Sabtu, 02 November 2013

Alamku Merintih




Udara panas terasa menyengat kulit ketika kuinjakan kakiku di kampung tercinta. Baru enam bulan saja kutinggalkan sudah membuatku begitu asing. Sepanjang perjalanan dari jalan raya hingga tugu batas desa, sawah-sawah kini disulap menjadi perumahan, tak ada padi yang menguning padahal bulan ini musim panen, tak ada pohon pisang, palawija, bahkan rumput liar pun enggan untuk berdiri. Sejauh mata memandang yang kulihat hanyalah rumah-rumah kokoh berdiri tegap dengan desain modern dan sepetak taman kompleks dengan dominasi pohon palem dan bougenvile aneka warna.
Kuhempaskan tubuhku di kasur. Lelah dan penat. Enam jam perjalanan cukup sudah menguras energiku. Kedua mataku pun mengatup dan tertidur.
***
Gemericik air dan kicauan burung menuntunku untuk berjalan mendekati sebuah danau kecil. Tampak beberapa pancuran mata air yang mengisi danau itu, bebatuan halus berbagai ukuran menjadi dasar dan batas danau dengan tanah. Kulihat sebuah pohon besar yang berdiri tak jauh dari danau, tampaknya pohon itulah yang menjadi sumber mata air. Selain itu, beberapa pohon kelapa dan kumpulan pohon bambu menambah sejuknya suasana alam.
Semilir angin memainkan rambutku yang terurai sebahu. Kubasuh mukaku hmmmm…. dinginnya membuat wajahku sejuk berseri, tak lupa kubasuh juga kakiku dan kurendam. Kupejamkan mata dan kunikmati nyanyian burung dengan alunan melodi air, sangat damai dan tenang. Namun, sesosok suara mengusikku “Bisakah kau lebih mendekat?” segera aku membuka mata, tampak seorang kakek tua duduk di sampingku.
“Apa maksud kakek?” aku tak mengerti apa yang dikatakan kakek ini.
“Jagalah mereka, mendekatlah dengan alam, bantulah mereka untuk tetap hidup di habitatnya. Jangan biarkan mereka mengambil semuanya,” kakek itu bicara dengan nada lirih penuh keprihatinan. Ia mengamati sekeliling dan matanya berhenti pada seekor burung yang sedang meneguk air danau di hadapan kami. Burung itu tampak berseri melihatku, ia  pun mengepakan sayapnya lalu terbang.
Segera kualihkan pandanganku ke samping tempat kakek itu duduk, namun tak kulihat seorang pun di sana. Ia menghilang.
***
Mataku terjaga dan aku tersadar bahwa aku bermimpi. Tapi, mimpi itu seakan nyata dan wajah kakek itu tak asing bagiku. Siapa sebenarnya dia? Dan apa yang hendak ia sampaikan padaku? Sungguh, tak sedikit pun terbersit makna yang kutangkap dari perkataannya.
“Mel…, bangun Mel. Cepat mandi lalu makan!” suara ibuku membangunkan seluruh kesadaranku.
“Iya Ma…,” segera aku turun dari tempat tidur dan membersihkan diri.
 Senja sudah menyapa disaat aku selesai mandi. Kubuka jendela kamar dan semburat jingga pun masuk, dari sini aku bisa melihat pemandangan indah pegunungan. Kuamati lukisan alam dari balik jendela kamarku. Tampaknya ada yang berbeda, dulu semuanya terlihat hijau oleh pepohonan namun sekarang terlihat warna coklat yang meluas diantara pemandangan hijau, seperti tanah yang gersang. Belum sempat berpikir lebih jauh, perutku berbunyi minta diisi. Segera aku ke dapur, di meja makan sudah tersedia ikan bakar dengan sambal kecap, tumis jamur, dan capcay. ‘Hmmm kelihatannya enak sekali’ perutku semakin memberotak. Aku pun makan dengan lahap.
“Enak tidak?” Mama mengagetkanku dari belakang.
“Enak banget Ma, udah lama gak makan masakan Mama…., makasih Ma!” Mama tersenyum melihat piringku yang bersih, tak sedikit pun makanan tersisa.
“Oh iya Ma, tadi ketika kubuka jendela pemandangan yang kulihat tak seperti biasanya. Tak hijau seperti dulu,” aku mengadu pada Mama bak anak kecil.
“Oh itu sih sejak sebulan kamu berangkat juga sudah seperti itu. Memang ulah para penambang pasir yang berkuasa susah untuk dihentikan…,” perkataan ibuku terhenti. Ia mengambil piring bekas makanku dan menyucinya di washtafle, Mama melanjutkan perkataannya, “…mereka tak memikirkan dampak dari perbuatannya, orang kecil seperti kita terpaksa menjual tanah mereka karena takut tanah mereka akan longsor akibat dari penggalian pasir itu. Hanya Nenek dan Kakek Lasmi yang sampai sekarang bisa mempertahankan tanah mereka. Masih ingat gak seorang nenek dan kakek yang sering kamu kunjungi di bawah bukit saat kamu pergi ke kebun dulu?”
