Udara panas terasa menyengat kulit ketika kuinjakan
kakiku di kampung tercinta. Baru enam bulan saja kutinggalkan sudah membuatku
begitu asing. Sepanjang perjalanan dari jalan raya hingga tugu batas desa,
sawah-sawah kini disulap menjadi perumahan, tak ada padi yang menguning padahal
bulan ini musim panen, tak ada pohon pisang, palawija, bahkan rumput liar pun
enggan untuk berdiri. Sejauh mata memandang yang kulihat hanyalah rumah-rumah
kokoh berdiri tegap dengan desain modern dan sepetak taman kompleks dengan
dominasi pohon palem dan bougenvile
aneka warna.
Kuhempaskan tubuhku di kasur. Lelah dan penat. Enam
jam perjalanan cukup sudah menguras energiku. Kedua mataku pun mengatup dan
tertidur.
***
Gemericik air dan kicauan burung menuntunku untuk
berjalan mendekati sebuah danau kecil. Tampak beberapa pancuran mata air yang
mengisi danau itu, bebatuan halus berbagai ukuran menjadi dasar dan batas danau
dengan tanah. Kulihat sebuah pohon besar yang berdiri tak jauh dari danau, tampaknya
pohon itulah yang menjadi sumber mata air. Selain itu, beberapa pohon kelapa
dan kumpulan pohon bambu menambah sejuknya suasana alam.
Semilir angin memainkan rambutku yang terurai
sebahu. Kubasuh mukaku hmmmm…. dinginnya membuat wajahku sejuk berseri, tak
lupa kubasuh juga kakiku dan kurendam. Kupejamkan mata dan kunikmati nyanyian
burung dengan alunan melodi air, sangat damai dan tenang. Namun, sesosok suara
mengusikku “Bisakah kau lebih mendekat?” segera aku membuka mata, tampak
seorang kakek tua duduk di sampingku.
“Apa maksud kakek?” aku tak mengerti apa yang
dikatakan kakek ini.
“Jagalah mereka, mendekatlah dengan alam, bantulah
mereka untuk tetap hidup di habitatnya. Jangan biarkan mereka mengambil
semuanya,” kakek itu bicara dengan nada lirih penuh keprihatinan. Ia mengamati
sekeliling dan matanya berhenti pada seekor burung yang sedang meneguk air
danau di hadapan kami. Burung itu tampak berseri melihatku, ia pun mengepakan sayapnya lalu terbang.
Segera kualihkan pandanganku ke samping tempat kakek
itu duduk, namun tak kulihat seorang pun di sana. Ia menghilang.
***
Mataku terjaga dan aku tersadar bahwa aku bermimpi.
Tapi, mimpi itu seakan nyata dan wajah kakek itu tak asing bagiku. Siapa
sebenarnya dia? Dan apa yang hendak ia sampaikan padaku? Sungguh, tak sedikit
pun terbersit makna yang kutangkap dari perkataannya.
“Mel…, bangun Mel. Cepat mandi lalu makan!” suara
ibuku membangunkan seluruh kesadaranku.
“Iya Ma…,” segera aku turun dari tempat tidur dan
membersihkan diri.
Senja sudah
menyapa disaat aku selesai mandi. Kubuka jendela kamar dan semburat jingga pun
masuk, dari sini aku bisa melihat pemandangan indah pegunungan. Kuamati lukisan
alam dari balik jendela kamarku. Tampaknya ada yang berbeda, dulu semuanya
terlihat hijau oleh pepohonan namun sekarang terlihat warna coklat yang meluas
diantara pemandangan hijau, seperti tanah yang gersang. Belum sempat berpikir
lebih jauh, perutku berbunyi minta diisi. Segera aku ke dapur, di meja makan
sudah tersedia ikan bakar dengan sambal kecap, tumis jamur, dan capcay. ‘Hmmm
kelihatannya enak sekali’ perutku semakin memberotak. Aku pun makan dengan
lahap.
“Enak tidak?” Mama mengagetkanku dari belakang.
“Enak banget Ma, udah lama gak makan masakan Mama….,
makasih Ma!” Mama tersenyum melihat piringku yang bersih, tak sedikit pun
makanan tersisa.
“Oh iya Ma, tadi ketika kubuka jendela pemandangan
yang kulihat tak seperti biasanya. Tak hijau seperti dulu,” aku mengadu pada
Mama bak anak kecil.
“Oh itu sih sejak sebulan kamu berangkat juga sudah
seperti itu. Memang ulah para penambang pasir yang berkuasa susah untuk
dihentikan…,” perkataan ibuku terhenti. Ia mengambil piring bekas makanku dan
menyucinya di washtafle, Mama
melanjutkan perkataannya, “…mereka tak memikirkan dampak dari perbuatannya,
orang kecil seperti kita terpaksa menjual tanah mereka karena takut tanah
mereka akan longsor akibat dari penggalian pasir itu. Hanya Nenek dan Kakek Lasmi
yang sampai sekarang bisa mempertahankan tanah mereka. Masih ingat gak seorang
nenek dan kakek yang sering kamu kunjungi di bawah bukit saat kamu pergi ke
kebun dulu?”
Aku mencoba mengingat masa laluku, “Nenek dan kakek
yang sering aku mintai minum itu bukan Ma?” Mama mengangguk tanda mengiyakan
perkataanku.
Aku ingat saat kecil dulu aku sering ikut Mama dan
Papa ke kebun, walaupun kebunku cukup jauh dari tempat tinggal Nenek dan Kakek
Lasmi tapi aku sering diantar Mama untuk minta air minum atau hanya sekedar
ikut mencuci kaki di sebuah danau kecil yang tak jauh dari rumah Nenek dan
Kakek Lasmi. Bahkan ketika para petani hendak menyiram tanaman, mereka
menggunakan air danau itu karena jika harus pergi ke sungai jaraknya cukup
jauh.
“Terus sekarang Nenek dan Kakek Lasmi dimana Ma?”
“Sebulan yang lalu Kakek Lasmi meninggal dunia, kini
tinggal Nenek Lasmi yang tinggal di sana,” tutur Mamaku.
Seakan teringat mimpiku tadi. Sebuah danau kecil
yang bening dan seorang kakek yang berpesan padaku dengan nada lirihnya yang
masih terngiang ditelingaku.
Senja yang kini beranjak semakin larut dan sembuat
jingga pun berganti menjadi hitam yang kelam. Pemandangan hijau dengan noda
coklat yang luas pun telah berganti menjadi gelap, kuniatkan dalam hati bahwa
esok aku akan menemuinya. Menemui alam yang merintih. Kutatap langit dari balik
jendela kamar tak ada satu pun bintang yang menyapaku.
***
Pagi-pagi sekali sudah kusiapkan bekal makan siang
untukku dan Nenek Lasmi. Hari ini aku akan berkunjung menemui Nenek Lasmi. Usai
beres-beres rumah, aku segera pamitan sama Mama. Dengan mengenakan celana
panjang, kaos dan sebuah tas jinjing berisi makanan aku pun berangkat.
Suasana pagi yang sejuk sangat terasa dari udara
segar yang kuhirup. Sepanjang perjalanan tampak padi yang menguning dan siap di
panen, pohon pisang yang berumpun, dan para petani yang siap turun ke sawah.
Kuturuni beberapa anak tangga yang hanya terbuat dari tanah yang dibentuk menyerupai
anak tangga. Disebelah kiriku mengalir sungai, walau airnya tak sebening dulu
tapi masih lebih bersih sungai di sini daripada sungai di Jakarta yang penuh
dengan limbah. Setelah melalui anak tangga aku lebih memilih berjalan melewati
kebun daripada pesawahan. Naik turun bukit tak membuatku lelah malah membuatku
semangat, sepanjang perjalanan aku bertemu beberapa orang yang hendak memupuk
tanaman mereka.
Sebuah jembatan terbuat dari besi memanjang
dihadapanku. Jembatan ini menghubungkan kedua sisi dari sungai yang tadi
kulihat. Tepat dibalik sebuah bukit dihadapanku Nenek Lasmi tinggal.
Tak sampai memakan waktu sepuluh menit setelah aku
menyebrangi jembatan, kini aku sudah sampai didepan rumah Nenek Lasmi dan
pemandangan yang mencengangkan. Hamparan tanah gersang membentang dihadapanku,
tepat dibalik rumah kayu milik Nenek Lasmi. Tak ada tumbuhan satupun. Sangat
memprihatikan, dikala pemerintah sedang gencar-gencarnya mencanangkan gerakan
seribu pohon tapi tanah gersang tak berpenghuni di hadapanku menjerit
kesakitan.
“Tok tok tok…” terdengar bunyi ketukan tanganku yang
beradu dengan pintu kayu. Kuamati rumah yang sederhana itu, semuanya terbuat
dari kayu. Kursi dan meja kayu tertata di teras rumah. Sangat tradisional. Beberapa
tanaman obat tumbuh dipekarangan rumah yang berpagar bambu. Di samping rumah
sebelah kiri tampak pohon rambutan yang belum berbuah, dan disebelah kanan
ditumbuhi tanaman palawija, sepetak sawah dan pohon mangga. Tampak jalan
setapak yang beralur rapi, ‘jalan setapak itulah yang mengantarkan menuju danau
kecil itu’ batinku. Dan di belakang rumah ini disanalah tanah gersang itu
bersemayam.
Lama kutunggu belum ada jawaban. Sekali lagi aku
mengetuk pintu. Seseorang yang rapuh menyambutku dibalik pintu. Raut mukanya
tampak bingung menyambut kedatanganku.
“Maap, Neng ini siapa ya?” tanyanya.
“Hmmm…, aku Melati Nek. Anaknya Pak Hasan,” sedikit
kujelaskan dengan menyebutkan nama ayahku kuharap beliau ingat.
“Oh…, Hasan yang punya kebun di sebelah timur sana,”
ingatnya sembari menunjuk ke sebelah kiri.
“Iya Nek….”
“Kalau begitu silahkan masuk dulu, maap Neng rumah
nenek berantakan. Maklum jarang-jarang ada tamu yang berkunjung ke rumah nenek.
Ya selain ayah dan ibu kamu….,” mukanya tampak sedih. Ia pun melanjutkan, “Neng
Mel tunggu dulu sebentar Nenek buatkan minum dulu ya…”
“Tak perlu repot-repot Nek,….” cegahku, “Mel kesini
cuma ingin main dan melihat-lihat pemandangan. Lagi pula Mel bawa makanan, tadi
Mama membuatkan ini untuk Nenek,” kataku sembari memperlihatkan tas jinjingku.
“Wah jadi ngerepotin Neng Mel.”
“Oh tidak kok Nek, lagian Mel seneng jalan-jalan ke
sini sekalian olahraga.”
Kami pun terhanyut dalam perbincangan ringan. Nenek
Lasmi menceritakan semua yang terjadi di tanah tandus itu. “Semuanya berawal
ketika Sanu membuka lahannya untuk penambangan pasir…,” yang kuingat Pak Sanu
adalah salah satu orang kaya di kampung kami ia memiliki kekuasaan di desa
kami, Nek Lasmi melanjutkan perkataannya, “…hanya dalam beberapa hari lahannya yang berada tepat
dibalik rumah nenek itu habis dikeruk….,” aku masih ingat dulu dibelakang rumah
Nenek Lasmi bukan dataran rendah seperti sekarang namun sebuah tebing yang di
atasnya penuh dengan pohon mangga. Pohon mangga itulah yang menjadi sumber mata
pencaharian para penduduk di sini. “Setelah lahannya habis ia membeli tanah
milik para petani untuk dijadikan penambangan pasir. Para petani itu terpaksa
menjual tanahnya, mereka takut tanahnya terkena longsor. Sekarang dataran
tinggi yang menjulang disulap menjadi hamparan tanah kosong yang gersang. Yang
tertinggal bongkahan batu dan tanah tandus tak berpenghuni. Tak ada yang peduli
yang mereka pikirkan adalah pundi-pundi uang yang masuk ke kantong mereka. Tapi
nenek sangat bersyukur, ayah Nak Mel dan para petani lainnya yang tak tergoda
untuk menjual tanah mereka sehingga proyek nakal itu bisa terhenti,” ia pun
menghentikan perkatananya diiringi hembusan nafas panjang.
Mendengar semua cerita Nek Lasmi aku sangat miris
melihat kenyataan yang terjadi. Mereka yang melakukan hal ini adalah
orang-orang yang berpengetahuan dan mengeyam bangku pendidikan, tapi perbuatan
mereka seperti orang tak berpendidikan. Uang telah membutakan mata hati mereka,
tanpa memikirkan kehidupan rakyat kecil yang bergantung pada sepetak lahan.
Seusai perbincanganku di rumah Nek Lasmi, aku dan
Nek Lasmi melihat-lihat kebun palawija milik Nek Lasmi. Semua tanaman tertata
rapi walaupun lahan itu tak luas tapi berbagai macam tanaman dapat tumbuh
subur. Kami pun terus berjalan menelusuri jalan setapak. Tak jauh dari tanaman
palawija ada sebuah makam, aku meyakini bahwa makam itu adalah makam Kakek
Lasmi. Kami berhenti sebentar dan terlihat Nek Lasmi memandangi makam itu
dengan penuh kerinduan. Sejenak kami memanjatkan do’a di sana. Nenek lasmi pun
menuntunku ke sebuah danau kecil tak jauh dari makam itu. Danau yang bersih
dengan batuan yang halus mengelilingi danau itu. Beberapa pancuran mengisi
danau itu, sama seperti dalam mimpiku. Yang berbeda hanyalah air yang bersih
tak sebening dalam mimpiku, dan tumbuhan yang berdiri tak sehijau dalam
bayanganku. Kulihat burung kecil sedang melepas dahaganya, sejenak ia menoleh
ke arahku tampakanya ia tersenyum melihat kedatanganku. Aku tersadar inilah
pesan yang ingin disampaikan Kakek Lasmi padaku, ia ingin aku menjaga habitat
mereka. Burung-burung, tumbuhan dan semua yang hidup di alam ini perlu
dilestarikan. Dalam hati aku berjanji pada diriku untuk untuk mengembalikan
tanah yang gersang itu hijau seperti dulu agar alam pun berhenti merintih.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar