aurel.
“Hmmm…, ya” dengan bingung Kara hanya mnegucapkan Ya.
Laki-laki itu menyodorkan tangan untuk bersalaman, “Dika. Namamu?”
 “Kara.” Tanpa pilihan Kara menyambut tangan itu dan bersalaman.
“Anak komunikasi yah?”
“ Hmmm iya…,” jawab Kara singkat.
“Dari Majalengka ya??? Sama dong aku juga dari Majalengka,” tanpa ditanya ia menyebutkan daerah asalnya.
Ingin Kara menjawab ‘itu tahu. ngapain nanya’, tapi yang keluar dari mulut Kara hanya kata “Ya.”
“Foto lagi yah!”
Dalam pikiran Kara yang terlintas hanya ‘Nih anak stress apa gila sih? Bentar bentar minta foto. Emang gua seleb apa.’ Ya walau gak bisa dipungkiri GR pasti ada.
“Kan tadi udah,” jawab Kara singkat.
“Tadi kan sama teman kamu. Sekarang yang sendiri donk.”
Nih anak beneran gak waras ya pikir Kara. “Ya…, kan sama….”
Belum juga perkataan Kara selesai. Dika sudah berhasil mengambil beberapa foto Kara. Kara mulai menutupi mukanya dengan majalah, ia mulai merasa terganggu.
“Yah kok ditutup sih mukanya.”
Ingin Kara berteriak dan bilang, YA KARENA  GUE MERASA TERGANGGU. Tapi gak mungkin kan, gila aja di forum yang bayak orang begini bisa-bisa gua yang dianggap gak waras. Mana sekarang panitia udah ngeliat kesini semua lagi dan terlihat beberapa orang muali menoleh ke arah Kara dan Dika. ‘Sabar sabar,’ hanya dengan mengelus dada Kara menenangkan diri.
Sedikit Kara membuka majalah yang menutupi wajahnya. Dan terlihat kamera siap mengambil gambar di depan mukanya dalam jarak kurang dari dua puluh senti. Dan sebuah gambar pun berhasil diambil.
“Nah, ini lucu nih,” dengan melihat hasil jepretannya Dika tampak merasa puas.
*****
Saatnya istirahat dan ini waktunya makan siang. Kara dan Aurel segera mengambil makan dan mencari tempat makan yang nyaman.
 “Lu ke toilet kok lama amat sih,” tahu gak gua tadi disamperin sama laki-laki itu lagi.
“Dika?” tanya Aurel yang membuat Kara tersentak kaget.
“Lho kok Lu tahu sih?”
“Iya tadi gua ketemu dia pas jalan ke toilet. Dan ternyata dia temen SMP gua. Pantesan gua ngerasa hapal gitu eh tak tahunya temen SMP. Ya udah gua suruh dia temenin Lu,” jelas Aurel panjang lebar.
“Ih lu kok tega benget sih sama gua. Masa lu nyuruh dia nemenin gua, yang jelas-jelas membuat gua gak nyaman.”
“Lho kok gak nyaman emang kanapa?” tanya Aurel penasaran.
“Dia orangnya aneh masa minta foto gue mulu. Kan gua jadi bosen tahu,” dengan muka kesal Kara mencurahkan kekesalannya pada Aurel.
“Ih Lu gak tahu sih. Dia tuh orangnya baik tahu, anak HI lagi. Lagian udah saatnya Lu buka hati jangan mikirin masa lalu terus.”
Acara makan siang itu diiringi dengan perbincangan ringan antara Kara dan Aurel.
Setelah dipikir-pikir emang bener juga sih. Udah saatnya gua lupakan masa lalu dan mulai membuka lembaran baru. Lagi pula Dika lumayan juga dia putih, ganteng, tinggi ya lumayan lah standar laki-laki Indonesia, pikir Kara.
Usai acara seminar. Sertifikat punya Kara dan Aurel dipegang Dika. Ketika Kara dan Aurel hendak meninggalkan aula.
“Hei tunggu Ra!” terlihat dibelakang setengah berlari kecil Dika memanggil Kara. “Ni sertifikat kalian,” Dika memberikan sertifikat pada Kara dan Aurel.
“Oh.., Ok makasih ya!” ujar Aurel sedangkan Kara hanya diam. Dan mereka pun berpamitan.
“Lu jahat Ra. Makasih kek,” tukas Aurel begitu Dika sudah pergi.
“Hmmmm…., kan tadi udah sama Lu.”
“Ya gak gitu juga kali, Ra. Kayaknya di naksir Lu tuh, gimana nih?”
“Ya gak gimana gimana.”
“Huh, gak asik lu.”
*****
Esoknya ketika Kara mulai memasuki gedung FISIP terlihat anak-anak HI yang sedang berbincang di taman. Dan terdengar sayup sayup “Tuh anaknya yang itu,” mereka melihat ke arah Kara. Namanya juga Kara walaupun disekitarnya sedang ngomongin dia tetep aja cuek. Kara berjalan menuju kelas, dan sialnya dia harus melewati dulu kelas HI, pasti deh kena.
Benar saja ketika Kara melewati kelas HI terdengar suara sapaan memanggil, “Kara….” Yang namanya dipanggil nama pasti menoleh kan. Ya, sama seperti Kara. Saat ini ia menoleh ke sekelompok laki-laki yang sedang duduk di teras pinggiran kelas, dan terlihat Dika ada diantara mereka, tapi Kara yakin bukan Dika yang memanggilnya. Kara melihat Dika yang tampak mengalihkan pandangannya.
Kejadian itu berakhir selama sebulan. Kara mulai membuka hatinya kembali. Namun kenyataan pahit menyapa.
“Rel, kayaknya gua udah bisa membuka hati deh,” curhat Kara  pada Aurel.
“Bagus tuh, sama siapa?”
“Dika,” jawab Kara pendek.
“Huh????”
“Kok Huh sih? Kan kata lu gua harus buka hati, lagian dulu lu juga setuju Dika deket sama gua, malahan lu yang nyuruh dia nemenin gua pas seminar itu”, Kara menjelaskan alasannya.
“Iya sih. Tapi mendingan jangan sama Dika deh. Yang lain aja,” ujar Aurel tak beralaskan.
“Emang kenapa?”
“Ya gak papa.”
“Ya tapi kan harus ada alasannya, biar gua ngerti. Udahlah Rel ada apa sih? Lu suka sama dia?” desak Kara.
“Huh, yang bener mana mungkin gua suka sama Dika,” bantah Aurel.
“Ya terus alasannya?” tanya Kara semakin penasaran.
“Sebenarnya…., Dika udah punya pacar. Gua juga baru tahu minggu lalu. Gua ketemu dia bareng pacarnya di kampus, emang beda fakultas tapi dia anak kampus ini juga. Anak Biologi.”
Kara kaget dan terhenyak. Seperti mendapat badai di siang bolong. Seminggu setelah mendengar cerita dari Aurel. Dika bertemu dengan Kara.
Dika bilang kalau memang dia sudah punya pacar, dan disisi lain dia juga sayang sama Kara, namun ia ragu dengan perasaannya. Sejak saat itu hati Kara tertutup kembali. Kara gak mau kalau dia harus menyakiti perasaan orang lain dengan memaksakan perasaanya yang juga belum sepenuhnya cinta dan masih dalam keraguan.
TAMAT

    





Tidak ada komentar:

Posting Komentar