Aku mencoba mengingat masa laluku, “Nenek dan kakek yang sering aku mintai minum itu bukan Ma?” Mama mengangguk tanda mengiyakan perkataanku.
Aku ingat saat kecil dulu aku sering ikut Mama dan Papa ke kebun, walaupun kebunku cukup jauh dari tempat tinggal Nenek dan Kakek Lasmi tapi aku sering diantar Mama untuk minta air minum atau hanya sekedar ikut mencuci kaki di sebuah danau kecil yang tak jauh dari rumah Nenek dan Kakek Lasmi. Bahkan ketika para petani hendak menyiram tanaman, mereka menggunakan air danau itu karena jika harus pergi ke sungai jaraknya cukup jauh.
“Terus sekarang Nenek dan Kakek Lasmi dimana Ma?”
“Sebulan yang lalu Kakek Lasmi meninggal dunia, kini tinggal Nenek Lasmi yang tinggal di sana,” tutur Mamaku.
Seakan teringat mimpiku tadi. Sebuah danau kecil yang bening dan seorang kakek yang berpesan padaku dengan nada lirihnya yang masih terngiang ditelingaku.
Senja yang kini beranjak semakin larut dan sembuat jingga pun berganti menjadi hitam yang kelam. Pemandangan hijau dengan noda coklat yang luas pun telah berganti menjadi gelap, kuniatkan dalam hati bahwa esok aku akan menemuinya. Menemui alam yang merintih. Kutatap langit dari balik jendela kamar tak ada satu pun bintang yang menyapaku.
***        
Pagi-pagi sekali sudah kusiapkan bekal makan siang untukku dan Nenek Lasmi. Hari ini aku akan berkunjung menemui Nenek Lasmi. Usai beres-beres rumah, aku segera pamitan sama Mama. Dengan mengenakan celana panjang, kaos dan sebuah tas jinjing berisi makanan aku pun berangkat.
Suasana pagi yang sejuk sangat terasa dari udara segar yang kuhirup. Sepanjang perjalanan tampak padi yang menguning dan siap di panen, pohon pisang yang berumpun, dan para petani yang siap turun ke sawah. Kuturuni beberapa anak tangga yang hanya terbuat dari tanah yang dibentuk menyerupai anak tangga. Disebelah kiriku mengalir sungai, walau airnya tak sebening dulu tapi masih lebih bersih sungai di sini daripada sungai di Jakarta yang penuh dengan limbah. Setelah melalui anak tangga aku lebih memilih berjalan melewati kebun daripada pesawahan. Naik turun bukit tak membuatku lelah malah membuatku semangat, sepanjang perjalanan aku bertemu beberapa orang yang hendak memupuk tanaman mereka.
Sebuah jembatan terbuat dari besi memanjang dihadapanku. Jembatan ini menghubungkan kedua sisi dari sungai yang tadi kulihat. Tepat dibalik sebuah bukit dihadapanku Nenek Lasmi tinggal.
Tak sampai memakan waktu sepuluh menit setelah aku menyebrangi jembatan, kini aku sudah sampai didepan rumah Nenek Lasmi dan pemandangan yang mencengangkan. Hamparan tanah gersang membentang dihadapanku, tepat dibalik rumah kayu milik Nenek Lasmi. Tak ada tumbuhan satupun. Sangat memprihatikan, dikala pemerintah sedang gencar-gencarnya mencanangkan gerakan seribu pohon tapi tanah gersang tak berpenghuni di hadapanku menjerit kesakitan.
“Tok tok tok…” terdengar bunyi ketukan tanganku yang beradu dengan pintu kayu. Kuamati rumah yang sederhana itu, semuanya terbuat dari kayu. Kursi dan meja kayu tertata di teras rumah. Sangat tradisional. Beberapa tanaman obat tumbuh dipekarangan rumah yang berpagar bambu. Di samping rumah sebelah kiri tampak pohon rambutan yang belum berbuah, dan disebelah kanan ditumbuhi tanaman palawija, sepetak sawah dan pohon mangga. Tampak jalan setapak yang beralur rapi, ‘jalan setapak itulah yang mengantarkan menuju danau kecil itu’ batinku. Dan di belakang rumah ini disanalah tanah gersang itu bersemayam.
Lama kutunggu belum ada jawaban. Sekali lagi aku mengetuk pintu. Seseorang yang rapuh menyambutku dibalik pintu. Raut mukanya tampak bingung menyambut kedatanganku.
“Maap, Neng ini siapa ya?” tanyanya.
“Hmmm…, aku Melati Nek. Anaknya Pak Hasan,” sedikit kujelaskan dengan menyebutkan nama ayahku kuharap beliau ingat.
“Oh…, Hasan yang punya kebun di sebelah timur sana,” ingatnya sembari menunjuk ke sebelah kiri.
“Iya Nek….”
“Kalau begitu silahkan masuk dulu, maap Neng rumah nenek berantakan. Maklum jarang-jarang ada tamu yang berkunjung ke rumah nenek. Ya selain ayah dan ibu kamu….,” mukanya tampak sedih. Ia pun melanjutkan, “Neng Mel tunggu dulu sebentar Nenek buatkan minum dulu ya…”
“Tak perlu repot-repot Nek,….” cegahku, “Mel kesini cuma ingin main dan melihat-lihat pemandangan. Lagi pula Mel bawa makanan, tadi Mama membuatkan ini untuk Nenek,” kataku sembari memperlihatkan tas jinjingku.
“Wah jadi ngerepotin Neng Mel.”
“Oh tidak kok Nek, lagian Mel seneng jalan-jalan ke sini sekalian olahraga.”
Kami pun terhanyut dalam perbincangan ringan. Nenek Lasmi menceritakan semua yang terjadi di tanah tandus itu. “Semuanya berawal ketika Sanu membuka lahannya untuk penambangan pasir…,” yang kuingat Pak Sanu adalah salah satu orang kaya di kampung kami ia memiliki kekuasaan di desa kami, Nek Lasmi melanjutkan perkataannya, “…hanya  dalam beberapa hari lahannya yang berada tepat dibalik rumah nenek itu habis dikeruk….,” aku masih ingat dulu dibelakang rumah Nenek Lasmi bukan dataran rendah seperti sekarang namun sebuah tebing yang di atasnya penuh dengan pohon mangga. Pohon mangga itulah yang menjadi sumber mata pencaharian para penduduk di sini. “Setelah lahannya habis ia membeli tanah milik para petani untuk dijadikan penambangan pasir. Para petani itu terpaksa menjual tanahnya, mereka takut tanahnya terkena longsor. Sekarang dataran tinggi yang menjulang disulap menjadi hamparan tanah kosong yang gersang. Yang tertinggal bongkahan batu dan tanah tandus tak berpenghuni. Tak ada yang peduli yang mereka pikirkan adalah pundi-pundi uang yang masuk ke kantong mereka. Tapi nenek sangat bersyukur, ayah Nak Mel dan para petani lainnya yang tak tergoda untuk menjual tanah mereka sehingga proyek nakal itu bisa terhenti,” ia pun menghentikan perkatananya diiringi hembusan nafas panjang.
Mendengar semua cerita Nek Lasmi aku sangat miris melihat kenyataan yang terjadi. Mereka yang melakukan hal ini adalah orang-orang yang berpengetahuan dan mengeyam bangku pendidikan, tapi perbuatan mereka seperti orang tak berpendidikan. Uang telah membutakan mata hati mereka, tanpa memikirkan kehidupan rakyat kecil yang bergantung pada sepetak lahan.
Seusai perbincanganku di rumah Nek Lasmi, aku dan Nek Lasmi melihat-lihat kebun palawija milik Nek Lasmi. Semua tanaman tertata rapi walaupun lahan itu tak luas tapi berbagai macam tanaman dapat tumbuh subur. Kami pun terus berjalan menelusuri jalan setapak. Tak jauh dari tanaman palawija ada sebuah makam, aku meyakini bahwa makam itu adalah makam Kakek Lasmi. Kami berhenti sebentar dan terlihat Nek Lasmi memandangi makam itu dengan penuh kerinduan. Sejenak kami memanjatkan do’a di sana. Nenek lasmi pun menuntunku ke sebuah danau kecil tak jauh dari makam itu. Danau yang bersih dengan batuan yang halus mengelilingi danau itu. Beberapa pancuran mengisi danau itu, sama seperti dalam mimpiku. Yang berbeda hanyalah air yang bersih tak sebening dalam mimpiku, dan tumbuhan yang berdiri tak sehijau dalam bayanganku. Kulihat burung kecil sedang melepas dahaganya, sejenak ia menoleh ke arahku tampakanya ia tersenyum melihat kedatanganku. Aku tersadar inilah pesan yang ingin disampaikan Kakek Lasmi padaku, ia ingin aku menjaga habitat mereka. Burung-burung, tumbuhan dan semua yang hidup di alam ini perlu dilestarikan. Dalam hati aku berjanji pada diriku untuk untuk mengembalikan tanah yang gersang itu hijau seperti dulu agar alam pun berhenti merintih.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar